Mengikat Ilmu Melalui Karya, Jiwa, dan Media

  • Bagikan

Oleh Cucu
(Mahasiswi STAI Al-Masthuriyah Sukabumi)

Ilmu merupakan petunjuk hidup manusia. Ilmu juga memudahkan manusia dalam segala hal. Dengan ilmu segala sesuatu yang sulit akan terasa mudah.

Nah oleh karena itu, wajib kepada kita khususnya orang Islam untuk mencari ilmu sebagaimana diterangkan dalam hadis Rasul, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang islam laki-laki dan perempuan”. Di sana jelas diterangkan kewajiban kita untuk menuntut ilmu, berbagai macam cara untuk kita mengakses ilmu.

Dalam salah satu bait terdapat sebuah aforisme yang patut kita pegang teguh nilai-nilainya hingga kini, meskipun zaman telah berubah cepat. Nilai-nilai ini tidak boleh hilang, meskipun teknologi telah berkembang pesat.

Aforisme tersebut adalah: العالم بالفهم وباالمداكرة* والدرس والفطكرة والمنا ظرة

Yang namanya ilmu itu hanya bisa diakui jika diperoleh melalui proses memahami, mudzakarah (mengingat-ingat), belajar, berpikir, dan berdiskusi. Ini penting untuk kita jaga. Nilai-nilai tersebut telah pudar.

Saat ini, orang mengaku berilmu , cukup hanya dengan copy paste (copas) dari sana-sini. Bahkan, saat copas tersebut tidak dibaca sama sekali. Dipastikan tidak ada proses mempelajari, memahami, apalagi berdiskusi dan mengingat-ingat.

Semua serbatertulis dan sangat mudah disalin lalu ditempel alias di copas. Informasi yang di peroleh dengan cara copas tersebut jelas tidak dapat disebut sebagai ilmu. Karena, ilmu harus dapat dipertanggung jawabkan, memiliki sifat universal, melekat, dan pasti. Ia bukan sekedar asumsi, apalagi hasil copy.

Dulu, nilai-nilai tersebut dapat dinyatakan juga dalam sebuah aforisme: العلم فى اللصدور ( Ilmu itu adanya ya di hati). Aforisme ini sangat populer dan fenomenal pada masa-masa awal Islam, khususnya saat tradisi lisan masih menjadi yang utama. Pada masa Nabi, Sahabat, bahkan awal tabi’in, tradisi tulis sangat baru, belum familiar. Maka aforisme itu hanya berhenti sampai di situ.

Begitu pula di Negara kita, Indonesia. Pada saat negara ini masih di era tradisi lisan, aforisme tersebut juga sangat fenomenal. Orang dinyatakan berilmu jika mampu menghafal ilmu-ilmu itu diluar kepala. Tulisan atau buku tidak menjadi ukuran kepintaraan atau keilmuan seseorang. Namun, beda halnya ketika tardisi tulisan telah populer aforismenya bertambah lagi.

Setidaknya, ada dua aforisme yang muncul saing beradu, pertama adalah aforisme baru, yaitu:العلم فى السطور (Ilmu Itu Adanya Ya dikertas, dicatat). Ilmu jika dihafal saja, akan hilang ditelan masa.

Ketika penghafalnya meninggal dunia, maka ilmunya pun ikut tamat riwayatnya. Ketika penghafalnya tidak menyampaikannya, ilmu itu juga akan hilang begitu saja. Oleh karena itu, aforisme yang baru yang muncul menyambut tradisi lisan tersebut adalah bahwa ilmu itu harus tercatat. Ukuran seseorang tersebut berilmu bukanlah ia hafal ini dan itu. Semua harus tercatat rapi diatas kertas (Suthur), bukan sekedar tersimpan di hati (Shudur).

Aforisme kedua yang menjadi tandingannya adalah aforisme petahana, yaitu aforisme lama dengan sedikit tambahan kampanye ”anti kertas” dibelakangnya. Aforisme itu berbunyi “{Tetap, yang namanya} ilmu itu ya di hati, bukan dikertas. Orang yang punya banyak catatan, belum tentu pintar. Orang yang punya banyak buku, belum tentu berilmu. Boleh jadi, dia tidak memahami atau mempelajari catatan dan bukunya itu. Maka, tetap bagi aforisme ini yang disebut ilmu adalah pemahaman yang ada di hati, bukan catatan yang ada di kertas.

