Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Kitab “Ta’limul Muta’aalim”

  • Bagikan

Oleh Tina Haryati SPdI, MPd
PNS Kemenag Kabupaten Karawang/Alumnus Pascasarjana STAI Sukabumi

 

Lantunan syair para santri salafi terdengar menentramkan hati. Syair kitab “Ta’limul Muta’alim” karya Syekh Imam Az-Zarnuji itu menjadi salah satu kitab wajib yang harus dikaji oleh para pencari ilmu di pondok pesantren.

Bernama lengkap Syekh Ibrahim bin Ismail al- Zarnuji, seorang ulama fikih dari Persia yang hidup pada abad ke 12 – 13 M, dan mengarang kitab ini pada tahun 599 H/1203 M. Kitab “Talimul Muta’alim” ini mendapat sambutan yang luar biasa dari para pencari ilmu dan para pendidik pada zamannya, bahkan hingga masa kini. Arahan-arahan yang disampaikan dalam kitab ini menjadi rujukan dalam proses pendidikan karakter.

Menurut Simon Philips, karakter adalah kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem yang melandasi pemikiran, sikap dan perilaku yang ditampilkan. Sedangkan Doni Koesoema A, memahami bahwa karakter sama dengan kepribadian.

Pendidikan karakter adalah upaya penanaman nilai-nilai kebaikan sehingga para peserta didik bersikap sesuai dengan nilai-nilai kepribadiannya. Poin utama dari sebuah pendidikan karakter adalah impelementasi nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari yang disertai pemahaman agar implementasi nilai- nilai tersebut dapat dilakukan oleh peserta didik di mana saja, meski tanpa pengawasan guru.

Dalam kitab “Ta’limul Muta’alim” banyak sekali nilai-nilai pendidikan karakter, di antaranya adalah:

1. Cinta Ilmu
Ilmu adalah cahaya. Kecintaan terhadap ilmu adalah kecintaan terhadap penerang jalan kehidupan yang akan menghantarkan pada dua kebahagian yang diimpikan yaitu bahagia dunia dan akhirat. Sebagaimana dikatakan Imam Asy-Syafiii dalam kitab “Manaaqib asy-Syafi’i” karya Imam Baihaqi:

“Barangsiapa yang menginginkan dunia, maka hendaklah dengan ilmu, barangsiapa yang menginginkan akhirat maka hendaklah dengan ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya maka hendaklah dengan ilmu”.

2. Cinta Damai
Islam adalah agama yang cinta damai. Paradigma bahwa Islam agama yang rahmatan lila’lamiin telah dicontohkan oleh kekasih Allah, Rasul pilihan, yakni Muhammad bin Abdullah, Sang Teladan hingga akhir zaman. Arti sederhana dari cinta damai adalah membuat orang lain merasa aman, nyaman dan bahagia oleh kehadiran kita.

Hindari perdebatan, dan permusuhan, jikapun harus mengalah tidaklah mengapa. Karena mengalah bukan berarti kalah, tapi seseorang yang mampu menahan emosi adalah pemenang yang sejati.

Jauhi perdebatan, apalagi berdebat dengan orang yang bodoh, karena itu adalah kesia-sian yang nyata. Sebagaimana yang Imam Asy-Syafii: “Aku mampu berdebat dengan 10 orang yang berilmu, tapi aku pasti kalah dengan seorang yang bodoh, karena orang bodoh itu tidak pernah faham landasan ilmu.” Cara terbaik berdebat dengan orang bodoh adalah diam, karena diam dalam menghadapi orang-orang bodoh adalah sebuah kemuliaan.

3. Cerdas
Syair paling masyur dalam kitab “Talimul Mutaalim” adalah sebuah syair tentang enam syarat mendapatkan ilmu yang diambil dari sahabat Ali bin Abi Thalib. Salah satu dari enam syarat itu adalah cerdas. Orang yang cerdas akan mampu menyelesaikan masalah dalam berbagai tingkat kesulitan. Mampu mencipta, mampu merasa, mampu berfikir kritis dan berimajinasi.

Kercerdasan yang dimaksud tidak hanya berorientasi pada pada kecerdasan intelektual saja, tapi juga pada keceradsan lainnya seperti kecerdasan linguistik, kecerdasan matematis/logis, kecerdasan visual, kecerdasan musikal, kecerdasan fisik, kecerdasan inter-personal, kecerdasan intra-persnal, dan kecerdasan naturalis.

Semua kecerdasan tersebut dapat saja dimiliki oleh seseorang, tapi pada umumnya hanya satu atau dua saja yang mendominasi. Oleh sebab itu, setiap orang tua tidak boleh memaksakan anaknya menjadi hebat dalam semua bidang. Cukup ketahui bidang apa yang paling menonjol lalu kembangkan dengan optimal.

Mengkaji kitab “Talimul Mutaalim”, serasa menghadirkan kembali Syekh Ibrahim bin Ismail az Zarnuji dalam suatu majelis ilmu. Padahal, beliau telah wafat berabad-abad yang lalu.

Cinta ilmu, cinta damai, dan cerdas hanyalah sebagian dari nilai-nilai karakter yang terdapat dalam kitab ini. Dengan mencintai ilmu, jalan kehidupan akan menjadi terang.

Dengan cinta damai hati akan bahagia dan membahagiakan orang lain. Dengan kecerdasan semua masalah akan terselesaikan, bagaimanapun sulitnya, tentu semua seijin Dzat yang Maha Cinta, Pencinta Kedamaian dan Dzat yang Maha Cerdas, yakni Allah SWT.

Pelajaran penting dari Syekh az Zarnuji adalah ilmu yang terus bermaanfaat. meski beliau telah wafat. Karya yang akan selalu ada, meski beliau telah tiada. Oleh karenanya, mari bertemu dalam karya. (*)

  • Bagikan