Sepotong Tap di Atas Kertas

  • Bagikan

Cerita Pendek

Oleh Muh Irfhan Muktapa

Entah kenapa tiba-tiba aku ingin membuka buku tahunan kelulusan semasa kuliah. Kucari buku sialan itu di setiap sudut rumah. Bertemulah aku dengannya. Kubuka dengan perlahan-lahan.

Butuh waktu setidaknya empat tahun untuk mendapatkan buku sialan itu. Walaupun nilainya tidak begitu berpengaruh selayak kertas ijazah, buku itu lebih banyak menyimpan data-data yang penuh dengan kenangan. Di dalamnya terpampang berbagai jenis wajah, berbagai judul skripsi, dan juga bahkan berbagai nilai akhir IPK yang diperoleh oleh setiap wajah si mahasiswa.

Aku tidak begitu memperhatikan wajah-wajah mahasiswa yang tidak kukenal dalam buku itu. Kulewati wajah-wajah itu. Hingga akhirnya, kumasuki sebuah bab dalam buku itu, yang menampilkan wajah-wajah yang sangat kukenali. Sampailah aku pada satu wajah. Satu wajah dari seorang teman yang kunamai di sini sebagai Tap.

Terlihat potret Tap di sebelah kanan bawah dari buku itu. Di sana akan terlihat wajahnya dan juga berbagai data mengenainya yang tercantum. Dimulai dengan nama, hingga judul skripsi yang telah diselesaikannya. Tidak perlu aku sebutkan semua data itu. Yang jelas, H e r o E f f e c t i n I n f e r n o M o v i e  judul skripsinya. Bagi kau, yang ingin mengetahui bagaimana virus-virus bekerja, silakan baca skripsinya!

Aku tidak bisa meneruskan cerita ini jika aku tidak menceritakan bagaimana aku dan Tap kali pertama bertemu. Kami disatukan oleh universitas yang sama, fakultas yang sama, jurusan yang sama, dan sialnya juga kelas yang sama. Kini aku akan bercerita bagaimana pertemuan pertama kami. Kuharap kau tidak berhenti membaca ini.

***

“Tidak ada seorang pun yang kukenali!” Begitulah gumamanku ketika baru saja keluar dari kelas perkuliahan pertamaku. Jujur saja, tidak ada yang kukenal seorang pun. Aku mulai dengan kesendirian. Namun, pikirku, waktu pasti akan memperkenalkanku dengan beberapa teman.

Sebenarnya, aku sudah berkenalan dengan beberapa teman sebelumnya, tetapi belum ada sensasi akrabnya. Sebut saja nama-nama teman yang pertama kukenali ialah Bag, Ki, Fan, Rip, dan Yan. Bag, Ki, dan Fan adalah mereka yang kali pertama kukenali. Hal pertama yang kami lakukan dalam rangka merayakan pertemuan adalah mengunjungi rumah Bag, kami berempat.

Setelah mengenali Bag, Ki, dan Fan, Rip dan Yan datang ke kehidupanku. Kami bertiga bertemu di teras luar kelas perkuliahan. Kutawari mereka sesuatu.

“Rokok?”

Mereka menolaknya. Bukan karena mereka tidak merokok, melainkan karena mereka sudah punya rokoknya masing-masing. Kami pun mengeluarkan hembusan asap di kala itu, di teras luar kelas perkuliahan. Adegan seperti itu sungguh tidak layak ditiru!

Dengan begitu, sampailah aku mengenali seorang Tap. Sebuah waktu ketika kegiatan belajar mengajar telah usai. Di sela-sela waktu kosong itu, datanglah Tap menghampiriku. Aku belum mengenalinya, dan dia langsung mengajakku ke sebuah rumah makan. Sungguh sebuah bentuk perkenalan yang tidak lazim.

Aku tidak tahu motif apa yang dia miliki sehingga mengajakku ke rumah makan. Kami belum mengenal satu sama lain. Apakah karena dia seorang perantau dan sedang membutuhkan teman? Baiklah, aku pun seorang perantau (dekat) dan sedang membutuhkan teman di tanah rantauku ini. Maka kuiyakan ajakan Tap mengunjungi rumah makan. Kami pun makan berdua di sana. Untungnya, kami bukanlah pasangan gay.

Waktu terus berjalan. Aku sudah cukup mengenali Bag, Ki, Fan, Rip, Yan, dan juga Tap. Beberapa nama lain dengan kekonyolannya juga muncul dalam kehidupanku. Sebut saja Bat, Il, Boy dan Fik. Bukankah semakin banyak teman, semakin baik? Seperti pepatah bilang, “Seribu teman lebih baik daripada satu musuh.” Namun, bagiku pepatah itu kurang lengkap, maka akan kulengkapi, “Satu teman yang benar-benar teman lebih baik daripada seribu teman.” Kau boleh tidak setuju. Silakan, itu hakmu.

