Pentingnya Memahami Gramatika Bahasa Arab

Oleh Muhammad Taopik Kurrohman
(Mahasiswa STAI Almasthuriyah Sukabumi)

 

Mempelajari teks-teks yang berbahasa Arab melalui terjemahan memang menjadi tren saat ini, Bahkan kebanyakan orang mencari suatu hukum di dalam terjemah karena mungkin lebih mudah, simpel, dll.

Akan tetapi, keberadaan kitab-kitab terjemahan belum banyak membantu secara signifikan. Pasalnya, kitab-kitab terjemahan tidak mungkin selamat dari subjektivitas dan intervensi penerjemah.

Terjemahan pada umumnya memakai metode terjemah Tafsiriyah. Sehingga, selalu terdapat intevensi dan interpretasi penerjemah yang dibatasi oleh Fusion Horizon-nya. Belum lagi masalah keterbatasan kosa kata dari bahasa kedua (bahasa tujuan dari bahasa arab). Selain itu, kitab-kitab terjemahan juga jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan karya-karya Ulama yang belum diterjemahkan.

Karenanya, penguasaan ilmu Nahwu-Sharaf sangat penting bagi mereka yang ingin meneliti bahasa agama secara lebih mendalam. Seorang yang mengaku ilmuwan dalam bidang agama perlu diragukan kepakarannya apabila nihil dari penguasaan Nahwu-Sharaf. Ini mengingat banyaknya referensi agama yang masih berbahasa Arab.

Untuk memahami gramatika bahasa Arab, setidaknya seseorang memahami dua bidang ilmu, yakni Ilmu Nahwu dan Sharaf. Kedua ilmu ini akan menjadikan modal untuk memahami ilmu gramatika bahasa Arab yang lainnya seperti ilmu Badi, Ma’âni dan Bayân, atau yang lebih dikenal dengan ilmu Bilâgah.

Baca Juga:  Bangkit dan Berjuang

Sebahagian ulama berkata الصرف أمّ العلوم والنّحو أبوها yang artinya Sharof adalah ibunya dari ilmu-ilmu dan Nahwu adalah bapaknya dari ilmu. Minimnya penguasaan Nahwu membuat seseorang kesulitan memahami status sebuah kalimat dan relasinya dengan kalimat lainnya.

Ketidakpahaman terhadap ilmu Sharaf mengakibatkan seseorang tidak akan mampu memahami struktur kalimat. Sudah barang tentu akan menghambat untuk memahami sebuah teks-teks berbahasa Arab. Oleh karena itu, minat akan mempelajari Nahwu-Sharaf khususnya di lingkungan akademisi tidak akan ada habisnya. Meskipun tidak jarang dari mereka yang mengeluh dan bersusah payah mendalaminya.

Ada beberapa ungkapan strategies Maulana Syaikh dalam syair-syair khas beliau tentang belajar ilmu Nahwu dan Sharaf.

Pertama, syair yang termaktub dalam kitab Bughiyatul Murtasyidin Fi Tarjamati Aimmatil Mujtahidin Karya Maulana syaikh Hasan Massyath yang disyarah dan di komentari oleh Maulana Syaikh TGKH M. Zainudin Abdul Madjid hal 94.

قال ابن اخت خالة الناشر
يامن يروم الكتاب او حديث النبي * بغير نحو وصرف اقصرن يا غبي
انت حمار الكتاب وحديث النبي * انت أضر من الحكيم (توما) الغبي

Berkata Anak saudari bibik penyebar kitab ini. Maksudnya Keponakan Bibik kandung dari saudara Ibu Kandung atau babak kandung penyebar kitab ini. Maksudnya Maulanassyaikh.

Baca Juga:  Prodi Pendidikan Agama Islam UM Bandung Gelar Baitul Arqam Purna Studi

Siapa saja yang ingin belajar Alquran maupun alhadis* tanpa mengerti ilmu nahwu dan ilmu sharaf mundurlah anda wahai si dungu.
Engkau laksana himar keledai pemikul kitab dan pemikul kitab kitab hadis * Engkau lebih bahaya dari Hakim Tuma yang dungu.

Kedua, dalam sebagian syair:

وكل من فسر القران مع جهله * بالنحو والصرف انه ابو الفتن
واتخذوا الرؤسا الجهال والفسقة * فنشروا فتنة الدجال فى المدن
فالله يعصمنا من شرهم ابدا * والله يعلم المفسد من المحسن
فاطلب هداية مولانا العلي ابدا * والزم قراءة حزب نهضة الوطن

Kata kuncinya pada bait:

وكل من فسر القران مع جهله
Siapa saja yang menafsirkan Alquran tanpa memahami ilmu Nahwu dan Sharaf, maka dia sesungguhnya menjadi sumber fitnah sumber berita Hoaks.

Di Pesantren-pesantren Tradisional, pengajaran kitab-kitab dengan muatan Nahwu-Sharaf marak dilakukan, seperti pengajaran kitab matn Jurûmiyyah, Imriti, Sharaf Kailânî dan Alfiyyah Ibn Malik.

Namun kesuksesan pesantren menransfer ilmu Nahwu-sharaf kepada para santrinya tidak sama. Hal itu tergantung pada kreativitas, kapasitas dan kapabilitas pengajar yang mumpuni. Masing-masing pesantren mempunyai tradisi dan trik yang berbeda dalam mengajarkan ilmu nahwu sharaf kepada para santrinya.

Baca Juga:  Tingkatkan Kompetensi Dosen, UMMI Gelar Seminar Akselerasi dan Workshop Jabatan Akademik

Mabadi Ilmu Khususnya Ilmu Nahwu dan Sharaf
بسم الله الرّحمن الرّحيم
ينبغى لكل شارع فى فن من فنون إثنى عشرفان أن يعرف حده وموضوعه وثمرته إلى أخر المبادى العشرة المشهورة

Sebelum kita mempelajari ilmu nahwu/sharaf, kita disarankan untuk mengetahui terlebih dahulu Stadium General tentang ilmu nahwu/sharaf tersebut. Dengan mengetahui Stadium general dari ilmu nahwu/sharaf, baru kita akan mudah mempelajari ilmu nahwu/sharaf Tak kenal maka tak sayang, kenalan dulu, baru mendalami, begitu kata pepatah.

Karena sebagian ulama mengatakan,

إنّ مبادى كلّ فان عشرة # الحدّ والموضوع ثمّ الثمرة
وفضله ونسبة والواضع # والإسم الإستمداد حكم الشارع
مسائل والبعض بالبعض اكتفى # ومن درى الجمع حاز الشّرفا

“Sesungguhnya prinsip dasar dalam setiap disiplin ilmu itu ada sepuluh, yaitu: (1) batasan definitif, (2) ruang lingkup kajian, (3) manfaat kajian, (4) perbandingan dan hubungan dengan ilmu lain, (5) keistimewaan, (6) perintis, (7) sebutan resmi, (8) sumber pengambilan kajian, (9) hukum mempelajari, (10) pokok-pokok masalah yang dikaji, lalu sebagian dengan sebagian lain mencukupi, Siapa yang menguasai semuanya akan meraih kemuliaan.”

Semoga Bermanfaat dan Semangat Mencari Ilmu Sahabat…