Kabar  

Dihadiri Ratusan Peserta, Seminar Internasional UM Bandung Bahas Potensi Bioaktif Tropis

KABARINDAH.COM, Bandung – Program Studi bersama Himpunan Mahasiswa Teknologi Pangan, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, sukses menggelar Seminar Umum Internasional 2026 pada Rabu (29/04/2026).

Acara yang berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, ini mengangkat tema ”Harnessing Tropical Bioactive Compounds: Innovations in Halal Functional Foods and Nutraceuticals”.

Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UM Bandung Arief Yunan menjelaskan bahwa kegiatan tersebut melibatkan kolaborasi dengan Universitas Putra Malaysia (UPM). Dia juga mengapresiasi gelaran seminar yang sangat positif ini.

Menurutnya, kolaborasi ini menjadi peluang emas untuk publikasi bersama dan riset kolektif. “Seminar internasional ini membuka peluang kerja sama riset dan publikasi bersama yang akan membawa Universitas Muhammadiyah Bandung menuju going global university,” ucap Arief yang disambut tepuk tangan peserta.

Lebih jauh, seminar ini, kata Arief, bahkan bisa membuka jalur pasar dan regulasi melalui sesi-sesi strategis seperti riset bersama.

“Melalui riset, startup, dan industri, kita perkuat kebersamaan untuk memberikan dampak bagi masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Dalam seminar ini hadir salah satu professor dari Universiti Putra Malaysia Amin Bin Ismail dan dosen Teknologi Pangan UM Bandung Fahmi Ilman Fahrudin sebagai narasumber yang membawakan tema-tema menarik.

Dalam paparannya, Amin menjelaskan bahwa wilayah tropis, misalnya Indonesia, memiliki kekayaan hayati yang luar biasa.

Terutama tanaman lokal yang mengandung senyawa bioaktif yang bermanfaat untuk mencegah berbagai penyakit kronis.

“Komponen bioaktif ini menawarkan potensi besar dalam pengembangan pangan fungsional yang dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara global,” ujarnya.

Namun, meskipun begitu, ada tantangan utama mengenai potensi ini. Apa saja?

Yakni di antaranya bagaimana memastikan stabilitas dan bioavailabilitas senyawa tersebut saat diproses menjadi produk pangan.

“Kita perlu memastikan bahwa manfaat kesehatan dari senyawa bioaktif ini tetap terjaga hingga sampai ke tangan konsumen melalui teknologi pengolahan yang tepat,” tegas pakar nutrisi dari Malaysia tersebut.

Sementara itu, pada sesi narasumber Fahmi Ilman Fahrudin, dia menyoroti bahwa dalam pengembangan pangan fungsional, aspek keamanan dan kehalalan harus menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

“Halal bukan hanya soal label, melainkan sebuah ekosistem integritas yang harus dibangun sejak tahap desain produk,” ungkapnya

Fahmi juga menekankan meskipun sertifikasi menjadi hasil akhir dari sebuah kepatuhan, tetapi integritas halal menjadi komitmen yang harus dijaga oleh produsen.

“Bangunlah integritas halal sejak tahap awal pengembangan produk. Itu karena sertifikasi hanya mengikuti kepatuhan yang sudah ada, bukan menggantikannya,” pungkasnya.

Kegiatan ini diikuti ratusan peserta yang terdiri atas mahasiswa dan dosen. Mereka menyimak kegiatan dari awal sampai akhir dengan diiringi berbagai diskusi menarik antara narasumber dan peserta seminar.***(FK)