Muslimah, Gaya Hidup, dan Ketaatan Pada Aturan Allah

  • Bagikan

KABARINDAH.COM – Islam adalah agama yang dinamis, memudahkan, dan tidak mempersulit penganutnya. Begitu juga dengan gaya hidup yang kita anut. Ia (Islam) hanya berfungsi memberi nilai, moral, dan etika sosial pada gaya hidup penganutnya agar apa yang dilakukan mendapatkan ridha Allah.

Seorang muslimah harus memiliki sifat malu, sehingga gaya hidup yang dipraktikkan tidak menjerumuskannya ke jurang kenistaan, ke lembah penuh dosa, dan ke bawah tebing kerendahan harkat dan martabat. Islam hadir ke muka bumi untuk memuliakan wanita yang tadinya ditempatkan dalam kasta rendah, mengangkat harkat dan derajat wanita, dan membebaskan wanita dari belenggu kebodohan.

Karena itu, taatilah aturan Allah karena gaya hidup seorang muslimah berlandaskan pada nilai kebaikan. Keislaman kita bukan hanya dari identitas demografis semata yang tercantum di dalam kolom KTP saja; tetapi harus meresap ke dalam sukma, membekas di dalam sikap, dan tampak di dalam laku keseharian.

Islam tidak melarang kita untuk berhias, memakai pakaian yang sedang trendi, dan bergaul dengan orang lain. Tetapi, kita kudu ingat, bahwa sebagai seorang muslimah, harus memiliki gaya hidup yang sesuai dengan Al-Quran dan sunah.

Dua sumber hukum Islam itu, Al-Quran dan sunah, merupakan parameter untuk menilai apakah gaya hidup kita: benar atau salah, baik atau buruk, bermanfaat atau merugikan, dan sesuai atau berlainan dengan aturan Allah. Gaya hidup yang kita anut, lebih banyak dipengaruhi oleh faktor psikografis: kecintaan kita kepada idola hidup, yang banyak dibawa oleh aktris yang notabene non Muslim.

Sementara itu, sahabat, nabi dan tokoh-tokoh Islam lainnya disingkirkan dari pusat keteladanan. Jangan heran bila muda-mudi masa kini tidak mengenal tokoh yang wajib dijadikan pusat keteladanan hidup.

Muda-mudi begitu mengidolakan artis-artis film dan penyanyi, baik dari negeri sendiri maupun dari negara Barat. Parahnya, segala macam penampilan dan gaya hidup sang aktris dijadikan kiblat bergaya, berperilaku, dan berbicara. Padahal, akhlak yang dicontohkan para idola tersebut belum tentu memberikan kebermanfaatan di akhirat.

Selain itu, muslimah di era modern lebih akrab dengan perayaan-perayaan non muslim seperti merayakan peringatan perkawinan perak, hari valentine, hari ulang tahun, dan lain-lainnya; tinimbang memakmurkan masjid. Jauh-jauh hari Rasulullah Saw. sudah menasihati, agar seorang Muslimah tidak mengikuti gaya hidup umat lain. “Bukan termasuk golongan kami siapa yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. Tirmidzi).

• Sebetulnya, kita boleh bergaya dengan memiliki kendaraan; tetapi jangan melupakan ibadah kepada Allah.

Kendaraan yang kita miliki, tidak hanya dipakai untuk sekadar gaya-gayaan, untuk popularitas, sekadar gengsi, atau untuk bersenang-senang. Kendaraan yang kita miliki, harus bisa menjadi washilah mendapatkan ridha Allah, seperti digunakan untuk beribadah di mesjid, mendengarkan pengajian, mengantarkan anak sekolah atau untuk membantu sesama.

• Kita juga boleh bergaya memiliki rumah; tetapi harus bermanfaat untuk keluarga dan orang lain.

Rumah yang kita miliki jangan dijadikan sebagai bentuk ujub, somobong, dan ajang pamer semata. Tetapi, rumah itu harus bisa memberikan manfaat bagi pemiliknya dan orang banyak.

• Kita boleh bergaya memakai pakaian bagus, trendy, modern; tetapi tidak lantas melupakan aturan Allah dan berzikir kepada-Nya.

Pakaian yang kita pakai, ialah wujud syukur kita pada Allah. Selain menutup aurat, pakaian pun jangan lantas membuat kita sombong dan lupa terhadap orang di sekitar. Ingatlah selalu, bahwa pakaian bagus yang dimiliki sekarang merupakan karunia dari-Nya.

• Kita pun boleh memiliki harta yang melimpah; tetapi harta itu harus digunakan untuk kepentingan akhirat dan jangan lupa untuk berbagi, berzakat, infaq dan sedekah.

Seorang muslimah tidak dilarang untuk memiliki harta dan kekayaan, asalkan harta dan kekayaan dihasilkan dari usaha yang halal. Tetapi, sebagai seorang isteri salehah, kita harus mampu menjadikan harta dan kekayaan sebagai washilah mendapatkan ridha Allah. Harta, kekayaan, dan kesejahteraan setelah kita menikah, ialah karunia-Nya yang tak terkira, karena itu berbagilah dengan orang yang membutuhkan.

Wanita salehah selalu bergaul dengan dengan wanita yang baik, salehah, dan wanita yang memegang prinsip kebaikan dalam hidupnya. Karena ketika kita bergaul dengan wanita saleha, akan membentuk kesalehan dalam diri; sebaliknya, ketika kita bergaul dengan wanita yang tidak salehah, maka ia akan menjadi wanita tidak salehah. Islam tidak melarang wanita salehah untuk bergaya dengan gadget, smartphone, dan perangkat teknologi modern; tetapi ingat fungsi dan perna kalian dalam rumah tangga.

• Kita boleh bepergian asalkan tidak melupakan terhadap kewajiban sebagai isteri dan kewajiban sebagai hamba Allah.

Wanita salehah sadar perannya dalam rumah tangga, sehingga ketika ia bepergian pun harus dalam rangka mendapatkan ridha Allah. Karena itu, minta izinlah kepada suami, ajaklah mahram untuk menemani, dan selalu tunaikan kewajiban kita sebagai hamba Allah. Seorang Muslimah tak ada salahnya untuk memiliki hobi travelling, asalkan dilakukan bersama Muhrimnya. Travelling yang dilakukan pun sebagai sarana untuk tafakkur kepada Allah.

“Mukmin(ah) kuat yang pandai bergaul dan bersabar menghadapi lika-liku pergaulan lebih baik daripada mukmin(ah) lemah yang tidak pandai bergaul dan tidak sabar menghadapi lika-liku pergaulan.” (HR. Tirmidzi).

  • Bagikan