Beberapa semester kemudian, Tap memutuskan untuk tidak tinggal di kobong (asrama dalam pesantren) lagi. Tebaklah, dimana ia akan tinggal? Salah satu tempat pelariannya dari kobong adalah kosanku. Tap tinggal bersamaku selama beberapa semester. Sekali lagi, untungnya kami bukan pasangan gay.

Secara pribadi, aku tidak keberatan menampung Tap di kosanku. Tetapi secara teknis, aku takut kepada ibu kos. Ah, ibu kos! Sebenarnya aku ingin membuat cerita khusus tentang ibu kos. Karakter ibu kos sangat unik. Dia terkenal galak, apalagi jika mengetahui ada penumpang gelap di tempat kosannya. Namun, entah kenapa, selama Tap tinggal bersamaku, ibu kos tidak pernah menegurku. Mungkin hati kecilnya berkata lain. Aku tidak tahu.

Sering aku kesal terhadap Tap. Selain menumpang di kosan, dengan tanpa membayar uang sewa, Tap juga terkenal dengan kecerewetannya yang membisingi telinga. Tap mempunyai gaya bicara yang cantik. Dengan kecantikan bicaranya itu, seringkali dia membuat ledekan- ledekan kepada teman-teman, termasuk kepadaku. Mungkin teman-teman lain juga merasakan hal yang sama sepertiku.

Aku tidak bisa membalas ledekannya. Aku bukan ahli ledekan. Aku tidak tahu keahlianku apa. Lantas, apa yang kulakukan terhadap ledekan Tap yang bising itu? Aku diam, berharap Tap tahu bahwa aku sedang kesal kepadanya. Namun, ledekannya tidak berhenti, justru semakin menjadi-jadi.

Namun, di sisi lain, kekesalanku itu selalu cepat memudar. Entah kenapa, aku termasuk orang yang ‘gampangan’. Aku mudah tersinggung, aku mudah tersenyum, dan lain sebagainya.

Selain ledekannya, Tap juga sering membuatku tertawa. Itu yang membuat kekesalanku kepadanya memudar. Walau begitu, ketika aku tertawa mendengar kelakar Tap, selalu ada korban yang mungkin kesal mendengar kelakarnya. Aku kesal, yang lain tertawa. Aku tertawa, yang lain kesal. Begitu seterusnya.

Kecerewetan Tap tidak mungkin kubicarakan kepadanya secara verbal. Biarkan Tap dengan kecerewetannya menghiasi planet ini. Bahkan, aku berani bilang, dunia ini tidak akan pernah ada jika tidak ada orang yang cerewet.

Aku tidak pernah bertengkar secara fisik dengan Tap. Selain karena fisikku yang lemah, bagiku bertengkar secara fisik hanya digunakan oleh mereka yang hidup pada masa abad pertengahan. Bertengkar secara fisik menyimbolkan orang barbar. Pertengkaran yang dilakukan pada masa kini adalah pertengkaran secara psikis. Namun, Tap selalu saja mengalahkan psikisku.

Dengan Tap tinggal bersamaku di kosan, kami pun selalu berangkat menuju kelas perkuliahan bersama-sama. Selain berangkat bersama-sama, kami pun pulang menuju kosan bersama-sama. Sial, sudah kubilang padamu, kami bukan pasangan gay.

Tibalah aku di semester keenam. Semester ketika satu kelas dibagi menjadi dua kubu: kubu bahasa dan kubu sastra. Ternyata, aku ditakdirkan untuk masuk ke dalam kubu sastra. Sangat sedikit yang memilih kubu sastra. Dari sebelas kaum lelaki di kelasku, hanya tiga yang akhirnya satu kubu denganku: Bat, Il, dan Tap. Untuk kali kesekiannya, Tap menghantui kehidupanku.

Meski demikian, aku bersyukur ada Tap bersamaku. Sebab, hanya dia lelaki dari kelasku yang selalu ada di kubu ini. Bat dan Il jarang sekali duduk di bangku kelas. Yah, mereka sedang memperjuangkan sesuatu. Aku tidak berhak mengganggunya. Tetapi Tap sering menasehati mereka dengan kecerewetannya.

Tap juga sering menasehati satu teman: Bag. Tidak, tidak. Aku tidak akan menceritakan tentang itu saat ini. Cerita Bag akan berada pada kertas yang lain, pada waktu yang lain.

Pernah Tap mengajakku ke sebuah daerah yang berada di Cianjur. Aku tidak bisa memberitahukan padamu apa maksud tujuannya ke sana. Entah kenapa aku mengiyakan ajakannya itu. Pergilah kami menuju daerah tersebut.

Kami berangkat pada sore menjelang malam. Dengan menggunakan sepeda motor, perjalanan Bandung-Cianjur pun terkendali. Tiada hujan yang menghambat perjalanan kami. Hingga akhirnya, kami tiba di Cianjur pada waktu sebelum azan magrib berkumandang. Sembari menunggu azan tiba, kami pun menyempatkan jajan bakso dekat sebuah masjid. Dengan rela Tap yang membayarnya.

