Hebatnya Guru Cerdas yang Dicintai Anak Didik

Oleh Dr Hj Arfiani Yulianti Fiyul MM
(Ketua Yayasan Jasmine Solusi/ Trainer Motekar Provinsi Jawa Barat/ Asesor BAN PAUD Prov. Jabar/ Dosen Pascasarjana)

 

Guru adalah salah satu profesi yang banyak dicita-citakan anak-anak saat masih sekolah. Sebagian anak sangat mengidolakan profesi guru. Apalagi jika di sekolahnya ada guru yang menjadi idolanya. Idola dalam mengajar, idola dalam perhatian dan idola dalam penampilan.

Jadi ketika ditanya, “Apa cita-citamu?” Pasti anak-anak menjawab, “Ingin jadi seorang guru.” Anak-anak ingin menjadi seperti guru A , guru B dan guru lainnya. Ada juga yang mengidolakan guru Agama yang pandai mengaji, guru olahraga yang lincah gerakannya, guru bahasa yang sangat mahir dalam bercerita dan membaca puisinya serta ada pula siswa yang mengidolakan guru kesenian yang pasti pandai bernyanyi. Guru idola selalu membuat siswa bahagia.

Menjadi seorang guru itu memang sangat menyenangkan. Seperti syair lagu “Guruku tercinta, guruku tersayang tanpamu apa jadinya aku”. Itulah sepenggal syair/lirik tentang guru yang masuk ke dalam hati sanubari setiap anak didik. Kadangkala Anak didik lebih patuh kepada guru di sekolah dari pada orang tua kala di rumah. Itulah hebatnya seorang guru.

Namun, di masa pandemi Covid-19, semua anak didik belum bisa bertatap muka dengan gurunya. Sedih… Yang sama sekali belum mengenal gurunya adalah anak lulusan Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama yang baru melanjutkan studinya ke tingkat yang lebih tinggi. Ya, pasti mereka belum bertemu guru idolanya di sekolah yang baru. Semoga saja pandemi cepat berlalu dan berganti dari pembelajaran daring menjadi pertemuan tatap muka langsung.

Baca Juga:  Prodi Pendidikan Agama Islam UM Bandung Gelar Baitul Arqam Purna Studi

Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ), siswa dan guru hanya bisa bertatap muka secara virtual, menggunakan berbagai aplikasi. Meski begitu, guru harus mampu menciptakan suasana yang menyenangkan agar tak jenuh. Karena kondisi seperti inilah seorang guru harus cerdas dan cerdik (positif). Mengapa harus cerdas dan cerdik? Sebab, cerdas dan cerdik itu akan membuat seorang guru menjadi kreatif.

Menjadi seorang guru itu sebenarnya tidaklah mudah, karena harus memiliki kompetensi, sebagai berikut:

Pertama, Kompetensi Pedagogik seorang guru. Kompetensi ini adalah suatu kemampuan atau keterampilan guru untuk mampu mengelola suatu proses pembelajaran atau interaksi belajar mengajar dengan anak didiknya.

Kedua, Kompetensi Kepribadian. Kompetensi kedua ini sangat erat kaitannya dengan karakter personal seorang guru. Ketika menjadi seorang guru harus dapat mencerminkan kepribadian positif seorang guru seperti supel, sabar, disiplin, jujur, rendah hati, berwibawa, santun, empati, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial & hokum, hal kepribadian ini harus tertampak sikap sehari-harinya.

Ketiga, Kompetensi Profesional. Menjadi guru itu sebuah profesi yang sangat mulia, yang berkarya tanpa tanda jasa, tapi profesi yang akan dikenang sepanjang waktu. Oleh karena itu, wajib selalu menjaga Kompetensi Profesionalnya karena kemampuan atau keterampilan ini adalah yang wajib dimiliki agar supaya tugas-tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik dan secara ajeg profesional. Berkaitan dengan kompetensi profesional, guru harus meningkatkan Keterampilannya dengan hal-hal yang cukup teknis, dan akan berkaitan langsung dengan kinerja guru.

Baca Juga:  Juli 2021, UMBandung Gelar Vaksinasi untuk Karyawan dan Masyarakat Umum

Keempat, Kompetensi Sosial. Guru adalah manusia yang di mata anak didiknya adalah orang sempurna, orang yang mampu semuanya. Oleh karena itu harus mempunyai Kompetensi Sosial. Kompetensi sosial ini berkaitan dengan bagaimana kemampuan dan kemauan dalam keterampilan berkomunikasi. Yakni, mampu berkomunikasi dengan efektif, menggunakan bahasa yang santun dan empati.

Dan juga mampu berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan, bersikap dan berinteraksi secara umum, kepada semua anak didiknya, berinteraksi sesama teman sejawat antarguru dan tenaga kependidikan, antara orang tua anak didiknya, hingga pada masyarakat secara luas, di luar lingkungan sekolah, yang biasanya masayarakat luas dengan budaya yang berbeda-beda. Kompetensi tersebut harus melekat pada setiap individu guru. Sehingga dalam kegiatan belajar mengajar guru selalu menjadi superwomen dan superman dalam kegiatan mengajar.

Dalam kegiatan mengajar guru harus kreatif. Uutuk menjadi seorang guru yang kreatif haruslah degan melakukan cara cerdas dan juga cerdik. Cerdas seperti apa dan cerdik yang bagaimana sehingga guru itu akan dicintai anak didiknya sampai mati (mantap), dalam hal cerdas dan cerdik secara positif. Cerdik menyiasati kesempatan sehingga anak didik selalu ingin belajar. Karena anak didik zaman sekarang berbeda dalam hal perlakuannya. Anak zaman now harus di tangani dengan strategi yang jitu

Baca Juga:  UMMI Gelar Workshop Nasional Penulisan Buku, Roni Tabroni: Jadikan Menulis itu Ibadah!

Guru Cerdas di Era Milenial

Di era milenial yang serbadigital ini, seorang guru juga dituntut untuk:

Pertama, guru cerdas milenial harus mengajak anak didik keteraturan. Keteraturan apa saja? Kecakapan keteraturan ini seperti halnya dapat mengatur diri sendiri, dapat mengatur waktu dan keterampilan belajar sama, guru harus banyak memberikan bimbingan dan latihan dalam mengembangankan kebiasaan-kebiasaan yang baik dan konsisten.

Kedua, guru cerdas milenial harus memiliki strategi keterampilan belajar. Guru mampu membantu anak didiknya untuk mengatur diri anak didik itu sendiri untuk belajar mengembangkan keterampilan, mendengarkan dan keterampilan mempersiapkan diri.

Ketiga, guru cerdas milenial harus membantu anak didiknya agar mampu menyelesaikan masalah. Baik masalah nya sendiri maupun masalah temannya. Hal ini guru cerdas harus mampu membantu anak didiknya untuk dapat mengungkapkan masalah dan menyelesaikan masalah dengan cara produktif.

Jadi untuk menjadi guru yang hebat kenali siswa lebih dalam. Guru harus berinovasi pembelajaran, inovasi manajemen kelas. menciptakan ekosistem yang literat. Buatlah lingkungan belajar yang mengakui dan menghargai setiap kontribusi anak didik. Dengan demikian guru hebat menjadi kreatif maka anak didiknya pun akan lebih inovatif dan mandiri, untuk menghadapai tantangan pendidikan dimasa yang akan datang.

Wallahu a’lam bishawab. (*)