Sebut Jahiliyah, 5 Catatan Saiful Mujani Ihwal Pemilihan Rektor UIN Jakarta

KABARINDAH.COM-Pengajar di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Saiful Mujani memprotes pemilihan Rektor UIN yang dipilih langsung oleh Menteri Agama (Menag).

Saiful mendengar, jika kabar pemilihan Rektor UIN Jakarta ini tak transparan.

Demikian Saiful sampaikan dalam keterangannya yang dibagikan kepada wartawan, pada Senin, (14/11/2022).

Berikut 5 catatan Guru Besar FISIP UIN Jakarta perihal pemilihan Rektor.

1. Dapat kabar, seleksi calon rektor tempat saya ngajar, UIN Jakarta, akan diadakan di Hotel Sangrila Surabaya. Calon yg akan diseleksi juga semuanya dari Ciputat. Tim yg menyeleksi juga hampir semua dari Depag, Jakarta. Mengapa di Sangrila Surabaya, bukan di Depag, Jakarta, atau UIN Ciputat??

Baca Juga:  Mengikat Ilmu Melalui Karya, Jiwa, dan Media

2. Prosedur pemilihan rektor di UIN atau di bawah Depag pada intinya tidak ditentukan oleh pihak UIN sendiri seperti oleh senat, melainkan oleh Menteri Agama seorang diri. Mau-maunya Menteri aja mau milih siapa. UIN dan senat universitas tidak punya suara. Ini seperti lembaga jahiliah.

3. Pihak senat UIN hanya mencatat siapa yang daftar dan menenuhi syarat. Hasil inventaris senat diserahkan oleh rektor ke Depag untuk diseleksi oleh tim. Tim ini kemudian memilih beberapa nama untuk diajukan ke Menteri. lalu Menteri sendiri yang milih.

4. Transparansi tidak nampak. Kasak kusuk lobby alternatifnya. Sebagai guru di kampus ini malu rasanya. Saya pernah bersuara agar pemilihan rektor dengan cara jahiliyah ini diboikot saja. Tapi tidak ada yang dengar.

Baca Juga:  Prof Mahmud, Rektor UIN Bandung: PMA 68 Sederhanakan Dinamika Politik Kampus

5. Sebelum kebijakan cara pemilihan rektor seperti sekarang, Rektor UIN/IAIN dipilih oleh senat guru besar, dan telah melahirkan rektor-rektor yang kami hormati, kami cintai, dan kami banggakan seperti Alm Prof. Harun Nasution, Alm Prof. Azyumardi Azra.

Itulah protes Saiful dalam proses pemilihan Rektor UIN Jakarta.