Tak lama kemudian azan magrib tiba. Kami segera menghabiskan bakso kami. Setelahnya kami bergegas menuju tempat wudu, berwudu, dan kemudian menunaikan salat magrib.
Selepas salat, kami duduk-duduk di teras masjid. Kami beristirahat sejenak sembari menyalakan sebatang rokok. Kami berbincang-bincang. Sial, kini aku lupa apa yang kami bincangkan itu. Di sisi lain, masjid itu akan terlihat seperti pasar ketimbang tempat ibadah. Maksudku, banyak pedagang, tukang parkir, dan ramai pengunjung yang menghiasi suasana masjid.

Kami tidak berniat duduk-duduk hingga esok di masjid itu. Waktu sedang menuju malam. Maka kami buang rokok kami, dan bergegas menuju tempat tujuan. Sial, aku lupa nama daerahnya!

Satu kali kami tersesat ketika dalam perjalanan menuju tempat tujuan. Kami pun memutar arah. Dengan waktu yang terus berjalan, kami pun cemas tidak akan sampai pada tempat tujuan. Namun, akhirnya kami sampai jua di tempat tujuan. Cemas pun hilang.

Setelah tiba di tempat tujuan, kami berpisah. Tap berurusan dengan maksud dan tujuannya datang ke daerah itu, yang tidak bisa aku sebutkan apa. Sedangkan aku, bertemu dengan seorang lelaki berambut gondrong yang terlihat lebih tua dariku, dan dia menamai dirinya sendiri dengan nama “Mang Dukun”. Bukan aku yang memberikan nama itu.

Akhirnya, Tap dengan urusannya. Aku dengan Mang Dukun. Perbincangan pun terjadi antara aku dan Mang Dukun. Jika saja pada waktu itu aku sudah mengerti YouTube, akan kurekam perbincangan kami dan jadilah sebuah podcast seperti halnya podcast Deddy Corbuzier. Sayangnya tidak kurekam itu. Namun, satu tema yang kuingat dari perbincangan dengan Mang Dukun adalah tema tentang perzinaan.

Mang Dukun dengan rambut gondrongnya (seperti mahasiswa-mahasiswa pemberontak), menerangkan panjang-lebar tentang zina. Selain itu, Mang Dukun juga berterus-terang bahwa dahulu dirinya berada di jalan yang sesat. Pada waktu perbincangan itu, Mang Dukun telah memutuskan untuk tobat. Pada masa kini, aku tidak tahu lagi bagaimana kabar Mang Dukun.

Pernah Mang Dukun memberikan nomor telepon genggamnya padaku. Kini sialnya, nomor itu hilang. Walhasil, aku hanya bisa berharap semoga cerita ini sempat sampai kepadanya.

Tap telah selesai dengan urusannya. Kami tidak berniat untuk menginap di tempat itu. Tap dan aku pun berpamitan dengan Mang Dukun. Pada malam itu, kami segera meninggalkan Cianjur dan kembali menuju Bandung.

Ketika dalam perjalanan pulang, Tap dengan penyakit cerewetnya kumat lagi. Dia terus melemparkan pertanyaan pribadi kepadaku, lebih tepatnya pertanyaan tentang perempuan.

“Bagaimana kabar Mila?” Tanya Tap. “Ah, itu tokoh fiksi,” jawabku.

Tap terus menanyakan hal seperti itu. Sedangkan aku terus meyakininya agar dia berhenti bertanya. Walhasil, sepertinya dia tidak yakin dengan jawabanku.

Malam semakin larut. Mata Tap semakin memerah. Itu sebuah tanda bahwa Tap sudah mengantuk. Bahaya. Tap pun memaksaku untuk mengendarai sepeda motornya. “Nanti ketika sudah sampai di Bandung.” Jawabku.

Dengan melihat kondisi mata Tap, aku pun terpaksa mengendarai sepeda motornya ketika tiba di Bandung. Tap sepertinya cemas dibonceng olehku. Kecerewetannya kumat lagi. Aku mengiyakan apa saja yang dikatakannya. Aku harus fokus mengendarai sepeda motor.

***

Kututup buku tahunan sialan ini. Kusimpan kembali ke tempat asalnya. Setidaknya, dengan melihat-lihat isi dari buku sialan ini, ada sepotong Tap yang dapat kuceritakan. Potongan- potongan tentang Tap mungkin akan muncul kembali dari tangan orang atau teman-teman lainnya, yang mungkin jauh berbeda dari potongan Tap-ku ini. Tunggu dulu, Tap mengirim pesan.

“Aku ulang tahun besok, tolong buatkan aku sebuah cerpen tentang diriku sendiri. Kau bersedia?” Tanya Tap dalam pesannya.

Sukabumi, 20 Juni 2020.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  • Bagikan