Ahmad Ibn Hanbal, Imam Madzhab yang Cerdas, Shaleh dan Dekat dengan Allah

  • Bagikan

KABARINDAH.COM – Imam Ahmad Ibn Hanbal ialah salah satu dari imam yang banyak dijadikan rujukan dalam menetapkan hukum Islam. Ia adalah murid kesayangan Imam Syafi’i yang sangat cerdas, shaleh dan rajin beribadah kepada Allah. Ia juga memiliki kebersihan niat, keteguhan mencintai-Nya dan sangat diagung-agungkan oleh warga karena kemuliaan akhlaq-nya.

Saking tak mau terjebak pada sikap riya, suatu hari dia pernah berkata, “Aku akan pergi dari daerah sini agar tidak ada yang mengenaliku dan menyembahku. Karena aku takut setelah kematianku, umat akan menjadikanku sebagai tandingan Allah.”

Ada beberapa kisah hidup Imam Ahmad yang bisa kita teladani dalam keteguhan kesalehan dan bagaimana kecintaannya pada Allah. Kisah-kisah tersebut saya kutip dari Majalah Tarbawi, Edisi 68 Th. 5/Rajab 1424 H atau 18 September 2003, berjudul Bercermin pada Imam Ahmad, halaman 68-69.

Pertama, beliau ialah orang yang teguh memegang niat.

Suatu ketika, ia bersama muridnya, Yahya bin Main, pergi dari Iraq ke Yaman untuk menemui Abdur Razaq. Maksud kepergiannya ke Yaman untuk mengambil riwayat hadits yang tersambung kepada Abdur Razaq. Namun, ketika sampai di Mekkah, Yahya melihat Abdur Razaq sedang beribadah di Baitullah.

Yahya pun berkata kepada Imam Ahmad. “Ya..Syeikh kita tanyakan saja kepada Abdur Razaq sekarang, daripada pergi ke Yaman.”

Tanpa disangka, tanpa diduga sang Imam menjawab, “Aku telah melangkahkan kaki dari Baghdad dengan niat menuju rumah Abdur Razaq bin Hamam di Yaman untuk menambah pahala dari Allah Swt. Aku tidak akan merubah niatku ini.”

Kedua, beliau juga orang yang selalu haus ilmu.

Ahmad bin Hambal juga seorang hamba yang haus akan ilmu, dan selalu menulis hadits yang diamalkannya terlebih dulu. Ia rela mewaqafkan hartanya untuk kepentingan ilmu pengetahuan. Seperti yang pernah dialaminya ketika akan berguru kepada seorang Syeikh tapi kehabisan uang di jalan. Ia tidak menghentikan upaya pencarian ilmu itu.

Dengan sekuat tenaga ia rela menjadi kuli di pasar untuk mengumpulkan bekal. Setelah uang terkumpul, ia pun melanjutkan perjalanan menuntut ilmunya itu.

Ketiga, selain rajin beribadah, beliau juga orangnya zuhud.

Murid Imam Syafi’i ini juga memandang cinta terhadap harta sah-sah saja. Tapi harus proporsional, seperti yang pernah dikatakannya, “ zuhud adalah tidak senang menerima dunia dan tidak sedih apabila meninggalkan dunia”. Artinya ketika kita mendapatkan uang sebesar seribu dirham, misalnya, tidak terlalu bahagia menerimanya dan tidak sedih jika harta itu berkurang.

Dari beberapa gambaran pribadi Imam Ahmad, kita bisa menyimpulkan bahwa ketika dalam diri terhunjam cinta pada Allah, kita akan menjadi orang yang konsisten. Kekonsistenan di dalam diri adalah bentuk dari mencintai sesuatu hal, yakni untuk menjaga kepercayaan yang dicintainya.

