Pojok  

Kiat Menulis Skripsi Biar Tak Mentok dan Stuck

WAHYUDIN DARMALAKSANA, Kelas Menulis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

KABARINDAH.COM- Ada pengalaman ketika menulis skripsi mentok. Mentok berarti terbentur tembok atau jalan buntu. Ada juga pengalaman menulis skripsi stuck. Stuck artinya terjebak seperti jalanan macet tidak gerak sama sekali. Tulisan ini bermaksud memberi tuntunan supaya lancar dan cepat tuntas.

Bak Orang Bepergian

Bikin skripsi itu seperti orang bepergian. Pasti punya tujuan. Misalnya, dari Bandung ke Jakarta. Maka ada beberapa jalan alternatif yang bisa ditempuh. Bisa jalan biasa, jalan tol, atau jalur udara dengan pesawat terbang. Orang yang bepergian harus memilih jalur mana. Tegaslah bahwa isi skripsi di dalamnya pasti punya tujuan.

Hanya saja bisa jadi penulis bingung jalur mana yang akan ditempuh. Boleh jadi mula-mula memilih jalan biasa tetapi tiba-tiba ingin pindah ke jalan tol dan sebaliknya. Karena itu, konsultasikan tujuan dalam penelitian skripsi kepada dosen pembimbing. Lalu tentukan, tetapkan, dan sepakti bersama dengan dosen pembimbing tentang tujuan dalam penelitian skripsi. Hal ini supaya tujuan dan jalannya tidak bingung dan tidak pindah-pindah jalur terutama supaya lancar tiba di tujuan. Seperti tujuan perjalanan dari Bandung sampai tiba di Jakarta.

Baca Juga:  Sampah dan Globalisasi

Selain tujuan dan peta jalan menuju tujuan, bikin skripsi juga harus konsentrasi. Seperti pengemudi kendaraan kebayang kalau tidak konsentrasi maka kemungkinan ia menabrak-nabrak pembatas jalan. Konsentrasi adalah melaju dari satu titik berangkat mengikuti alur melewati tempat-tempat singgah sampai tiba di tujuan. Program studi adalah konsentrasi bidang ilmu tertentu. Karenanya pasti beda konsentrasi antara program studi yang satu dengan program studi yang lain.

Menulis skripsi tidak boleh mengambil konsentrasi program studi lain. Ia harus mengambil konsentrasi bidang ilmu program studinya. Kalau mengambil konsentrasi bidang ilmu program studi lain berarti mengambil kamar orang lain. Atau ibarat pengemudi ia menabrak dinding pembatas program studi lain. Coba lihat topik atau rencana judul skripsi apakah berdiri di konsentrasi bidang ilmu program studi sendiri ataukah merupakan konsentrasi program studi lain.

Pengemudi kendaraan juga mesti punya peta jalan. Di dalam skripsi peta jalan berarti kerangka berpikir. Yaitu, peta yang mengubungkan antara satu titik dengan titik yang lain sehingga membentuk jalan untuk sampai tiba di tujuan. Kalau tidak punya peta pengemudi kendaraan bisa kesasar atau tersesat. Atau muter-muter sehingga tidak sampai ke tujuan. Buatlah peta, konsultasikan kepada dosen pembimbing untuk membuat peta jalan ini.

Baca Juga:  DPD ASKOPIS Jawa Barat dan Prodi KPI UIN Bandung Gelar Webinar Komunikasi Islam Jilid 2

Suatu bidang ilmu program studi pasti kompleks. Lihatlah ruas-ruas jalan di Jakarta begitu kompleksnya. Dalam arti yang satu terhubung dengan jalan yang lain. Ada ruas jalan utama dan ada ruas-ruas kecil bahkan sempit. Semua ruas jalan itu menghubungkan antara satu tempat dengan tempat yang lain. Sekarang kita bayangkan perumahan yang biasa disebut kompleks. Di situ ada portal, pintu masuk, jalan, blok, gang, dan rumah-rumah. Kompleksnya suatu bidang ilmu ternyata dapat diibartkan seperti kompleks perumahan.

Dari Mengurai Jadi Sistematis

Menulis skripsi adalah mengurai sesuatu yang kompleks menjadi sistematis. Sistematis berarti runtun, runtut, terurai, terpetakan, tidak buntu, tidak lompat, dan sebagainya. Karena sesuatu yang kompleks itu telah tersusun secara sistematis, maka ia disebut pengetahuan. Pengetahuan adalah sesuatu yang telah menjadi sistematis dari yang mulanya ia sangat kompleks.

Suatu skripsi terkadang terhubung dengan bidang ilmu lain secara multidisipliner. Multidisipliner berarti terhubung dengan disiplin ilmu lain yang bukan satu rumpun. Misalnya agama dan psikologi atau agama dan teknologi. Bayangkan lagi kompleks perumahan yang telah dipaparkan tadi. Multidisipliner berarti terhubung antara kompleks perumahan yang satu dengan kompleks perumahan yang lain.

Baca Juga:  Rumah Ibadah, UIN Bandung dan Ekosistem Taman Cinta Masjid

Tidak jadi soal menulis skripsi secara multidisipliner. Asal ada jalan yang menghubungkan dengan bidang yang lain, asal tidak menabrak dinding pembatas bidang ilmu lain, dan asal tidak lompat pagar bidang ilmu lain. Buatlah pintu masuk antara satu bidang dengan bidang yang lain.

Apapun tetap fokus pada tujuan isi skripsi. Dan menulis skripsi harus tenang. Tenang adalah kondisi emosi yang bebas gangguan dan hambatan hingga segalanya berjalan lancar. Tenang itu bukan lambat dan juga bukan menunda-nunda. Justru menulis skripsi bisa cepat tuntas kalau tenang. Seperti akar dan dahan sebuah pohon ketika tumbuh mereka sangat tenang. Cepat tuntas juga bukan berarti terburu-buru, melainkan berlari pada jejak yang menyelamatkan sampai tiba di tujuan.

Demikian, menulis skripsi adalah pelatihan “membereskan” pikiran. Tentu tidak ada yang sempurna. Justru menulis skripsi menjadi momentum untuk latihan menjernihkan pikiran sampai jiwa benar-benar tercerahkan. Di situ pasti disadari terdapat keterbatasan. Terimakasih semoga bermanfaat untuk teman-teman yang sedang menyusun skripsi.