Bisnis  

Lukminto Pendiri Perusahaan Sritex Pembuat Seragam NATO

KABARINDAH.COM – Bicara soal seragam tentara, Sritex adalah sebuah nama besar dalam bisnis itu. Dalam sejarah perjalanan Sritex, sosok Ie Djie Shien alias Lukminto (1946-2014) adalah kunci.

Dari perjuangannya sejak muda Lukminto mampu membangun Sritex hingga sebesar sekarang, meski kini badai sedang hinggap di tubuh Sritex sebagai perusahaan.

Setidaknya, Lukminto sudah berdagang ketika usianya baru 20 tahun. Mula-mula, di tahun 1966, dia sudah berdagang kain di Pasar Klewer Solo, Jawa Tengah.

“Waktu itu saya wira-wiri menjual tekstil eceran. Lalu, meningkat sampai mempunyai sebuah kios tetap. Rupanya, saya memang hoki berbisnis tekstil, sehingga lambat laun saya bahkan bisa membuka pabrik tekstil sederhana yang berlokasi di Jl. Kyai Maja di tepi Bengawan Solo,” aku Lukminto dalam Saya Memilih Islam (1999) yang disusun Abdul Baqir Zein.

Dia mendirikan pabrik kain putih dan berwarna di Solo sekitar tahun 1968. Mula-mula perusahaan bernama UD Sri Rejeki Isman. Di tahun 1978, perusahaan Lukminto sudah terdaftar di Departemen Perdagangan sebagai perseroan terbatas, namanya lalu menjadi PT Sri Rejeki Isman Textile dan kemudian dikenal sebagai Sritex.

Baca Juga:  Ingin Dapat Uang Jajan? Jangan Pernah Malu Berjualan, Ini Cara Memulainya

Tahun 1982, Sritex mendirikan pabrik tenun pertamanya. Tahun 1992, bisnis Sritex membesar dengan pabriknya menjadi 4 lini produksi-yang meliputi pemintalan, penenunan, sentuhan akhir dan busana.

“Pada tanggal 3 Maret 1992, pabrik kami tersebut turut diresmikan oleh Bapak Soeharto bersama 275 pabrik aneka industri lainnya di daerah Surakarta, Jawa Tengah,” aku Lukminto.

Lukminto tentu bangga karena pabriknya memiliki jumlah karyawan yang mencapai sekitar 20.000 orang. Karyawannya kebanyakan beragama Islam. Ketika belum beragama Islam, Lukminto-yang di rumah Konghucu dan di sekolah Kristen itu, pernah bermimpi shalat. Lukminto baru masuk Islam pada 1994.

Prestasi Sritex yang cukup membanggakan terjadi di tahun 1994. Prestasi ini bukan karena Sritex memenangkan pengadaan seragam ABRI, tapi lebih dari itu.

Baca Juga:  Perusahaan Amerika Ini Tetap Menggaji Karyawannya Meskipun Masa Pandemi

Buletin Indonesia, News & Views (Volume 7 Maret 1994) memberitakan Sritex telah memenangkan kontrak pengadaan seragam dengan North Atlantic Treaty Organization (NATO) alias Pakta Pertahanan Atlantik Utara, dengan nilai yang kala itu US$ 10,87 juta. Setelah Perang Dingin selesai Sritex dipercaya membuat 500.000 seragam militer NATO.

“Selain itu, Sritex juga dipercaya untuk memproduksi seragam militer TNI dan kepolisian Indonesia. Sampai saat ini, PT Sritex memproduksi seragam militer lebih dari 30 negara,” tulis Hermawan Kertajaya dan Ardhi Ridwansyah dalam Local Champion (2011:183).

Sritex yang sukses dalam pengadaan seragam militer di beberapa negara itu lalu tahun 2013 melantai di bursa saham dengan nama PT Sri Rejeki Isman Tbk. Semua juga karena Lukminto.

Di masa orde baru, seperti disebut George Junus Aditjondro dalam Menyongsong matahari terbit di puncak Ramelau (2000:146), adik laki-laki daripada Menteri Penerangan Harmoko yang bernama Noor Slamet Asmoprawiro adalah rekan bisnis Lukminto juga. Itu bukan hal yang mengherankan.

Baca Juga:  Ruben Onsu Buat Pabrik Frozen Food dengan Nama Bensu Nutrindo

“Saya dilahirkan pada tanggal 1 Juni 1946 di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur. Kami bertetangga dengan keluarga Bapak H. Harmoko, Ketua DPR/MPR RI. Beliau adalah sahabat saya sejak kecil. Meskipun akhirnya jalan hidup kami berbeda, namun itu tak membuat jarak di antara kami,” aku Lukminto. Harmoko juga kelahiran Kertosono tahun 1939.

Semasa hidupnya, orang seperti Lukminto tak bercita-cita seperti kebanyakan anak Indonesia, seperti jadi tentara atau dokter. Untuk jadi abdi negara orang seperti Lukminto sulit, karena berdarah Tionghoa.

Lukminto mengaku, “kami tak bisa jadi ABRI, kami tak boleh jadi pegawai negeri.” Namun, tanpa pengusaha kain seperti Lukminto golongan-golongan itu tak bisa berseragam.