Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Akidah Akhlak dalam Membangun Karakter Peserta Didik

Oleh Rena Yuliarti Deva
(Magister Pendidikan STAI Sukabumi)

Fenomena peserta didik terlibat dalam aksi-aksi tindakan kriminal dan perilaku menyimpang kian marak. Tak hanya itu, masyarakat juga dibuat miris dengan berbagai kasus di kalangan peserta didik seperti kekerasan antarpelajar dan ketidaksopanan peserta didik pada guru juga orang tuanya. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pemberitaan di media cetak, elektronik, serta online tentang kekerasan (bullying) dan tawuran yang melibatkan pelajar.

Akhlak peserta didik dewasa ini tengah mengalami kemerosotan yang hebat. Dunia pendidikan yang harusnya mampu membuat peserta didik menjadi insan yang berprestasi dan berperilaku mulia, kini sedang mengalami problematika dehumanisme yang sangat krusial.

Masalah di atas, bukan lagi masalah kecil yang bisa dipandang sebelah mata. Sudah saatnya kegagalan sistem pendidikan nasional disikapi. Dibutuhkan niat suci dan tekad bulat serta keseriusan dan kerja bersama dari berbagai pihak untuk mampu mengembalikan visi, misi, tujuan, dan fungsi pendidikan nasional pada jalur yang benar agar mampu menumbuhkembangkan serta membentuk watak demi mewujudkan kehidupan yang bermartabat.

Diperlukan sebuah upaya dalam menumbuhkan karakter peserta didik, salah satunya dengan menerapkan budaya keagamaan peserta didik di sekolah. Budaya religius merupakan salah satu metode pendidikan nilai yang komprehensif, karena dalam perwujudannya terdapat inkulnasi nilai, pemberian teladan dan penyiapan generasi muda agar dapat mandiri dengan mengajarkan dan memfasilitasi pembuatan-pembuatan keputusan moral secara bertanggungjawab dan keterampilan hidup yang lain.

Baca Juga:  Anak ialah Anugrah dari-Nya, Didiklah Mereka Sepenuh Hati

Pun dengan adanya proses pembelajaran, peserta didik bisa memperoleh ilmu pengetahuan serta menambah pengenalan terhadap sesuatu dengan menggunakan akal pikiran dan pengalaman sehingga dapat dengan mudah terealisasinya sebuah internalisasi. Internalisasi akan terjadi apabila individu atau peserta didik bisa menerima pengaruh dan bersedia bersikap menuruti pengaruh itu dikarenakan sikap tersebut sesuai dengan apa yang dipercayai dan sesuai dengan sistem yang dianutnya.

Sikap demikian itulah yang biasanya merupakan sikap yang dipertahankan oleh individu dan biasanya tidak mudah untuk berubah selama sistem nilai yang ada dalam diri individu yang bersangkutan masih bertahan.

Dalam mengatasi kesenjangan antara pengetahuan dan pengamalan, antara teori dan praktik dan kehidupan beragama yaitu dengan mengaplikasikan nilai-nilai Akidah Akhlak melalui budaya keagamaan. Agar budaya tersebut menjadi nilai-nilai yang tahan lama, maka harus ada proses internalisasi budaya. Internalisasi adalah proses menanamkan dan menumbuhkembangkan suatu nilai atau budaya menjadi bagian diri (self) orang yang bersangkutan. Penanaman dan penumbuhkembangan nilai tersebut dilakukan melalui berbagai didaktik metodik pendidikan dan pengajaran.

Baca Juga:  Dukung “Green Campus”, Kelompok Pecinta Alam Arkadia UIN Jakarta Tanam Pohon di Kampus PPG

Salah satu hal yang penting lagi adalah budaya keagamaan dapat digunakan sebagai wahana pelaksanaan pendidikan nilai-nilai Akidah akhlak. Nilai-nilai Akidah akhlak akan dapat dibentuk dan kualitas pendidikan akan mampu ditingkatkan dengan anak didik melakukan pembelajaran dengan metode pembiasaan, sehingga nilai-nilai religius akan langsung terinclude ke dalam diri anak didik, dengan anak melakukan kegiatan yang merupakan bagian dari budaya keberagamaan.

Internalisasi diartikan sebagai suatu penghayatan nilai-nilai atau norma-norma sehingga menjadi kesadaran yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang juga merupakan pola atau konsep yang dijunjung tinggi oleh manusia diantaranya mengenai beberapa masalah pokok yang berhubungan dengan Islam, seperti nilai aqidah, nilai ibadah dan akhlak yang kemudian dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan.

Internalisasi nilai pendidikan Aqidah akhlak merupakan hal yang penting dilakukan dalam suatu lembaga pendidikan. Internalisasi nilai agama merupakan hal yang urgen dan harus terjadi karena dalam internalisasi nilai agama terdapat hubungan timbal balik antara pendidik dan peserta didik. Dalam hal ini, pendidik tidak hanya berfungsi sebagai pengajar saja, namun juga sebagai pembimbing dan muaddib atau murabbi bagi peserta didik, yakni sebagai orang yang bertugas membimbing, mengarahkan, menunjukkan serta menginternalisasikan nilai-nilai agama kepada anak didiknya.

Baca Juga:  Peran Keluarga dalam Penanaman Moral Anak di Masa Pandemi

Pembelajaran akhlak mengandung makna internalisasi transformasi nilai-nilai Islam ke dalam pribadi peserta didik dalam upaya membentuk pribadi muslim yang beriman, bertakwa dan berilmu pengetahuan.

Pembelajaran AKidah Akhlak memiliki kontribusi yang besar dalam memberikan motivasi kepada peserta didik untuk mempelajari dan mempraktikkan Akidahnya dalam bentuk membiasakan akhlak terpuji dan menghindari akhlak tercela dalam kehidupan di keluarga, sekolah dan masyarakat.

Al-Akhlak al-karimah sangat penting untuk dipraktekkan dan dibiasakan oleh peserta didik dalam kehidupan individu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara terutama dalam rangka mengantisipasi dampak negatif dari era globalisasi dan krisis multidimensional.