Mau Makan Ramah Lingkungan? Piring Pelepah Pinang Solusinya!

  • Bagikan

KABARINDAH.COM, JAMBI – Selama ini piring dikenal terbuat dari berbagai bahan seperti keramik, tanah liat, plastik, styrofoam, sampai kertas. Namun demi mengurangi limbah plastik dan styrofoam yang memicu munculnya sampah dan ancaman pemanasan global, inovasi baru pun dibuat.

Warga Desa Sinar Wajo dan Desa Sungai Beras di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi membuat inovasi piring dari pelepah pinang. Warga yang tergabung dalam Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), yaitu KUPS Lojo Kleppaa dan KUPS Kodopi Mitra Madani ini biasanya menjual pinang untuk kehidupan sehari-hari. Namun pandemi membuat harga pinang terus menerus turun.

Menjelang akhir tahun 2020 masyarakat sekitar mulai mengembangkan piring pelepah pinang yang idenya mereka bawa dari luar desa.

Ide inovasi tersebut dimulai karena sampah pelepah pinang sangat banyak di desa tersebut. Jika pelepah itu dibiarkan berserakan di perkebunan dan kemudian mengering, saat musim kemarau sampah pelepah itu jadi mudah terbakar. Hal ini berbahaya karena bisa memicu kebakaran lahan.

“Ketika inovasi piring pelepah pinang dikembangkan, petani diuntungkan. Mereka tidak harus membersihkan area perkebunan dari pelepah yang setiap hari berjatuhan dan mengotori kebun. Perajin boleh mengambil dan memanfaatkan limbah pelepah itu sebagai bahan baku, tanpa harus membayar sedikit pun. Jadi, bahan baku yang begitu berlimpah bisa didapatkan secara gratis,” kata kata Fasilitator Komunitas dan Kabupaten KKI Warsi Ayu Shafira, dikutip dari Antara.

Untuk membuat piring, pelepah pinang yang baru jatuh sekitar satu-dua hari diambil, lalu dicuci dengan sabun pencuci piring yang aman untuk bahan makanan. Piring ini dijemur selama kurang lebih 3 – 4 jam sampai kering.

Setelah itu, pelepah dicetak dengan alatmolding hot pressdengan suhu 120 derajat celcius selama q1 meni. Piring ini dikeringkan di bawah sinar matahari. Piring ini pun disebut lebih kokoh daripada piring kertas, karena pelepah pinang memang tebal dan berlapis lilin.

Ada yang persegi panjang, ada juga yang bundar dalam diameter berbeda-beda. Dari segi warna, piring tersebut terbagi menjadi 3grade, yaitu A, B, dan C. Grade A adalah piring nyaris tanpa corak atau polos,grade B adalah piring setengah bermotif, dan grade C adalah piring dengan banyak motif.

“Piring ini juga tahan lama. Jika sudah dijemur hingga benar-benar kering, ia tidak akan berjamur sama sekali, meski disimpan di dalam lemari tertutup. Jika sudah selesai digunakan, piring bisa dibuang seperti membuang daun pisang. Dia akan terurai di alam tanpa merusak lingkungan,” kata Ayu.

Selain itu, piring ini juga bisa dipakai berulang kali. Namun piring bisa dipakai hingga maksimal 8 kali. Hanya saja untuk membersihkannya, Anda bisa mencucinya dengan sabun cuci piring namun jangan merendamnya. (ANT)

  • Bagikan