Ibrah  

Bukankah Dosa?

 

Oleh Ratna Juwita MPd
(Magister Pendidikan STAI Sukabumi)

Bukankah dosa dan maksiat yang menjadi sebab dikeluarkannya Adam dan Hawa dari Surga penuh kenikmatan dan keindahan menuju Bumi penuh penderitaan, kesedihan, dan musibah?

Bukankah dosa yang telah yang menjadikan iblis terusir dan terlaknat dari kerajaan Langit? Bukankah dosa yang telah menenggelamkan makhluk bumi?

Bukankah dosa yang telah membuat Allah SWT mengirimkan angin kepada kaum ‘Ad hingga mayat-mayat mereka bertebaran laksana tunggul-tunggul pepohonan yang lapuk?

Bukankah dosa yang menyebabkan terkirimnya suara menggelegar kepada kaum Tsamud hingga memotong jantung-jantung dalam rongga tubuh mereka? Bukankah dosa yang menyebabkan terangkatnya desa kaum Nabi Luth AS, sehingga terbalik dan binasa?

Bukankah dosa yang menyebabkan hujan api yang menyala-nyala dari awan azab kepada kaum Syu’aib?

Bukankah Dosa yang menyebabkan tenggelamnya Fir’aun dan kaumnya dalam lautan dan roh-roh mereka terbakar di neraka jahanam?

Bukankah dosa yang menyebabkan terbenamnya Qarun beserta hartanya?

Baca Juga:  Tips Menyambut Ramadhan Nan Suci di Masa Pandemi

Bukankah dosa yang menyebabkan Bani Israil ditimpa berbagai macam hukuman?

Bukankah dosa yang menyebabkan Tsunami, banjir,Longsor dan wabah yang merebak di bumi ini?

Sungguh beruntung orang yang mensucikan jiwanya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya (QS Asy Syamms :9/10). Dosa adalah sesuatu yang mengotori jiwa kita. Banyak istilah yang dipergunakan Allah SWT dalam Al Quran untuk menyebutkan kata kata dosa yaitu dzanbun, itsmun, al-ma’siyah dal al jarimah.

Al Quran menyebutkan dengan istilah dzanbun artinya ekor, dampak atau akibat, oleh karena itu kalau dikaji secara psikologis atau medis, maka setiap dosa yang kita lakukan akan berdampak buruk pada fisik dan psikis manusia.

Dosa memutuskan hubungan silaturahmi (Kegagalan hubungan interpersonal) adalah sebab timbulnya stres. Dan stres adalah awal dari munculnya berbagai penyakit yang mematikan.

Merujuk pada dalil-dalil Al Quran dan sunnah dilihat dari berat dan tidaknya pelanggaran, maka dosa terbagi menjadi dua yakni dosa besar dan dosa kecil (Al Kabir dan As Shogir). Isyarat ini seperti termuat dalam QS An Nisa ayat 31 “Jika kamu menjauhu dosa dosa besar yang kamu dilarang mengerjakannya,niscaya kami akan menghapus kesalahan-kesalahanmu (Dosa Kecil) dan kami masukan kamu ketempat yang Mulia.”

Baca Juga:  Belajar Agama Penuh Cinta, Kasih, dan Sayang

Meskipun ada ulama yang berpendapat seperti Syekh at Thobarsi bahwa semua dosa adalah “Al Kabiir”, sebab mempunyai ciri yang sama yaitu tidak melaksanakan perintah Allah SWT atau mengerjakan apa yang dilarang oleh Allah SWT. Wallahu’alam.

Pada suatu hari datanglah seorang wanita dengan berjalan terhuyung menemui Nabi Musa AS. Air matanya mengalir deras tatkala ia berkata, “Wahai Nabi Allah, tolong saya, doakan agar Allah mengampuni dosa keji saya.”

“Apa dosamu? Ceritakan jangan ragu,” bujuk Nabi Musa. Maka perempuan itupun dengan ketakutan bercerita, “Saya, telah Berzina! dari perzinaan itu saya hamil dan melahirkan lantas saya cekik bayi itu sampai mati,” ucap perempuan itu dengan menangis sejadi-jadinya.

Baca Juga:  Dimensi Akhlak Mulia dalam Shalat

Kepala Nabi Musa terangkat, mata berapi-api, dengan muka berang berkata, “Perempuan celaka, pergi kamu dari sini! agar murka Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatan kejimu.”

Perempuan itupun beranjak pergi dengan ratap tangis yang sangat memilukan. Ia tak tahu harus kemana melangkah. Bila seorang Nabipun sudah menolak, bagaimana manusia lain bakal menerimanya?

Turunlah Malaikat Jibril kepada Nabi Musa, “Mengapa Engkau menolak seorang wanita yang hendak bertobat dari dosanya? Tahukah engkau dosa yang lebih besar daripadanya?”

“Dosa apakah yang lebih besar dari perempuan penzina dan pembunuh itu?” tanya Musa dengan penuh rasa ingin tahu.

Jibril menjawab, ”Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Ddosanya lebih besar daripada seribu kali berzina.”

Mendengar penjelasan itu, Nabi Musa kemudian memanggil perempuan itu dan dengan khusyuk memohonkan ampun atas dosa yang telah diperbuatnya.

Nah, semoga kita selalu istiqamah melaksanakan kewajiban shalat dan terhindar dari dosa. Aamiin.