Kabar  

Nataru Sebentar Lagi! Harga Cabai, Telur dan Minyak Goreng di Pantura Melonjak Drastis!

Aktifitas jual beli di sebuah kios yang menjual bahan pokok di Pasar Tradisional Santa, Kebayoran Baru, Rabu (18/7). Menjelang datangnya Ramadan, harga sembako di Jabodetabek mulai merangkak naik. Telur, gula, minyak, beras, ayam potong, daging dan bermacam sayur mayur semua mengalami kenaikan. MI/ATET DWI PRAMADIA

KABARINDAH.COM – Harga beberapa kebutuhan pokok mulai naik di beberapa daerah di pantura Jawa Tengah, jelang Natal dan tahun baru (Nataru). Harga cabai, minyak goreng, dan telur ayam ras semakin tidak terkendali.

Harga beberapa kebutuhan pokok semakin tidak terkendali di pasar tradisional beberapa daerah di pantura seperti Pekalongan, Batang, Kendal, Semarang, Demak, Kudu, Jepar, Pati dan Rembang. Bahkan lonjakan harga bisa mencapai 50% dibanding sebelumnya.

“Sebelum ini harga minyak goreng kualitas sedang masih Rp130 ribu per katon, tapi sekarang Rp225 ribu-Rp250 ribu per karton,” kata pedagang di Pasar Johar Semarang, Suamah, 56, Selasa, 21 Desember 2021.

Lonjakan paling terasa terjadi pada cabai mencapai Rp80 ribu per kilogram naik dibanding sepekan sebelumnya yang masih berkisar Rp50 ribu per kilogram.

Baca Juga:  Forkopimda Sukabumi Izinkan Pelaksanaan PTM Terbatas Mulai Selasa Besok

Telur ayam ras mengalami lonjakan cukup besar, diperkirakan hal ini terjadi karena meningkatnya kebutuhan jelang Nataru untuk membuat kue. Sepekan sebelum harga telur masih berkisar Rp20 ribu per kilogram namun saat ini naik menjadi Rp26 ribu per kilogram.

Harga minyak goreng, meskipun sudah ditentukan harga eceran tertinggi (HET) kemasan sederhana Rp11 ribu per liter, namun di pasar harga mencapai Rp19 ribu per liter.

Sementara Kepala Bidang Perdagangan Dinas Industeri Perdagangan Koperasi dan UMKM Kabupaten Rembang, Tri Handayani, mengatakan pihaknya telah menurunkan petugas untuk lakukan monitor setiap hari terutama menghadapi perayaan Nataru ini, ketersediaan berbagai kebutuhan pokok di pasar masih mencukupi.

Baca Juga:  Eka Tjipta Raja Minyak Goreng, Kekayaannya Melambung Gegara Bimoli

Namun karena masa pandemi ini tidak dapat lakukan operasi pasar saat terjadi lonjakan harga, hal ini selain adanya refokusing anggaran untuk covid-19 juga menghindari terjadi kerumunan.

“Sebelum pandemi kita antisipasi lonjakan dengan operasi pasar, tetapi sekarang tidak bisa,” ungkapnya.