Kabar  

Masuki Musim Kemarau, Kota Sukabumi Waspadai Bencana Kekeringan

Illustrasi pemasokan air

KABARINDAH.COM—Beberapa kecamatan di Kota Sukabumi telah memasuki musim kemarau dan diperkirakan akan terus meluas. Kondisi ini tentu dapat memicu bencana kekeringan yang harus diantisipasi.

Kasie Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Sukabumi Zulkarnain Barhamin menjelaskan, pihaknya telah melakukan pendataan proyeksi potensi kekeringan 2021 di Kota Sukabumi per 14 Juli 2021. ” Perkiraan jumlah potensi terdampak kekeringan totalnya sebanyak 2.089 kepala keluarga (KK) atau terdiri atas 6.619 jiwa,” ujarnya, Kamis (15/7).

Rinciannya di Kecamatan Baros warga yang terdampak diperkirakan sebanyak 715 KK yang terdiri atas 1.426 jiwa dan Cibeureum 124 KK yang terdiri atas 372 jiwa. Selanjutnya dijabarkan pula untuk Kecamatan Cikole sebanyak 421 KK atau terdiri atas 1.161 jiwa dan Citamiang 272 KK terdiri atas 876 jiiwa.

Baca Juga:  HMM Universitas Muhammadiyah Bandung Sukses Gelar Festival Manajemen

Berikutnya Kecamatan Lembursitu sebanyak 352 KK atau terdiri atas 2.164 jiwa dan Warudoyong sebanyak 205 KK yang terdiri atas 620 jiwa.” Sementara ini satu wilayah yakni Kecamatan Gunung Puyuh belum melaporkan data,” tambahnya.

Di sisi lain potensi kerentanan kekeringan sebanyak 6.649.736 meter persegi tersebar di enam kecamatan yakni Baros, Cibeureum, Lembursitu, Warudoyong, Cikole, dan Citamiang.

BPBD kata Zulkarnain, mengantisipasi dampak kekeringan berupa kesulitan air bersih dengan berkoordinasi dengan pihak terkait lainnya. Sehingga ketika ada laporan dampak kekeringan seperti hal itu bisa segera dipasok air bersih kepada warga.

Pada musim kemarau juga diwaspadai potensi kasus kebakaran lahan dan permukiman. Salah satu upayanya dengan mengimbau warga meningkatkan kewaspadaan dan tidak membakar lahan atau sampah secara sembarangan.

Baca Juga:  Kepengurusan UKM Paduan Suara UM Bandung Periode 2022-2023 Resmi Dilantik

Hal ini ungkap Zulkarnain, dikarenakan pada musim kemarau bahan atau benda menjadi mudah terbakar. Sehingga ketika terpantik api maka akan mudah terbakar dan merembet ke permukiman warga.