Manusia dan Cinta Kasih Sayang

Oleh Shalma Nabila Fauziani

(Mahasiswi STAI Almasthuriyah Sukabumi)

 

Manusia pada umumnya diciptakan oleh Allah SWT dengan ruh dan jasad. Manusia memiliki beberapa arti, bahkan beberapa definisi terkemuka. Menurut kitab Sulamunawaroq,  manusia dapat diartikan sebagai insan.

Insan adalah hewan yang berfikir. Pada awalnya atau asalnya kata Insan berasal dari kata nasiya, yaitu lupa. Maka tak heran manusia itu tempat salah dan lupa.

Sedangkan kata insan itu sendiri menyebutkan manusia yang diambil dari akar kata al-uns yang berarti jinak atau humoris. Karena manusia pada dasarnya dapat menyesuaikan dengan realitas hidup dan lingkungan.

Manusia adalah hewan berpikir. Pada dasarnya, manusia atau insan itu sama dengan hewan. Tetapi Allah memberi hal beda yang lebih instimewa untuk insan. Yaitu akal. Akal untuk berpikir jernih, memahami dan untuk menampung segala pengertahuan.

Perlu kita ketahui, kata Cinta dan Sayang itu sangatlah berbeda. Adapun kebenaran keduanya sangatlah membuat kita merasa senang dan bahagia. Senang kita dapat dicintai orang tua, sahabat, guru bahkan kita selalu dicintai dan disayangi oleh Allah yang Mahapenyayang.

Bukti Allah menyayangi kita bisa berupa cobaan yang selalu mengadang. Tetapi, Allah tidak akan memberikan cobaan yang tidak bisa kita semua lampaui, sehingga kita patut bersyukur dan beribadah kepada-Nya. Karna itulah Allah sangat menyayangi kita.

Cinta dan Sayang itu saling bertolak belakang. Rasa cinta dan sayang ialah pemberian Allah SWT kepada hambanya. Adanya cinta dan kasih sayang membuat dunia ini begitu indah karena penghuninya yang memiliki rasa cinta dan kasih sayang yang sangat mulia. Membuat kita selalu semnagat, ceria, bahkan selalu mabuk dibuatnya. Munculnya cinta dan kasih sayang bukan karena sebab ataupun tersengaja, melainkan semua rasa cinta dan kasih sayang sudah direncanakan oleh-Nya.

Baca Juga:  Agar Kamu Nggak Gelisah, Galau dan Merana, Dekatilah Allah. Inilah 4 Langkah Mendekati-Nya

Makna cinta itu abstrak. Cinta hendak menjadi konkret jika sampai kepada seseorang yang tepat. Tetapi, sebaliknya jika cinta itu menjadi arti cerita indah, namun tidak ada artinya, maka cinta itu belum sampai kepada orang yang tepat.

Sedangkan, rasa sayang lebih diwujudkan dalam tindakan bukan hanya kata-kata dan lebih melakukan segala sesuatu yang terbaik demi seseorang yang cintainya. Jika cinta itu belum tentu bisa memberikan kasih sayang, maka jika seseorang telah ada rasa kasih sayang, sudah pasti ada cinta di dalamnya.

Antara cinta dan sayang, kita sebagai manusia tentunya pasti pernah merasakan keduanya. Merasa senang dan bahagia dibuatnya. Manusia memiliki hal itu tidaklah abadi, melainkan cinta dan kasih sayang Allah kepada hamba-Nya. Dampak dari kedua hal tersebut sering kita rasakan, seperti sakit hati, marah, trauma dan benci dibuatnya.

Kita tidak bisa untuk terus meminta kembali rasa tersebut kepada orang yang sama. Kadang selalu ada obat di balik kebencian itu, dengan mendatangkan hal baru. Hal dan seseorang yang telah Allah berikah kepada kita untuk menutup luka, meski pada akhirnya sama saja.

Baca Juga:  Manajemen Konflik, Mengubah Musibah Menjadi Berkah

Meskipun pada akhirnya sama aja, di setiap pengalaman mencintai atau menyayangi seseorang wabilkhusus kepada kekasih, mislanya, kita hanya perlu saling mendoakan, saling percaya, saling mengerti, tida egois. Setiap masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin, sabar, ihklas, dan tetap tersenyum.

Karena di setiap masalah apapun, Allah selalu memberikan jalan-Nya yang terbaik. Jika niatnya baik. Kita tidak perlu melakukan hal-hal yang tidak wajar dalam mencintai manusia lain ataupun kepada kekasih kita, cukup lakukan hal yang tadi. Saling mendoakan, saling percaya, saling mengerti.

Jika kita selalu mengutamakan nafsu atau ego kita, maka kebanyakan, cinta dan kasih sayang itu tidak berjalan dengan baik. Yang ada di setiap kita berjumpa atau saling menyapa, kebencian yang selalu teringat. Beda dengan ketulusan hati kita, yang selalu saling dalam hal pengertian meskipun hanya sekilas pesan singkat misalnya, kita akan selalu senang.

Bukan berarti kita selalu terus mengalah kepada hal itu, jika kita telah merasa tired/ lelah, sebaiknya kita mundur. Mungkin itu bukan yang terbaik untuk kita. Toh,  jodoh sudah Allah atur sebelum kita lahir ke muka bumi ini.

Yes. Itu benar! jodoh, rezeki, umur, bahkan takdir yang telah Allah berikan kepada kita, patut kita syukuri. Namun, kita sebagai makhluk biasa, apa salahnya jika terus berusaha sampai titik kita harus benar-benar berhenti dan melihat apa yang ada didepan mata kita. Selebihnya, Allah selalu mengurus, memberikan dan memperhatikan hamba-Nya yang selalu bersikeras memohon dan berdoa mana yang terbaik. Dan Allah pun selalu mengabulkannya. Kita tidak perlu risau jika sudah tajdir berpisah dengan orang yang kita cintai dan sayangi pada waktu itu.

Baca Juga:  Implementasi Manajerial Program Tahfizh Ponpes Darul Quran dan Pesantren Tahfizh At-Tibyaan Sukabumi

Seseorang yang beberapa kali merasakan cinta atau kasih sayang itu, mereka cendrung memliki pengalaman dan sikap rasa welas kasih yang lebih dalam. Dibandingkan dengan seseorang yang belum pernah merasakannya.

Kenapa? Karena mereka selalu mengambil pelajaraan, mana yang harus dipertahankan oleh kita dan mana yang harus ditinggalkan. Karena beda, mencintai makhluk itu memiliki rasa ingin memuaskan diri dan nafsu. Maka dari itu, jika kita selalu ingat kepada Allah, maka Insyaa Allah, Allah akan melindungi kita dari godaan nafsu yang di arahkan setan kepada kita.

Ma fii qolbi ghairullah. Seseorang bisa selalu tiba-tiba berubah. Allah-lah yang Maha Pembulak-balik hati. Jika saja kita sebagai manusia taat, ingat kepada Allah, cinta, serta memiliki kasih sayang yang sangat luas kepada Mahapencipta makhluk-Nya, maka Insyaa Allah, Allah akan memberikan seseorang yang menyayangi kita dengan izin-Nya.