Pojok  

Islam Berkemajuan dan Gerak Nyata Perubahan

Oleh: Ace Somantri, Dosen UM Bandung

KABARINDAH.COM, Bandung – Sejak isu kebangkitan Islam dan panislamisme merebak, diskursus atau wacana ilmu keislaman selalu muncul dalam permukaan wajah umat Islam. Istilah-istilah atau nomenklatur ilmu keislaman senantiasa memberikan khazanah, kadang-kadang sering menjadi tema-tema kajian dan seminar.

Bagi Muhammadiyah sudah menjadi keharusan membuat wacana keilmuan Islam. Hal ini penting karena untuk memberi dan menstimulasi para aktivis dan pegiat kajian keislaman dan juga umumnya umat Islam.

Muhammadiyah sejak hadir dan bersyiar di berbagai pelosok negeri senantiasa berusaha memberikan khazanah ilmu dan amal kebaikan. Terkenal sejak awal-awal gerakan pembaruan Islam di Nusantara, Muhammadiyah sebagai organisasi tajdid dan modern. Sumber dan model gerakan maupun karya amal Muhammadiyah menjadi institusi bermanfaat bagi umat.

Pada dasarnya, Islam itu maju sejak diturunkan sebagai ajaran untuk umat manusia. Hal itu bisa kita lihat dari perjalanan sejarah nabi dan rasul bahwa ajaran Islam senantiasa mengusung sekaligus mempraktikkan semangat berkemajuan.

Peradaban di dunia Barat atau Eropa faktanya berkembang karena warisan Islam, bukan warisan ajaran zoroaster atau semacamnya. Sangat yakin bahwa tidak ada ajaran selain Islam yang lebih maju. Semua lini kehidupan maju karena hakikat ajaran Islam.

Baca Juga:  Penulis Super Sabar dan Jalani Korespondensi

Bahkan, sangat jelas Allah menegaskan dalam wahyu terakhir QS Al-Maidah ayat 3 “ … pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu…”

Kata “sempurna” sangat menegaskan yakni bukan hanya maju, melainkan lebih dari sekedar itu, yaitu menyelamatkan manusia di muka bumi bagi siapa pun yang menjalankan semangat ajaran Islam tersebut.

Pemantik kemajuan

Islam berkemajuan merupakan istilah dan jargon sebagai pemantik gerakan sosial Islam di Muhammadiyah. Tujuannya untuk tetap konsisten atau istikamah memajukan umat tanpa melihat latar belakang suku, ras dan agama apa pun.

Memajukan bermakna kata kerja sehingga maksud dari kata tersebut membangun spirit dan paradigma beragama Islam di Muhammadiyah terus-menerus bekerja dan berkarya amal nyata. Memantik semangat perubahan. Kemajuan suatu institusi pada dasarnya bergantung pada spirit dan motivasi para penggerak, pembaru, dan pencerahnya.

Sekali lagi, ajaran Islam adalah ajaran paling maju dan memajukan. Namun, hari ini Islam seakan-akan identik dengan kemiskinan hartawi maupun kefakiran ilmu. Fakta ini sangat bisa dirasakan dengan mata jelas.

Baca Juga:  Spiritual Marketing, Koperasi Serbamahal, dan Keberkahan

Hal itu bukan menunjukkan Islam mundur, melainkan umat Islam harus bisa maju. Pasalnya terindikasi umat Islam selama berabad-abad mengalami kemunduran sejak daulah Bani Abasiyah hancur dan bubar tak bersisa.

Berharap besar kepada Muhammadiyah, tidak kepada yang lain, bahwa umat Islam saat ini “berpangku tangan” akan kemajuan umat Islam itu sendiri. Pada sisi lain, setelah satu abad lebih, wajah Muhammadiyah secara simbolik mencapai prestasi gemilang.

Puluhan ribu amal usaha menyebar di seluruh Nusantara. Kehadirannya mampu menebar kebaikan kepada semua orang. Berapa juta lulusan dan alumni sekolah dari pra sekolah hingga perguruan tinggi. Berapa juta orang yang sakit jiwanya tertolong, dirawat, dan diobati di rumah sakit. Berapa ribu anak duafa, fakir, dan miskin yang dilayani makan dan minumnya di panti asuhan milik Muhammadiyah.

Tak terhitung nilai material dari Muhammadiyah yang diserap oleh umat dan bangsa ini. Muhammadiyah tidak menagih untuk dikonversi dengan nilai angka material kepada negara karena Muhammadiyah lahir untuk mencerakan dunia.

Gerakan nyata

Pada awal gerakannya, para penggerak, tokoh pembaru, dan pencerah Muhammadiyah mampu menghantarkan kemerdekaan Indonesia dari belenggu Hindia Belanda.

Baca Juga:  Hadirkan Dua Ahli, Teknik Industri UM Bandung Selenggarakan Kuliah Umum

Ide dan gagasan mereka menjelma menjadi rumusan falsafah dan undang-undang negara yang hingga kini tetap ada. Sebagai wujud terima kasih, negara menganugerahi mereka dengan gelar Pahlawan Nasional. Pun sama pada era reformasi, tokoh Muhammadiyah menghantarkan negara keluar dari cengkeraman rezim orde baru.

Setelah itu, adakah momentum nasional yang menjadi sejarah bangsa yang dihantarkan oleh penggerak? Apakah kita dan para penggerak hari ini sudah sejauh mana melakukan tajdid-tajdid monumental untuk umat dan bangsa? Karena kiprah gerakan yang diperbuat, sulit rasanya kita mengklaim sudah berbuat banyak amal nyata.

Para penggerak Muhammadiyah menghantarkan Indonesia sebagai negara merdeka dan melahirkan gerakan reformasi untuk mengeluarkan negara dari rezim orde baru.

Abad ini, para pengerak dan pembaru akan membuat momentum apa? Semoga risalah Islam berkemajuan benar-benar melahirkan gerakan nyata monumental berskala nasional atau bahkan internasional untuk kemasalahan semesta.

Tajdid kubra yang digagas pada abad 21 ini harus benar-benar terwujud. Minimal para penggerak Muhammadiyah mampu mengeluarkan negara dari cengkeraman oligarki. Hal itu apabila terwujud dengan baik, maka akan menjadi sejarah besar bagi Muhammadiyah.***