Ibrah  

Orang Kota, Orang Desa Tak Dibeda-Beda Rasulullah

Oleh: KH. Irfan Amalee, MA & Ust Dadan Ramadhan, S.Ag 

KABARINDAH.COM-Zahir bin Haram seorang miskin dengan penampilan fisik yang tak menarik. Dia berasal dari suku beduin yang tinggal di perkampungan di luar kota Madinah.

Namun di balik semua itu, Zahir memiliki hati yang dipenuhi cinta kepada Rasulullah Saw. Setiap kali datang ke Madinah, dia selalu membawa oleh-oleh spesial untuk Rasul berupa buah segar, sayuran, madu dll. Rasulullah pun selalu memberikan oleh-oleh khas Madinah untuk Zahir saat pulang ke kampungnya.

Di suatu siang yang cerah, Zahir sedang berdagang buah-buahan dan sayuran segar di pasar Madinah. Saat asyik berdagang, tiba-tiba ada seseorang dari belakang mendekat dan menutup mata Zahir.

Baca Juga:  Lingkungan dan Pakaian Berpengaruh Terhadap Kepribadian Seseorang

Sejenak Zahir kaget, siapa gerangan sosok yang bercanda menutup matanya. Tapi lalu Zahir bisa merasakan tangan halus yang lebih halus dari sutra. Ini adalah tangan Rasulullah Saw. yang mulia.

Lalu Rasulllah berkata dengan nada bercanda, “Siapa mau beli budak ini dariku?”

 

 

Mendengar candaan Rasulllah itu, Zahir menjawab, “Wahai Rasulullah, tidak ada yang mau membeli aku sebagai budak, aku tidak ada harganya”.

Mendengar nada pesimis dari Zahir itu, Rasulullah menimpali, “Jangan berkata begitu Zahir. Sesungguhnya engkau sangat berharga, karena engkau mencintai Allah dan RasulNya”.

Begitulah satu adegan yang sangat menyentuh menggambarkan bagaimana Rasulullah akrab dan bersenda gurau dengan seorang miskin yang berasal dari desa. Rasulllah sebagai orang kota, pemimpin negara, tetap hormat pada orang desa dan papa.

Baca Juga:  Mencintai Nabi Muhammad

Bahkan saking spesialnya Zahir di mata Rasulullah, beliau menganggap Zahir sebagai keluarga:

إِنَّ لِكُلِّ حَاضِرَةٍبَادِيَةًوَبَادِيَةُاٰلِ مُحَمَّدٍزَاهِرُابْنُ حَرَامٍ

Setiap kota punya orang suku beduin, dan suku beduin dari keluarga Muhammad adalah Zahir bin Haram.

Sumber: Shahih Ibnu Hibban 3/107, Syarh As-Sunnah 13/181 Jama’ Al Wasail Fi Syarh Asysyamail.