Pojok  

Pak Ogah, Pedagang Asongan, dan Harapan Masa Depan

 

Oleh Dr Budi Santoso
(Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)

Pak Ogah menadahkan topinya, setelah menunaikan jasanya membuat ruang agar kendaraan saya dapat memutar atau menyeberang. Uang logam seribu rupiah, saya berikan padanya. Dan, Pak Ogah mengucapkan terima kasih.

Hal yang sama saya lakukan ketika membeli salak di pinggir jalan, harga 5 ribu rupiah per paket. Mungkin, untungnya hanya seribu rupiah. Proses panjang harus dilalui pengasongnya.

Mereka harus memiliki modal untuk membeli salak, membungkusnya, dan menjajakannya. Mengantarkan dagangannya ke pintu mobil pembeli dan mengucapkan terima kasih dengan penuh khidmat atas pembayaran yang diterimanya. Hasilnya, mendapat laba sekitar seribu rupiah. Proses panjang pengasong untuk memperoleh uang seribu rupiah. Persis hasilnya dengan Pak Ogah.

Baca Juga:  Kalau Kita Berharap, Bersiaplah Kecewa

Ada dua cara memperoleh uang seribu rupiah. Yang satu dengan usaha pendek, bermodal peluit dan tenaga seperti pa Ogah. Dan yang kedua pedagang salak atau pengasong lainnya yang harus bersusah payah dan memakai modal uang dan kerja keras untuk bisnisnya. Jalan mana yang paling mudah?

Bagi orang tertentu dengan keterbatasannya, dia akan memilih jalan kerja Pak Ogah. Mungkin itulah jalan mudah yang dapat dia lakukan. Namun sebagian besar lainnya, akan memilih jadi pengasong.

Meskipun menjadi pengasong butuh usaha keras, namun memiliki harapan masa depan. Ada harapan usahanya membesar. Jangan dilihat keadaanya sekarang, namun ada masa depan. Menjadi pengasong lebih ada prospek ketimbang menjadi Pak Ogah.

Baca Juga:  Pandemi, Lost Civilization, dan Nasib Generasi Penerus Kita

Namun banyak dari kita hanya berpikir pendek, asal dapat uang cepat, meskipun hanya sesaat atau susah maju. Urusan masa depan diabaikan.

Dalam kehidupan juga menyediakan berbagai cara untuk hidup, masing-masing ada konsekuensinya. Orang lebih suka yang ada harapan. Konon katanya harapan menjadikan orang akan memiliki semangat hidup.

Harapan seperti setitik cahaya yang akan mengantar Anda keluar dari lorong yang gelap. Tentunya kalau sabar dan berusaha.

Sambil menulis status ini, saya menikmati salak Pondoh yang saya beli sebungkus 5 ribu rupiah berisi 10 butir. Dan saya bayangkan bagaimana susahnya petani menanam, memupuk, merawat, butuh waktu tenaga dan dana, menempuh perjalanan panjang ke tangan konsumen, harga di eceran hanya 500 rupiah per butir.

Baca Juga:  Kolaborasi, Design Thinking, HOTs dan Hidup Makin Menyala

Sayapun harus mengaca diri bersyukur. Alhamdulillah, mendapat salak murah. Atau iba atas perjuangan mata rantai salak dari Sleman ke Jakarta, yang dijual dengan harga 500 rupiah per butir.