Pojok  

Loyalitas, Kehormatan dan Asisten Rumah Tangga Kita

Oleh Dr. Budi Santoso
Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

 

Loyalitas, apakah masih ada?

Saya membayangkan dahulu ada seorang asisten rumah tangga, Mbok Tumpuk namanya. Beliau bekerja dengan nenek saya, mengasuh generasi ayah saya, kemudian generasi saya sampai akhir hayatnya.

Ada juga abdi dalam keraton yang mengabdi dengan bayaran apa adanya dan banyak para loyalis atau saya sebut sebagai orang yang setia, seperti orang yang rela menyerahkan jiwa raganya untuk sang “majikan”.

Kesetiaan adalah kebanggaan dan kehormatan, kata ksatria Samurai, atau seorang abdi dalem Keraton. Jadi setia itu membanggakan, bukan sebuah “ketololan”.

Saya tidak tahu Anda berpendapat apa dengan kesetiaan. Karena kita selalu senang terhadap orang yang setia kepada kita dengan segala pengorbanannya, namun kita sering setengah hati untuk berbuat serupa.

Baca Juga:  Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung Lakukan Pendampingan UMKM

Sekarang asisten rumah tangga sudah seperti profesional kelas MBA, senggol pergi, tersinggung terus pergi, ada yang tidak berkenan terus minta keluar. Apalagi ada yang menawarkan gaji lebih.

Bicara perputaran pegawai atau keinginan keluar atau bahasa kerennya Turn Over Intention, atau Intention to Quit di kalangan asisten rumah tangga (ART) sangat tinggi sekali. Mereka banyak yang hanya bertahan paling lama tiga bulan pada satu majikan. Mereka “berpetualang” dari satu majikan ke majikan lainnya.

Apa yang mereka cari? Karena gaji yang diterima relatif sama, meski beda majikan.

Katanya orang bekerja bukan mencari gaji, ada faktor yang lain. Mungkin ada keinginan lain yang tidak dapat diberikan oleh majikan, sehingga ART selalu berkeinginan keluar.

Baca Juga:  Evita Chu, Small is Beautiful, dan UKM di Negeri Kita

Ada keinginan yang mungkin jarang majikan di Indonesia mampu memenuhinya. Sepeti memberikan hari libur dan hari “kebebasan”. Menikmati hidup sebagai “orang bebas” meski seminggu sekali.

Di Hongkong, setiap hari Minggu para pekerja migran yang bekerja sebagai ART berkumpul di sebuah taman di tengah kota, Victoria Park. Pada hari itu mereka, bebas berinteraksi dengan teman senasib, dapat curhat atau sharing masalah. Dan juga bebas berekspresi.

Jarang ada majikan di Indonesia, setiap minggu membiarkan AR-Tnya bebas berdandan, apalagi bak artis sinetron dan jalan-jalan, mejeng atau pacaran. Saya tidak tahu kenapa? Apakah majikan takut bersaing dengan ART? Atau apa?

Katanya, urusan ART itu harus ada chemistry antara majikan (nyonya dan tuan) dan ART. Dan saya tidak tahu chemistry macam apa yang diinginkan? (*)

Baca Juga:  Pojok: Selebrasi Sederhana Kante