Ibrah  

Bunga Rampai Nahwu dan Sharaf (Bagian -2)

Oleh Najmudin Ansorullah
Praktisi Pendidikan Islam

 

Al-Qur’an dan Pengetahuan Bahasa

Al-Qur’an sebagaimana dijelaskan sebelumnya adalah kitab suci yang mempunyai bahasa tingkat tertinggi. Hal ini adalah karena al-Qur’an mempunyai makna yang cukup luas dan mendalam. Para ahli telah banyak melakukan penelitian terhdap al-Qur’an dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan termasuk bahasa.

Hal yang perlu ditekankan bahwa meskipun ilmu-ilmu bahasa ‘Arab telah berkembang sangat jauh, namun semua terpulangkan pada ketentuan bahasa yang terkandung dalam al-Qur’an. Justru ilmu bahasa itu sendiri muncul setelah al-Qur’an diturunkan, karena pada masa al-Qur’an turun lah orang-orang ‘Arab pra-Islam mencapai masa kegemilangan dalam ilmu bahasa (‘Arab).

Oleh karena itu, tidak keliru jika orang mengatakan bahwa ilmu-ilmu bahasa seperti nahwu, sharaf, mantiq, bayan dan lain sebagainya berasal dari al-Qur’an itu sendiri, karena setiap kaidah bahasa yang tidak sesuai dengan al-Qur’an maka tidak dapat dijadikan acuan dalam penggunaan/mengkaji al-Qur’an.

Baca Juga:  Saat Anda Mendengar atau Melihat Musibah, Dianjurkan Berdoa Sesuai Ajaran Rasulullah

Dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu bahasa dipakai untuk mengkaji disiplin ilmu-ilmu keislaman, seperti tafsir, sejarah, hikayat peperangan dan pertempuran-pertempuran serta biografi dari pahlawan-pahlawan Islam.

Hal itu berlaku sampai sekarang pada saat kaum Muslimin membutuhkan ilmu-ilmu agama yang bersumber dari karya-karya ulama yang menuliskan tentang ajaran-ajaran Islam dari al-Qur’an dan as-Sunnah melalui berbagai disiplin ilmu.

Sedikit sekali ditemukan dari kaum Muslimin sendiri yang melafalkan bahasa ‘Arab dengan menggunakan/memperhatikan gramatikanya.

Penurunan kesadaran terhadap bahas ‘Arab yang “fashahah” telah menyebabkan umat Islam sendiri menggali al-Qur’an secara instant tanpa memperdulikan kaidah-kaidah bahasa ‘Arab itu sendiri, sehingga al-Qur’an ditafsirkan secara serampangan. (bersambung)