Hidup, Menulis Buku Kehidupan, dan Akhir Cerita Kita

  • Bagikan

Oleh Dr Budi Santoso
(Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)

Menutup buku adalah istilah yang dipergunakan untuk menghitung berapa keuntungan atau ketekoran yang diderita sebuah perusahaan. Ada kegembiraan, kesedihan bahkan kemarahan terhadap hasil yang dicapai.

Kita membaca buku memburu halaman terakhir, karena ingin tahu apa yang akan terjadi di ujung cerita sang penulisnya. Membaca kitab suci juga dikejar dan dianjurkan sampai tamat.

Membaca halaman terakhir, kita dapat menyimpulkan apa yang diceritakan dalam kitab itu. Meskipun kadang, ketika membaca buku sering kita sudah dapat menangkap intisari atau menarik kesimpulan ceritanya setelah membaca separuh buku, hal ini karena malas meneruskan membacanya, atau ceritanya mudah diterka.

Orang bijak sering mengatakan bahwa kita hidup bak sebuah buku. Kita yang menulis halaman demi halaman kehidupann kita, lembar demi lembar kehidupan. Rupanya kita dan semua manusia juga berbakat menulis tentang kehidupan. Masalahnya apakah kehidupan kita banyak ragamnya yang “menarik” atau mendatar saja.

Usia kita separuhnya dipergunakan untuk tidur. Dan sisanya untuk “petakilan” dengan berbagai aktivitas.

Pembaca buku kehidupan kita adalah kerabat yang masih hidup, yang mengantarkan kita ke pemakaman kita. Mereka yang tahu akhir cerita hidup kita. Sedangkan kita yang menjalaninya, sebagai aktor dan penulis kehidupan, tidak tahu akhir cerita hidup kita menjadi orang bermartabat, bejat, atau bermanfaat.

Kita telusuri hidup kita hari ini untuk menulis buku kehidupan kita. Dan kita tidak tahu halaman terakhir buku kehidupan kita, karena kita tidak sempat membacanya.

Saya memulai pagi ini, dengan kebiasaan baru, menulis di media sosial. Mungkin akan menjadi pengisi halaman buku kehidupan saya. Tidak semua pembaca buku kehidupan kita suka, ada yang sebal dan malah “gedek”. Membuat pagi yang sejuk menjadi membara. Saya juga tidak tahu, mengapa?

Kita tidak tahu cerita akhir yang akan kita tulis dalam kehidupan ini. Kita masih hidup dan cerita belum berakhir. Ada kesempatan yang diberikan Tuhan.
Tinggal kita pilih, cerita apa yang akan kita pilih sebagai penutup halaman terakhir kita.

Secangkir kopi pagi, mudah-mudahan dapat mencairkan gumpalan keinginan di kepala, menjadi sesuatu yang bermanfaat. Semoga kita selalu dalam kebaikan mengisi halaman terkahir kehidupan kita, sebelum menulis kata TAMAT atau THE END.

  • Bagikan