Lalu beberapa tahun diera pascarevolusi industri, muncul aforisme baru lagi yang menjadi akibat dari maraknya komputer sebagai budaya keilmuan. Tradisinya berubah, bukan lagi tradisi lisan atau tulisan, melainkan tradisi digital. Tabiat keilmuan sebenarnya tidak berubah, namun perilaku masyarakat terhadap ilmu pun menjadi berubah, seolah-olah muncul aforisme: “[Sekarang ], Ilmu itu ya di komputer, bukan di dalam Hati, bukan juga di atas kertas]”. Aforisme itu muncul seolah-olah menjadi pendukung buat slogan gerakan Go Green. Bahwa ilmu itu jangan di catat, tapi di ketik di komputer, biar hemat kertas, dan efesien karena tidak perlu capek-capek menulis dan menghafal.

Ini benar-benar menjadi sebuah pergeseran nilai tentang ilmu. Orang dianggap berilmu jika bisa mengoperasikan komputer. Orang-orang alim tampak menjadi culun hanya gara-gara tidak bisa komputer. Bahkan perilaku masyarakat dalam hal ilmu juga demikian. Bergeser jauh, tidak ada yang mencatat secara manual di kertas, tidak lagi ada orang yang mau menghafal ilmu. Melainkan yang ada adalah mengetik ilmu. Ilmu itu diketik, bukan dicatat bukan juga dihafal. Sebenarnya ketiganya itu sama saja.

Semua itu bukan hakikat ilmu, melainkan hanya cara mendapatkan dan menyimpan ilmu. Adakalanya dengan di hafal, adakalanya dengan di catat, adakalanya dengan diketik. Jika semua itu tidak barengi dengan proses mempelajari, memahami, mengingat-ingat dan diskusi, sebagaimana yang disebut dalam bait syair diatas, maka ia tidak akan menjadi sebuah ilmu.

Lama kelamaan, budaya komputer pun bergeser. Ia mulai ditinggalkan, dia digantikan oleh smart phone cerdas. Otaknya bernama Android, ini mesin kecil yang super canggih dan cerdas, bisa di bawa kemana-mana. Pengetahuan dan keilmuannya melebihi keilmuan orang seluruh dunia dapat terakomodir semuanya di dalamnya. Akhirnya, aforisme yang muncul dalam hal ini adalah: “[Ilmu itu (cukup) di Android, tidak perlu komputer, hafalan, apalagi catatan].

Ini lebih dahsyat lagi. Saat ini orang bisa menjadi seolah-olah berilmu kalau pegang android. Semua bisa terjawab mudah dan cepat cukup dalam hitungan detik. Tidak perlu diskusi, memahami. Bahkan tak jarang diskusinya pun telah bersedia di android , itulah era revolusi industri.

Bagi era ini, paperless itu sekedar punya banyak file buku, melainkan juga banyak akses internet yang super cepat. File buku masih memerlukan perangkat keras yang sulit di bawa kemana-mana, tidak praktis. Namun cukup dengan kuota dan data serta jaringan internet yang super cepat, semua itu dapat teratasi dengan cepat, mudah dan ringan. Jadilah, ilmu itu adanya di android, bukan di komputer, bukan di hati, bukan juga di kertas.

Keilmuan yang paling mutakhir ini adalah: العلم علا الاءنا مل لا علا ا لعقل العلم با لا بها لا با لاء فهام
“ilmu itu adanya di ujung jemari, bukan di otak (akal)”
“ilmu itu di dapat dengan gerakan jempol, bukan dengan mikir-mikir”

Ya Allah, jika sudah demikian di mana letak keutamaan ilmu yang mampu mengangkat derajat seseorang? Ampunilah hamba yang telah melenceng dari nilai-nilai keilmuan ini ya Rabb.

 

 

  • Bagikan