Ibrah  

Mengenal 3 Karakter Kesalehan Hamba Allah yang Baik

KABARINDAH.COM — Orang saleh, berakhlak karimah, hasanah, hajinya mabrur dan orang bertakwa adalah hanya berbeda dalam kata. Adapun hakikat maknanya sama bahwa mereka adalah hamba Allah yang baik.

Tiga karakteristik hamba Allah yang baik itu ialah: Pertama, ia sangat cinta kepada Allah (QS Al-Baqarah [2] : 165), dan itu dibuktikan dengan semangat ketaatan yang luar biasa pada Sang Khalik (QS Al-Ankabut [29]:69), serta ikhlas berjuang di jalan-Nya bahkan berkorban demi Kekasih-Nya (QS Al-Anfal [8]: 72). Jika seorang hamba melakukan karakteristik pertama ini, sungguh indah, apa yang ia wakafkan tidak hanya hartanya, tetapi jiwa raganya pun ia wakafkan untuk mencuri hati Kekasih-Nya (QS Al-Baqarah [2]: 207).

Baca Juga:  Kisah Menyentuh Hati: Sahabatan Karena Allah

Ia bukan hanya penggemar, melainkan penikmat tahajud (QS Al-Muzzammil [73]: 6). Yang pasti, kita gampang menjumpai hamba yang saleh ini karena setiap shalat fardhu dilakukan, terutama Subuh, ia ”gantung hatinya” di masjid (QS At-Taubah [9]: 18). Ia pun ”penjaga wudhu” yang apik dan setia. Karena itulah ia disayang oleh Allah SWT (QS Al-Baqarah [2]: 222).

Kedua, hamba ini memiliki satu kesenangan unik: selalu gemar berbuat baik. Ia hanya bahagia bila sudah berbuat baik. Itulah cinta sejati, the true love is pleasure of giving. Sifat dominan ilahiah, Ar-Rahman dan Ar-Rahim ada pada dirinya. Misi hidupnya jelas, hanya ”sharing” berkah. Setelah menerima lalu ia akan mengasih, demikian seterusnya. Itulah makna ”terima kasih” (QS Ad-Dhuha [93]: 11).

Baca Juga:  5 Pesan Habib Luthfi Agar Umat Islam Terhindar dari Fitnah Zaman, Salah Satunya Bacalah Alquran dan Shalawat

Dia akan selalu sukses di dunia dan di akhirat karena sudah memiliki ”kunci sukses” yaitu ”belas kasih” (QS At-Taghabun [64]: 16). ”Sungguh Allah akan menolong seorang hamba selama hamba itu menolong hamba yang lain,” demikian sabda Rasulullah SAW.

Ketiga, dia sangat sibuk memperbaiki dirinya (QS Al-Hasyr [59]: 18). Ia sama sekali tidak tertarik mencari kekurangan apalagi aib orang lain (QS Al-Hujurat [49]: 12). Istigfar adalah amalannya, hatinya sangat halus, firasatnya tajam. Insting rahmatnya kuat, dan air matanya pun gampang menetes (QS Al-Isra [17]: 109).

Rasulullah SAW bersabda, ”Tidaklah aku bangun dari tempat dudukku kecuali aku beristigfar 70 sampai dengan 100 kali.” Subhanallah, ternyata orang yang sangat mencintai Allah itu sesungguhnya merasakan nikmat dalam ”ketaatan”. Ia gemar berbuat baik dan ia pun asyik memperbaiki dirinya sendiri.

Baca Juga:  Implikasi Bank ASI dalam Islam

sumber: KH M Arifin Ilham ( HARIAN REPUBLIKA)