Pojok  

Anak Orang Kaya Vs Anak Orang Miskin

Oleh Dr. Budi Santoso
(Dosen Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta)

Orang kaya merasa berhak mendapatkan sesuatu, itu yang terlihat di sekolah-sekolah. Ketika anaknya tidak masuk ranking, ortunya pasti datang, menanyakan kepada gurunya.

Ketika anaknya tidak masuk tim basket sekolah, ortunya sibuk “meloby” guru untuk dapat menempatkan anaknya dalam tim sekolah. Masih banyak berbagai kelakuan ortu kelas menengah atas, yang seperti mengatakan, saya mempunyai hak untuk menempatkan anak saya di tempat yang terbaik yang saya mau.

Anak hidup dalam kondisi ortu bergaya parenting Centered Cultivation, seperti yang dikemukakan Annete Lareau.

Bagi keluarga miskin sangat berbeda perlakuan kepada anak-anaknya, sering ortu miskin hanya menunduk pasrah terhadap nasib anaknya, hanya doa yang dipanjatkan.

Baca Juga:  Pendidikan, Karier, dan Nasib Alumni Cum Laude Vs Alumni Biasa-Biasa Saja

Berjuta anak pandai dan berbakat, tenggelam karena ortu tidak dapat berperan menjadi “pengarah” atau melakukan pembiaran.

Apabila anak miskin mampu sukses, merupakan usaha murni dari sang anak, sehingga menemukan seseorang yang dapat “memoles” dirinya. Dan juga doa ortu, yang terdengar oleh sang anak, sehingga mendorong semangatnya.

Bagi ortu yang memiliki anak biasa-biasa saja, atau bahkan memiliki kebutuhan khusus, tugasnya tambah berat lagi.

Saya sering melihat nasib turunan keluarga miskin atau kaya akan berputar di sekitarnya saja. Bagi keluarga kaya, anjlok sedikit, kemudian bangkit lagi. Namun bagi keluarga miskin, sering nasibnya susah berubah, disebabkan karena kepasrahan atau sikap masa bodoh ortu yang menular kepada anaknya.

Baca Juga:  Tantangan Kebudayaan Bangsa Religius

Namun ada juga orang cerdas berpendidikan tinggi, dan juga orang berbakat pemain olahraga top profesional berasal dari kalangan keluarga miskin. Ternyata Sang ortu rajin mengantar anaknya latihan dan menemani belajar, dan sang ortu mampu menemukan orang yang dapat mengasah kepintaran dan bakat anaknya.

Itulah bacaan semalam dengan pemahaman “setengah”, yang membuat saya harus becermin diri. Apa yang telah saya perbuat sebagai ortu?