Optimalkan Diseminasi Informasi dan Tata Kelola Data, Diskominfo Kota Sukabumi Dukung Perkuat Mitigasi Bencana Berbasis Data Hadapi Ancaman Super El Nino

KABARINDAH.COM, SUKABUMI–Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menggelar webinar strategis bertajuk “Menghadapi Ancaman Kekeringan: Penguatan Mitigasi Bencana Berbasis Data”, Rabu (26/8/2026). Diprakarsai oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Jawa Barat, forum ini diikuti secara serentak oleh jajaran Perangkat Daerah dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota se-Jawa Barat secara daring.

Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Sukabumi mengambil peran aktif dalam upaya penguatan mitigasi krisis iklim ini. Melalui Bidang Statistik, Persandian, dan Keamanan Informasi, Diskominfo Kota Sukabumi menegaskan komitmennya untuk mengawal kesiapsiagaan daerah berbasis tata kelola data yang presisi.

Statistisi Ahli Muda Diskominfo Kota Sukabumi, Zulkarnain, menyambut positif penyelenggaraan webinar statistik tersebut karena dinilai sangat krusial dalam membuka wawasan aparatur maupun masyarakat luas.

“Kegiatan ini sangat mencerahkan aparat dan masyarakat dalam kaitannya dengan kekeringan yang dihadapi saat ini. Di sinilah pentingnya data menjadi alat mitigasi yang bermanfaat untuk pencegahan bencana, dan masyarakat harus siaga terhadap hal itu,” ujar Zulkarnain di sela-sela kegiatan.

Peringatan serius disampaikan oleh Ketua Kelompok Riset Interaksi Atmosfer Laut dan Variabilitas Iklim dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin. Yang menjadi narasumber Webinar statatistik. Ia mengungkapkan bahwa fenomena yang melanda saat ini telah masuk kategori Super El Niño dengan indeks mencapai 2,37.

Kondisi tahun 2026 ini dinilai berbeda dari tahun 2023 karena kenaikan suhu terjadi secara progresif tanpa fluktuasi, di mana puncaknya diprediksi berlangsung pada November–Desember 2026 dan berpotensi melampaui angka 3°C, menembus rekor terkuat tahun 2015.

Prof Erna menjelaskan pemanasan ekstrem yang terjadi hingga kedalaman 200 meter di Samudra Pasifik menyebabkan massa udara basah terkonsentrasi di wilayah tersebut, sehingga memicu kekeringan di Indonesia. Wilayah Jawa khususnya telah mengalami kondisi atmosfer yang sangat kering sejak Juni lalu. Penilaian iklim ini mempertegas pentingnya langkah taktis dari Diskominfo Kota Sukabumi bersama jajaran instansi terkait untuk mengantisipasi dampak krisis air secara terukur di wilayahnya.

Melengkapi analisis iklim tersebut, Narasumber lainnya, Assistant Professor dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Faizal Immaduddin Wira Rahmat, menyoroti pentingnya integrasi data dan teknologi untuk memperkuat mitigasi. Faizal menjelaskan bahwa kekeringan terbagi menjadi empat jenis, yakni meteorologis (penurunan hujan), pertanian (kekurangan air pada tanah), hidrologis (penyusutan sungai dan waduk), serta sosioekonomi (krisis pasokan air bagi masyarakat).

Untuk memghadapi risiko tersebut, pemanfaatan basis data terbuka (open data) global seperti ERA5 Land dari Eropa, CHIRPS, dan GSMaP dari Jepang yang dikombinasikan dengan data lokal BMKG serta Kementerian PU. Pemanfaatan data ERA5 Land yang mampu menganalisis kelembapan tanah hingga kedalaman satu meter secara real-time ini akan menjadi acuan penting bagi perangkat daerah dalam merumuskan diseminasi informasi dan kebijakan mitigasi bencana yang tepat sasaran bagi masyarakat.

“Sesuai tugas dan fungsinya di ranah diseminasi dan pengelolaan data, kami Diskomimfo kota Sukabumi siap mendorong pemanfaatan data terbuka (open data) global ataupun yang lainnya seperti ERAS dari Land dari Eropa CHIRPS dsn GSMaP dari Jepang,”pungkas Zulkarnain