KABARINDAH.COM, Batu — Kadang-kadang masalah sebuah destinasi wisata bukan karena tempatnya tidak menarik.
Justru sebaliknya, pemandangan sudah ada, hasil bumi melimpah, warga siap menyambut wisatawan, tetapi informasi menuju lokasi belum cukup membantu.
Kondisi itulah yang coba dijawab mahasiswa KKN Muhammadiyah Aisyiyah Kelompok 2 di Bukit Jengkoang, Desa Bulukerto, Kota Batu, Jawa Timur.
Pada Minggu (23/8/2026), mereka menghadirkan program Rute Edu-Tracking dan Media Informasi Wisata untuk membuat kawasan tersebut lebih mudah ditemukan sekaligus lebih dikenal.
Program ini tidak berhenti pada pemasangan papan penunjuk arah.
Mahasiswa juga menghadirkan barcode yang bisa dipindai wisatawan untuk mendapatkan informasi digital dan membuat website khusus yang memuat informasi tentang Bukit Jengkoang.
Wisatawan nantinya bisa memperoleh informasi mengenai rute menuju lokasi yang terhubung dengan layanan peta digital.
Informasi tentang potensi lokal pun ikut ditampilkan. Oleh karena itu, perjalanan ke Bukit Jengkoang bukan hanya soal menemukan jalan.
Namun, juga bagaimana mengenal kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Salah satu potensi yang diangkat adalah hasil pertanian warga.
Wortel, kol, brokoli, tomat, hingga cabai menjadi bagian dari hasil bumi yang diperkenalkan melalui papan informasi di kawasan wisata dan kemudian dikembangkan dalam bentuk informasi digital.

Bagi mahasiswa KKN, cara ini menjadi upaya sederhana untuk mempertemukan wisata, teknologi, dan potensi ekonomi masyarakat.
Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan.
Namun, juga dapat mengetahui apa yang ditanam dan dihasilkan petani setempat.
Ketua Kelompok Tani Hutan Wono Mulyo, Narto, mengatakan aktivitas pertanian di kawasan tersebut juga sangat bergantung pada kondisi musim.
Saat kemarau, petani yang tidak memiliki akses air biasanya harus menunggu datangnya hujan sebelum kembali menanam.
“Hasil bumi yang dihasilkan di Bukit Jengkoang antara lain wortel, kol, brokoli, tomat, cabai. Ketika musim kemarau seperti ini, petani yang tidak punya akses air biasanya tidak menanam itu sampai nunggu waktu hujan,” jelas Narto.
Kehadiran penanda arah pun mendapat sambutan dari petani setempat.
Sumardi menilai papan tersebut bisa membantu wisatawan yang baru pertama kali datang dan belum mengetahui akses menuju kawasan Bukit Jengkoang maupun Puthuk Gede.
“Penanda arah ini membantu memudahkan wisatawan yang datang dan sama sekali tidak keberatan dengan program ini,” ujar Sumardi.
Namun, semakin mudah sebuah tempat dikunjungi, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya.
Oleh karena itu, Sumardi mengingatkan wisatawan agar tidak hanya membawa pulang foto dan pengalaman.
Namun, juga menjaga alam selama berada di kawasan tersebut.
“Himbauan untuk wisatawan yang datang ke Puthuk Gede yakni agar tetap menjaga kelestarian alam dan tidak merusak alam yang ada di Bukit Jengkoang,” jelas Sumardi.
Potensi wisata di kawasan itu pun cukup beragam. Selain panorama alam, Puthuk Gede juga memiliki layanan wisata Jeep yang dikelola warga setempat.
Keberadaan layanan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk ikut memperoleh manfaat dari aktivitas wisata.
Ketua Kelompok 2 KKN, Muhajir, mengatakan program tersebut merupakan bentuk kontribusi mahasiswa untuk membantu Desa Bulukerto memperkenalkan potensi yang dimilikinya.
“Harapan dari saya terkait program kerja ini, semoga bisa bermanfaat bagi Desa Bulukerto dan tiada lain kami ingin membantu dengan semampu kami,” jelas Muhajir.
Pada akhirnya, inovasi yang dibawa mahasiswa KKN ini memang terlihat sederhana: papan penunjuk arah, barcode, dan sebuah website.
Namun, manfaatnya bisa menjadi lebih panjang. Misalnya membantu wisatawan menemukan jalan, mengenalkan hasil bumi, membuka peluang ekonomi warga.
Sekaligus juga mengingatkan bahwa keindahan Bukit Jengkoang hanya akan bertahan jika alamnya ikut dijaga.
Melalui Rute Edu-Tracking dan Media Informasi Wisata, mahasiswa KKN Muhammadiyah Aisyiyah Kelompok 2 menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu harus hadir dalam bentuk program besar.
Terkadang, membuat sebuah tempat lebih mudah ditemukan dan potensinya lebih mudah dikenal sudah menjadi langkah kecil yang berarti bagi desa dan masyarakatnya.***(Neneng Solihat)