Dalam kasus Imam Ahmad, dia mengharapkan bahwa dengan konsisten menjaga niatnya akan mengantarkan dirinya dicintai Allah. Cinta dalam pandangan Imam Ahmad mewujud menjadi ketaatan terhadap yang dicintainya, Allah Swt. yang Mahapengasih. Sebab, dia yakin bahwa dalam mewujudkan tujuan hidup, langkah pertama ialah menanamkan rasa cinta. Sebelum dicintai Allah, kita harus mencintai-Nya sepenuh hati dan jiwa terlebih dahulu.
Allah Swt. berfirman, “Dan mohonlah ampun kepada Allahmu kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Allahku Mahapenyayang lagi Mahapencinta” (QS. Huud: 90).

Pengagungan Nabi Syu’aib as kepada Allah dalam ayat tersebut, dengan menyebutnya sebagai al-Waduud merupakan bentuk dari rasa kagumnya kepada sang Pencipta alam raya, Allah Swt. Cinta Ahmad Ibn Hanbal mengejawantah dalam sikap dan tindakan hidupnya. Segala aktivitas beliau selalu diarahkan untuk memperoleh ridha-Nya. Tidak ada tujuan lain selain untuk mendapatkan cinta Allah yang sangat indah untuk dikenang dan teramat nikmat dirasakan.

Prof. Quraish Shihab, menerjemahkan kata al-Waduud dengan dua arti. Pertama, al-waduud sebagai objek dan Kedua, al-waduud sebagai subjek. Kalau sebagai objek, makna al-Waduud adalah mencintai dan mengasihi. Sedangkan sebagai subjek, al-Waduud adalah yang dicintai.

Allah Swt. ketika meletakkan sifat al-Waduud dalam ayat-ayat al-Quran merupakan petanda bahwa Dia harus dicintai dan akan membalas mencintai hamba-Nya. Cinta-Nya kepada hamba tidak akan terhitung jumlah dan kadarnya. Inilah wujud cinta Allah mesti kita peroleh dengan cara mencintai-Nya terlebih dahulu.

Karenanya, perlu diingat bahwa ketika segala aktivitas dilandaskan pada Allah, itu akan memengaruhi sikap dan tindakan ke arah yang lebih suci. Alhasil, hubungan kita dengan keluarga, harta, jabatan dan lingkungan tidak akan berbentuk dominasi eksploitatif. Namun, berbentuk hubungan yang saling menentramkan sebagai aktualisasi dari sifat al-Waduud.

Artinya, kita harus bisa mencintai dan menjadi orang yang pantas untuk dicintai dengan menampakkan perilaku yang jujur, konsisten, amanah, dan tidak terjajah oleh sesuatu yang bersifat material. Sebab, banyak terjadi hubungan antar sesama manusia diakhiri dengan permusuhan ketika niat awalnya diorientasikan pada kekayaan dan jabatan semata.

Setelah orang itu tidak memiliki apa-apa, maka ia akan ditinggalkan dalam penderitaan. Cinta hamba kepada Allah tidak boleh berbentuk seperti itu. Sebab, sampai mati pun, kita akan terus membutuhkan cinta Allah Swt., tanpa kecuali. Seandainya cinta Allah tidak kita peroleh dalam kehidupan ini, sia-sia rasanya menggunanakan nafas kehidupan ini.

Akan tetapi, saya yakin bahwa Allah akan tetap mencintai hamba-Nya meskipun telah berkubang dengan sejuta dosa dan salah. Ingat bahwa Allah adalah sang pencipta alam raya yang Mahapengampun lagi Mahamencintai. Jadi, wajib dong sebagai hamba-Nya kita mencintai Allah dengan kepasrahan penuh menaati tata-aturan-Nya di muka bumi.

Maka dengan menjalankan segala perintah dan menjauhi larangan-Nya, posisinya sama dengan perilaku pecinta yang merasa kagum kepada yang dicintainya. Bukankah ketika kita tidak ingin menyakiti hati seseorang yang dicintai, acapkali mengabulkan apa yang dimintanya?

  • Bagikan