Pojok  

Takut Ketinggalan Trend?

People working in modern agency relaxing during lunch break

Hati-Hati Kamu Terkena Gejala FoMO!

Oleh Hidayatul Fikra, Mahasiswa Magister Psikologi Sains Universitas Padjadjaran.

KABARINDAH.COM- Pernah nggak kamu merasa harus selalu memantau apapun yang terjadi di media sosial? Atau harus selalu mengikuti trend di TikTok? Atau kamu merasa cemas kalau ketinggalan suatu info tentang temanmu yang sedang viral dibicarakan? Hati-hati, ini bisa jadi tanda kamu terkena sindrom FoMO loh!

FoMO adalah singkatan dari Fear of Missing Out, sebuah istilah yang mengacu pada kecemasan atau ketakutan jika ketinggalan suatu isu menarik dan merasa harus selalu terhubung dengan orang lain. Istilah ini marak terjadi di kalangan anak muda terutama generasi Z yang menggunakan media sosial.

Gangguan kecemasan atau ketakutan tersebut disebabkan oleh intensitas penggunaan media sosial yang tidak dapat dikendalikan, sehingga merasa dunia maya lebih penting daripada kehidupan dunia nyata.

Menurut data survey Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), ternyata memang benar generasi Z mendominasi penggunaan internet dan media sosial di Indonesia saat ini, bahkan persentasenya mencapai 76,63%. Generasi Z yang cenderung menghabiskan waktunya untuk bermain media sosial akan terdorong membandingkan dirinya dengan orang lain.

Karena merasa demikian, semakin lama ia akan berusaha untuk tetap terhubung dengan orang lain sehingga mengetahui aktivitas atau trend di dunia maya. Individu ini akan merasa dirinya harus tetap mengikuti perkembangan zaman agar tidak dianggap kuno atau kurang update.

Baca Juga:  IMM Bantim - IMM Sumedang Sukses Gelar Historical Talkshow, Hadirkan Sejarawan Ahmad Mansur Suryanegara

Menurut psikologi, ternyata FoMO ini berkaitan erat dengan self-esteem seseorang. Self-esteem adalah evaluasi terhadap diri pribadi berdasarkan interpretasi yang diterima individu dari orang lain. Misalnya lingkungan menganggapmu sebagai orang yang penuh semangat dan menyukai tantangan, secara otomatis kamu akan merasa hal itu benar dan yakin bahwa apa yang disampaikan orang lain itu adalah sepenuhnya tentang dirimu.

Nah, apa sih kaitannya dengan FoMO tadi? Jika ditinjau dari kacamata psikologi, kaitannya bukan terletak pada self-esteem yang rendah melainkan self-esteem yang terlalu tinggi. Berbagai penelitian telah menunjukkan hubungan yang signifikan antara kedua hal ini.

Kenapa bisa? Self-esteem sangat penting bagi diri setiap individu karena perannya adalah menjaga individu tetap survive dalam kehidupannya. Namun self-esteem yang terlalu tinggi akan membuat individu merasa dirinya sangat penting sehingga harus selalu update dan terhubung dengan orang lain. Karena saat ini dunia digital sedang berada dalam puncak kejayaannya, maka individu tersebut akan merasa dia tidak bisa jauh dari media sosial sebagai lingkungan barunya dan khawatir ketinggalan suatu informasi menarik.

Individu yang memiliki FoMO cenderung lebih mementingkan dunia maya daripada dunia nyata. Bahkan untuk trend yang sedang viral di media sosial, individu tersebut akan berusaha mengikutinya meski mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Hal ini tampak pada beberapa bentuk FoMO di Indonesia, seperti investasi saham, trading, crypto, hiburan, fashion, dan life style.

Baca Juga:  Bersiaplah Ketika Memasuki Usia Tua

Investasi saham sebagaimana yang marak terjadi sejak pandemik hingga tahun 2022 saat ini membuat banyak orang berbondong-bondong menjual berbagai aset yang dimiliki, bahkan ada yang menggadaikan barang berharga hingga berhutang.  Namun sayangnya masyarakat yang terjebak dalam FoMo terhadap dunia investasi saham ini tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang hal tersebut sehingga kebanyakan dari mereka mengalami kerugian.

Selain itu, trading dan crypto juga sempat menghebohkan masyarakat Indonesia sehingga memicu FoMO. Orang awam hingga artis papan atas pun ikut bermain trading dan cypto karena tertarik dengan profit harian yang ditawarkan. Namun hal ini ternyata dapat merugikan banyak orang karena uang yang sudah ditukarkan menjadi koin tidak dapat dicairkan kembali. Untuk life style, FoMO seringkali dijumpai pada anak muda yang mengikuti trend berpakaian, pergaulan dan lain sebagainya sehingga seringkali memaksakan diri untuk memenuhi keunikan trend tersebut demi menjadi individu yang berbeda.

Jadi sebenarnya FoMO ini baik atau buruk sih untuk generasi Z? Sejatinya segala sesuatu yang menyenangkan akan terlihat baik. Keinginan untuk tetap terhubung di dunia maya dalam satu sisi akan memberikan kepuasan lain bagi seseorang. Akan tetapi hal ini perlu diperhatikan karena dampak yang merugikan pun juga tak kalah besar. Fenomena ini ternyata telah mengundang bahaya kesehatan psikis manusia seperti stress dan depresi. Bahaya lainnya juga tampak pada fenomena trading dan crypto, yang mana tidak sedikit masyarakat yang terkena imbas secara finansial karena menjadi korban penipuan.

Baca Juga:  Psikologi UIN SGD Jalin Kerja Sama dengan Puspaga Bandung

Lalu bagaimana sih langkah pencegahan agar tidak menjadi FoMO? Beberapa hal yang dapat kamu lakukan yaitu membatasi konsumsi sosial media, lebih menghargai diri sendiri, fokus pada tujuan yang akan diraih, menggali potensi yang ada dalam diri, selalu bersyukur dan berpikir positif, serta mengubah konten atau topik yang sering dilihat di dunia maya, sehingga algoritma media sosial pun menjadi berubah.

Jadi, memiliki self-esteem itu pada dasarnya penting bagi manusia, namun jangan sampai dirimu dikendalikan oleh hal-hal yang dapat membahayakan. Dan pada intinya, kembali lagi pada kutipan “bijaklah dalam bersosial media.”