KABARINDAH.COM, Bandung – Dua dekade lalu, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung lahir dalam keterbatasan. Aktivitas perkuliahan belum memiliki gedung sendiri.
Mahasiswa harus berpindah-pindah ruang, mulai dari Gedung Al-Jami’ah, Aula Al-Jawami, Masjid Ikomah, hingga Gedung Pascasarjana.

Fasilitas yang terbatas dan jumlah dosen yang masih sedikit menjadi bagian dari cerita awal perjuangan membangun sebuah fakultas baru.
Namun, dari ruang-ruang sederhana itulah tumbuh semangat yang kemudian mengantarkan FST menjadi salah satu fakultas yang berkembang pesat di lingkungan UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Kini, dua puluh tahun berselang, perjalanan panjang itu diperingati melalui Reuni Akbar 20 Tahun Fakultas Sains dan Teknologi yang digelar di Gedung Anwar Musaddad, Sabtu (4/7/2026).
Mengusung tema “Menghimpun yang Terserak, Membangun Kolaborasi Berdampak”, reuni tersebut tidak sekadar menjadi ajang melepas rindu antarsesama alumni.
Lebih dari itu, kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Dies Natalis ke-20 FST tersebut menjadi momentum menyatukan kembali perjalanan sejarah, memperkuat jejaring, serta membangun kolaborasi alumni untuk mendukung kemajuan almamater.
Ratusan alumni lintas angkatan hadir memenuhi undangan. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri.
Acara juga dihadiri Sekretaris Pengurus Pusat Ikatan Alumni (PP IKA) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Iwan Setiawan, Dekan FST Hasniah Aliah, jajaran pimpinan fakultas, dosen, pengurus IKA jurusan, organisasi kemahasiswaan, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Ketua Ikatan Alumni (IKA) FST Dian Nuraiman mengatakan, Reuni Akbar menjadi ruang untuk kembali menyambung cerita yang pernah dimulai dua dekade lalu.
Menurut alumni angkatan pertama Jurusan Matematika tahun 2006 itu, sejarah panjang FST dibangun melalui kerja keras para dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan yang tidak pernah menyerah meski menghadapi berbagai keterbatasan pada masa awal berdiri.
“Saat itu fakultas belum memiliki gedung sendiri sehingga aktivitas perkuliahan berlangsung berpindah-pindah. Justru pengalaman itu menjadi bagian dari sejarah yang membentuk karakter dan kekompakan alumni FST hingga sekarang,” ujarnya.
Dari perjalanan tersebut, FST kini telah meluluskan 4.822 alumni yang tersebar di berbagai bidang profesi.
Fakultas juga terus berkembang dengan hadirnya Program Studi Teknik Lingkungan dan Program Magister Informatika sebagai bagian dari penguatan akademik dan pengembangan keilmuan.
Bagi Dian, tema reuni tahun ini memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar mempertemukan alumni.
IKA FST ingin menghimpun kembali potensi lulusan lintas jurusan agar mampu membangun jejaring profesional, membuka peluang kolaborasi, serta memberikan kontribusi nyata bagi fakultas, universitas, dan masyarakat.
Komitmen itu diwujudkan melalui berbagai program strategis, mulai dari penguatan organisasi alumni, peningkatan kompetensi yang sesuai kebutuhan industri, hingga peluncuran Portal Alumni FST, sebuah basis data terpadu yang diharapkan menjadi ruang kolaborasi, pengembangan karier, dan komunikasi antaralumni.
Sementara itu, Dekan FST UIN Sunan Gunung Djati Bandung Hasniah Aliah mengingatkan bahwa perjalanan FST tidak dapat dipisahkan dari sejarah transformasi IAIN menjadi UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada 2005.

Setahun kemudian, FST resmi berdiri dengan empat program studi, 230 mahasiswa, dan 19 dosen.
Kini, setelah dua dekade berlalu, FST berkembang menjadi sembilan program studi dengan sekitar 3.800 mahasiswa dan didukung 109 dosen.
Dalam lima tahun terakhir, fakultas mencatat ratusan prestasi mahasiswa di tingkat nasional maupun internasional, menghasilkan ratusan publikasi ilmiah internasional, serta menjadi kontributor terbesar paten di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN).
Menurut Hasniah, capaian tersebut merupakan hasil estafet kepemimpinan, dedikasi sivitas akademika, dan dukungan alumni yang selama ini terus menjaga ikatan dengan almamater.
Oleh karena itu, ia berharap Reuni Akbar 20 Tahun tidak berhenti sebagai pertemuan yang sarat nostalgia.

Lebih dari itu, reuni menjadi titik awal lahirnya kolaborasi baru yang memperkuat pendidikan, riset, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, hingga peningkatan daya saing FST di tingkat nasional maupun internasional.
“Alumni adalah representasi mutu FST di tengah masyarakat. Teruslah berkarya, bersinergi, dan membawa nama baik almamater,” tegasnya.***











