Ibrah  

Hakikat Cinta

Oleh Ratna Juwita
(Kepala SMP Muhammadiyah 6 Sukabumi/Magister Pendidikan STAI Sukabumi)

Cinta dalam pandangan Islam bukanlah sekadar perasaan jiwa, getaran hati, pancaran naluri dan terpautnya hati yang mencinta pada pihak yang dicinta. Apalagi, dengan semangat menggelora dan wajah yang selalu berbinar layaknya cinta monyet yang menghiasi dunia remaja saat ini. Dan bukan pula cinta yang salah kaprah di hari Valentine yang diagung-agungkan setiap Februari.

Islam sebagai agama yang fitrah memandang persoalan cinta sangatlah luas. Dan Islam membagi persoalan cinta yang seharusnya dijalankan secara seimbang dan harus dari sumber yang benar yaitu Alqur’an dan hadis.

Ada beberapa arti cinta dalam hadis, yaitu cinta Kepada Allah dan Rasul, cinta kepada orang tua, dan cinta kepada sesama/lawan jenis. Tentunya cinta yang dianjurkan oleh syariat Islam adalah cinta karena Allah SWT.

Baca Juga:  Agar Kamu Nggak Gelisah, Galau dan Merana, Dekatilah Allah. Inilah 4 Langkah Mendekati-Nya

Cinta kepada Allah SWT dan Rasul akan mendorong hamba dan menghasilkan cahaya Iman yang luar biasa. Pengharapan yang tinggi hanya mengharap Mardhotillah, menimbulkan rasa optimis dan syukur atas nikmat-Nya. Cinta kepada orang tua adalah pembuluh utama yang menyalurkan konsep persaudaraan yang begitu utuh dan tulus. Dan, cinta kepada sesama/lawan Jenis merupakan hal yang mendasar dalam mengatur interaksi seseorang dengan yang lainnya yang akan menimbulkan rasa kemanusiaan pada diri seseorang dan memotivasi memperbanyak keturunan.

Tatanan Cinta tersebut tentunya harus seimbang dan tak boleh berlebihan. Melihat realitas banyak gangguan jiwa berawal dari rasa cinta yang tinggi kepada hal-hal yang bersifat materi, lawan jenis, pekerjaan atau jabatan mengakibatkan seseorang terus ingin memuaskan rasa cintanya yang pada hakikatnya tidak akan terpuaskan. Tetapi, kita harus mahabbah/cinta karena Allah SWT.

Baca Juga:  Saat Sendirian, Ingatlah Allah Yang Mahadekat

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang berkata kepada Nabi Isa AS, “Wahai Nabi Isa, tolong mintakan kepada Tuhanmu agar dia memberikan rasa cinta meski hanya sebesar semut gula.”

“Wahai Saudaraku, engkau tidak akan mampu meski cinta itu hanya sebesar semut gula,” jawab Nabi Isa mengingatkan. Pemuda itu kembali berkata, “Kalau begitu, mintakan untukku separuh saja.”

Melihat kesungguhan pemuda itu Nabi Isa AS segera Berdoa, “Ya Tuhanku, berikan dia kecintaan kepadamu setengah dari semut gula.”

Selang beberapa hari kemudian, Nabi Isa AS menjumpai pemuda itu lagi. Namun, beliau sama sekali tidak menemukannya dan mendapat kabar bahwa pemuda itu sudah menjadi gila dan mengasingkan diri di atas gunung. Matanya tidak berkedip memandang kelangit tanpa mendengar seruan siapapun termasuk Nabi Isa AS karena dalam hatinya telah disemayamkan rasa cinta kepada Allah SWT walau sangat kecil, setengah semut gula. Wallahu a’lam.

Baca Juga:  Pojok: Cinta dan Benci

Cinta yang berlebihan terhadap materi, kedudukan, lawan jenis hanya akan mendatangkan kekecewaan. Sejatinya cinta itu hanya semu. Namun, cinta karena Allah SWT akan menumbuhkan rasa pasrah, ridha, syukur dan menjadikan seseorang menjadi tenang, bahagia dan berkah.