Kuy Buat Artikel Cepat, Hatta Tak Suka Menulis

  • Bagikan

Wahyudin Darmalaksana, Pegiat Kelas Menulis Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

KABARINDAH.COM-Tahun 2020, FKIP Universitas Dr. Soetomo mengeluarkan kebijakan terkait kewajiban publikasi ilmiah bagi syarat kelulusan mahasiswa jenjang sarjana S1. Publikasi ilmiah berupa penulisan artikel yang diterbitkan di jurnal terakreditasi nasional minimal Science and Technology Index (SINTA) 5.

Keputusan ini sejalan dengan arah kebijakan Indonesia dalam mendorong percepatan publikasi ilmiah akademisi baik dosen maupun mahasiswa bagi pengakuan di tingkat internasional. Kebijakan yang dikeluarkan FKIP Universitas Dr. Soetomo pasti telah menempuh pertimbangan bahwa mahasiswa dipastikan mampu melakukan penulisan artikel dan menerbitkannya di jurnal ilmiah. Ini hanya merupakan salah satu bentuk kebijakan yang semestinya diterapkan di seluruh pendidikan tinggi di Indonesia.

Namun, kewajiban publikasi ilmiah mahasiswa tampak belum dilaksanakan secara massif di pendidikan tinggi tanah air. Hal ini disebabkan faktor mitos yang menganggap publikasi ilmiah merupakan subjek yang pelik. Padahal, penulisan artikel ilmiah dapat dikerjakan dengan cepat meskipun akademisi tidak suka menulis. Oleh karena itu, pendampingan mahasiswa dalam penulisan artikel bagi kepentingan publikasi ilmiah sangat dibutuhkan.

3 Kiat Penulisan Artikel Ilmiah

Ada beberapa kiat bagaimana penulisan artikel ilmiah dapat dikerjakan dengan cepat meskipun akademisi tidak suka menulis. Pertama, menepis mitos bahwa penulisan artikel ilmiah merupakan hal yang sulit. Harus diyakini bahwa penulisan artikel ilmiah merupakan murni keterampilan. Sehingga siapapun pasti bisa menulis artikel melalui pelatihan. Jika terus dilatih, maka orang akan makin terlatih.

Kedua, gunakan template generic (umum) sebagai panduan penulisan artikel ilmiah. Template penulisan artikel mencakup pengetahuan sistematis dan praktis bagi teknis penulisan artikel ilmiah. Selama template tidak dipatuhi, maka selama itu pula penulisan artikel ilmiah tidak akan pernah selesai secara tuntas.

Ketiga, lakukan introgasi terhadap hasil latihan penulisan dengan melihat kesesuaian dengan panduan (template). Apabila tulisan artikel telah sesuai template maka dipastikan naskah tersebut diterima untuk dilakukan peninjauan substansi oleh reviewer dan kemudian penerbitan di jurnal ilmiah.

Beberapa kiat di atas telah dicoba dipraktikan di WPAJ (Workshop Penulisan Artikel Jurnal) HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan) IAT (Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mulanya peserta mengalami beberapa kesulitan terkait dengan teknis penulisan. Akan tetapi, peserta tampak mengalami peningkatan dalam kualitas penulisan melalui feedback (umpan balik). Kualitas penulisan sejak awal latihan terus meningkat pada tahap-tahap berikutnya. Bahkan, ada peserta yang telah berhasil publikasi ilmiah di jurnal Gunung Djati Conference Series. Juga ada peserta yang telah rampung menyelesaikan latihan penulisannya serta memiliki kelayakan untuk diterbitkan di jurnal ilmiah. Seluruh peserta yang lain tengah melaksanakan kemajuan tahap demi tahap. Jelaslah bahwa penulisan artikel ilmiah bukanlah hantu yang menyeramkan.

Syarat Kelulusan Mahasiswa

Sudah saatnya pendidikan tinggi Indonesia mewajibkan publikasi ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa. Hal ini bukan saja berguna bagi pengukuran produktifitas pendidikan tinggi dan pengakuan negara di level internasional. Melainkan sangat berguna bagi mahasiswa sendiri sebagai jati diri, eksistensi, dedikasi, kontribusi, dan prestasi. Oleh karena itu, keberhasilan publikasi mahasiswa di jurnal ilmiah patut mendapat apresiasi, penghargaan, dan anugerah.

Bagi mahasiswa, menulislah mulai dari sekarang meskipun tidak suka menulis. Sebab, penulisan artikel bukan bakat melainkan keterampilan serta telah disediakan template baku sebagai acuan. Hasil publikasi mahasiswa di jurnal ilmiah dipastikan sangat berguna bagi beasiswa, studi lanjut pascasarjana, dan modal untuk menembus dunia kerja di masa depan.

  • Bagikan