KABARINDAH.COM, Malang — Jalan di atas kebun warga itu sebenarnya bukan jalur yang istimewa.
Namun, ketika malam datang dan pencahayaan minim, ruas jalan di Desa Duwet Krajan, Malang, berubah menjadi titik yang cukup berisiko bagi warga yang melintas.
Kondisi tersebut menarik perhatian Kelompok 8 Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah Aisyiyah (KKN MAs).
Alih-alih sekadar menjalankan program yang bersifat seremonial, 12 mahasiswa dari sembilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) itu memilih menjawab persoalan yang mereka temukan langsung di lapangan.
Mereka kemudian menggagas Jalur Aman Malam Hari (JAMARI), sebuah program sederhana berupa pemasangan reflektor pada tembok penahan tanah di sepanjang ruas jalan yang minim penerangan.
Bagi mahasiswa, reflektor mungkin terlihat sebagai fasilitas kecil.
Namun, di jalur yang berada di atas kebun warga dengan perbedaan ketinggian bahu jalan, penanda cahaya itu dapat membantu pengguna jalan mengenali batas ruas jalan ketika malam tiba.
Pengerjaan JAMARI dimulai Sabtu (15/8/2026) dan rampung pada Minggu (23/8/2026) siang.
Program tersebut lahir dari pengamatan mahasiswa terhadap kondisi jalan dan kebutuhan keselamatan warga, bukan sekadar dari daftar kegiatan KKN.
Kepala Dusun Tosari Prawito menyambut baik pemasangan reflektor tersebut.
Menurutnya, keberadaan penanda visual itu membantu pengguna jalan lebih waspada, terutama karena posisi jalan cukup tinggi dari lahan warga.
“Sangat bermanfaat, karena ketinggian posisi bahu jalan dari lahan warga, dan kebetulan tembok penahan tanah sudah ada, sehingga reflektor menambah kesan bagi pengguna jalan untuk lebih berhati-hati dalam berkendara,” ujar Prawito.
Ketua Kelompok 8 KKN MAs M Hendy Setyo N mengatakan JAMARI muncul setelah tim melakukan observasi dan menemukan persoalan keselamatan di salah satu ruas jalan Desa Duwet Krajan.
“Kami membuat program Jalur Aman Malam Hari (JAMARI) ini merupakan hasil observasi kami dengan melihat urgensi di salah satu jalan di Desa Duwet Krajan yang minim pencahayaan dengan kondisi jalan di atas kebun warga,” kata Hendy.
Menurutnya, program tersebut diharapkan tidak hanya menjadi peninggalan fisik selama mahasiswa berada di desa.
Namun, benar-benar memberikan manfaat bagi warga setelah kegiatan KKN berakhir.
“Kami berharap program ini bisa menjadi manfaat bagi para warga di Desa Duwet Krajan, membantu penerangan sehingga jauh dari hal-hal yang tidak diinginkan,” tuturnya.
JAMARI hanyalah salah satu bagian dari rangkaian pengabdian Kelompok 8.
Para mahasiswa juga mencoba mengembangkan potensi lokal melalui olahan kerupuk labu siam yang mereka beri nama LASIDUK, membantu promosi UMKM melalui pembuatan spanduk kreatif, serta mengenalkan profil desa lewat video dokumenter digital.
Di tengah kesibukan program tersebut, mereka juga membangun kedekatan dengan warga melalui kegiatan sederhana, seperti lomba tarik tambang bersama Karang Taruna setempat.
Kehadiran Kelompok 8 menunjukkan bahwa KKN tidak selalu harus dimulai dari program besar.
Kadang-kadang pengabdian justru berangkat dari kemampuan melihat persoalan kecil di sekitar, lalu menghadirkan solusi sederhana yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.***











