Jihad Pena

  • Bagikan

Oleh Aditya Bahrun Nur Pratama SIkom, MPd
(Magister Pendidikan STAI Sukabumi)

 

Jihad dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) berarti; Pertama, usaha dengan segala daya upaya untuk mencapai kebaikan. Kedua, usaha sungguh-sungguh membela agama Islam dengan mengorbankan harta benda, jiwa, dan raga.

Ketiga, perang suci melawan orang kafir untuk mempertahankan agama Islam dengan syarat tertentu. Jihad merupakan suatu usaha yang mengerahkan segala upaya yang bertujuan untuk menebarkan kebaikan kepada seluruh manusia yang ada di bumi.

Sedangkan, Pena dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) yaitu alat untuk menulis dengan tinta, dibuat dari baja dan sebagainya yang runcing dan belah. Pena adalah sebuah alat yang digunakan seseorang dalam menulis maupun mencatat segala sesuatu yang berkaitan dengan tulisan tangan. Pena menjadi sebuah alat yang wajib disimpan atau digunakan baik dalam kegiatan formal maupun non formal disuatu tempat.

Pada abad ke-10 M, ditemukan sebuah alat untuk menulis yang bahan utamanya menggunakan tinta. Ketika itu, pena yang dipakai memiliki wadah tintanya sendiri sehingga antara alat menulis dan tintanya dibuat secara terpisah. Tahun 953 M, seorang berkebangsaan Mesir bernama Ma’d al-Mu’izz membuat sebuah pena yang dilengkapi dengan penyimpanan tinta. Ia ingin membuat sebuah pena yang tidak mengotori tangan dan bajunya dengan tinta ketika sedang menulis. Pena tersebut dipakai dengan cara mengalirkan tinta dari badan pena menuju mata pena.

Berkat penemuan dari A.A. Waterman, Walter A. Sheaffer, dan Parker, pulpen praktis tersebut dapat terwujud pada awal abad ke-20. Pada 1929, sebuah perusahaan asal Jerman, Pelikan, memperoduksi sebuah pulpen yang diisi dengan tinta padat. Pulpen buatannya itu akhirnya semakin banyak digunakan pada masa-masa antara Perang Dunia I dan Perang Dunia II karena penggunaannya yang lebih praktis dari pulpen yang ditemukan sebelumnya.

Bagi para sufi, ayat pertama surah Al-Qalam ayat 1, yaitu Nun, wa al-Qalam, wa Ma Yasthurun (Nun, demi pena dan apa yang dituliskannya), bermakna amat dahsyat. Misteri ayat ini diungkap para sufi dengan perspektif sangat berbeda dibanding makna dalam kitab-kitab tafsir kontemporer. Ternyata tiga komponen dalam ayat ini, yaitu nun, qalam, dan lembaran menjadi asal usul segala ciptaan Tuhan. Aziz Al-Din Nasafi (Wafat 695H/1295M), seorang sufi dari Bani Kubrawi, yang pikirannya banyak dipengaruhi oleh Ibnu Arabi, menjelaskan bahwa nun adalah ‘bak tinta’.

Sedangkan qalam adalah pena, yang merupakan substansi pertama atau biasa disebut sebagai akal pertama, dan lembaran (ma yasthurun) ialah lembaran yang terpelihara (lauh mahfuz) atau ummul kitab. Nun sebagai bak tinta adalah tempat menyimpan tinta, merupakan kelengkapan pena untuk menulis.

Nun dihubungkan dengan QS Al-Kahfi: 109, “Katakanlah: ‘Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)’.”

Berbeda dengan Ibnu Arabi yang mengartikan nun dengan malaikat yang diperintah untuk menggunakan pena itu untuk menulis. Pendapat sama juga dikemukakan Imam Ja’far. Sebagian lagi mengartikan nun sebagai sungai di surga dan sejenis ikan yang pernah menyelamatkan Nabi Yunus. Bagi Ibnu Arabi, nun ialah malaikat yang melukis semua kejadian. Sang penulis memiliki pengetahuan majemuk dan beraneka ragam.

Nun dan penanya aktif memberi pengaruh, sedangkan lembaran atau kanvas tempat menuangkan tulisan bersifat reseptif. Jadi, menurutnya, nun wa alqalam wa ma yasthurun adalah hierarki antara Tuhan dan makhluk-Nya. Wa al-qalam adalah sumpah Tuhan (qasm) pertama dalam Alquran yang turun tidak lama setelah lima ayat pertama: Iqra’ bi ismi Rabbikalladzi khalaq, khalaqa al-insana min alaq, iqra’ warabbuka al-akram, alladzi ‘allama bi al-qalam, ‘allama al-insana ma lam ya’lam.

Pena atau kalam, sebagaimana juga disinggung dalam ayat keempat tadi, merupakan ciptaan Allah yang pertama dari tiada menjadi ada melalui kun fa yakun. Dalam sebuah hadis yang sering muncul dalam kitab-kitab tasawuf, pena ini diperintah dengan kata-kata, “Tulislah pada lingkaran pertama ini, yaitu lembaran Tuhan.” Pena lalu menjawab, “Wahai Tuhan, apa yang harus aku tulis?”. Pena atau kalam sering ditemukan baik didalam Al-Qur’an maupun Hadis.

Perintah berikutnya muncul, “Tulislah segala sesuatu yang telah terjadi, yang sedang terjadi, dan yang akan terjadi hingga hari kebangkitan.” Pena menulis semuanya, sesudah itu pena menjadi kering. “Tuhan telah selesai dengan penciptaan, persediaan, dan ketentuan-ketentuan yang pasti.”. Oleh sebab itu, Jihad yang terbaik pada zaman ini adalah jihad pena karena dengan menulis, seseorang mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan baru sehingga dapat terhindar dari informasi atau berita bohong yang beredar pada saat ini.

  • Bagikan