Shalat Tuntutan Suara Hati

  • Bagikan

Oleh  Ratna Juwita, MPd

(Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 6 Sukabumi/ Alumnus Magister Pendidikan STAI Sukabumi)

Shalat ialah perkataan dan perbuatan yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan Salam. Betapa pentingnya kedudukan Shalat dalam kehidupan, sehingga seringkali disebutkan dalam Al-Qur’an dan sering dikaitkan dengan para Nabi terdahulu. Misalnya, sikap Nabi Ismail AS yang menyeru keluarganya untuk mendirikan shalat.

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa” (QS Thaha: 132).

Orang yang shalat dengan benar akan mampu mengenal kembali siapa dirinya dan suara hatinya. Dengan kata lain, orang yang mendirikan shalat dengan benar akan dapat memahami apa sesungguhnya tujuan manusia itu diciptakan di dunia ini, yakni beribadah kepada Allah SWT.

Pemahaman tentang Shalat akan menimbulkan kesadaran bahwa shalat adalah tuntutan suara hati dan bukan untuk Tuhan, namun untuk kepentingan manusia itu sendiri. Oleh karena itu, mulai dari diri sendiri dan serulah keluarga (anak keturunan) sebagai amanah dari Allah SWT.

Berikut sebuah kisah yang bisa dijadikan ibrah:

Seorang ayah kembali ke rumahnya setelah shalat berjamaah Isya di masjid. Dia melihat anak-anaknya terlelap tidur. Lalu ia bertanya kepada istrinya, “ Wahai istriku, apakah anak-anak telah menunaikan Shalat?”

“Wahai suamiku, mereka tertidur karena menahan lapar dan jika engkau bangunkan mereka, maka mereka akan kelaparan dan kita tidak memiliki makanan,” jawab sang istri.

Lalu sang ayah berkata, “Wahai istriku, Allah telah memerintahkan aku agar memerintahkan mereka Shalat. Adapun rezeki bukan urusanku. Bangunkanlah mereka, maka Allah SWT akan memberi mereka rezeki.”

Sang ibu pun menaati perintah suaminya itu. Lalu membangunkan anak-anaknya. Setelah mereka selesai menunaikan Shalat, terdengar suara pintu diketuk. Sang ayah mendapati tamu dengan membawa nampan yang penuh dengan makanan.

Tamu itupun berkata, “Ambilah ini untuk keluargamu! Demi Allah, datang kepadaku salah seorang terpandang di daerah ini, aku sediakan jamuan untuknya. Namun, sebelum dia makan kami sempat berdebat hingga diapun bersumpah tidak akan menyentuh makanan yang telah dihidangkan. Lalu iapun pergi dari rumahku. Kemudian aku membawa makanan ini seolah berjanji pada diri sendiri ‘Aku akan memberikan makanan ini kepada seseorang di mana kakiku melangkah kepadanya dengan izin Allah SWT’.”

Sang tamu pun kembali berkata, “Dan, Demi Allah, tidaklah aku diam kecuali di depan pintu rumahmu dan aku tidak tahu mengapa aku datang kepadamu.”

Sang ayahpun bersyukur dan berdoa seraya menengadahkan tangan, “Ya Allah, Ya Robb jadikanlah aku orang yang mendirikan Shalat, begitupula anak keturunanku. Aamiin.”

Mari, kita ajak keluarga kita untuk mendirikan Shalat sebagai metode mendekatkan diri kepada Sang Khaliq, agar jiwa kita selalu tentram.

  • Bagikan