Pojok  

Guru, Ucapan Terima Kasih dan Kenangan Sepanjang Masa

Oleh: Ace Somantri, Ketua LP3K Universitas Muhammadiyah Bandung dan Wakil Ketua PD Muhammadiyah Kabupaten Bandung

KABARINDAH.COM — Sejak dini hingga dewasa, berkata dan berbicara terbata-bata, pengalaman setiap orang yang lahir ke dunia fana.

Disadari oleh kita semua bahwa siapa pun mereka, di mana pun berada, dalam situasi seperti apa pun kita, jiwa nurani mengakui kita bisa berbahasa, bisa ini dan itu, dilengkapi dengan berbagi varian ilmu yang dikuasai, sangat besar peran guru kita.

Saat guru-guru kita kadang-kadang marah, kesal, kecewa, dan tidak suka pada kita, itu kita rasakan, bahkan dendam kesumat pun kadang terjadi. Itu semua adalah dinamika selama belajar bersama.

Kita yakin peristiwa tersebut tidak semua menyadari bahwa kita sedang sama-sama belajar. Kita banyak menerima petuah dan pepatah, termasuk guru kita menerima peristiwa sebagai referensi bahan ajar di luar buku ajar untuk diurai menjadi materi ajar.

Baca Juga:  Pandemi, Drama Korea, dan Bisnis Kuliner yang Menjanjikan

Banyak cerita dan kisah setiap orang selama belajar di mana pun belajarnya, dari sejak tingkat dasar, menengah, dan perguruan tinggi pasti pengalamannya berbeda-beda.

Selama bertahun-tahun pengalaman belajar, kita tidak mengetahui pasti akan dan atau mau jadi apa setelah kita melalui proses itu. Hal yang pasti dalam terma pendidikan belajar adalah usaha yang disadari untuk mengubah diri dari tidak mengetahui menjadi memahami dan mengerti.

Kemudian dari tidak bisa menjadi terampil dan tidak kalah penting bahkan sangat penting yaitu hasil belajar harus ada perubahan sikap serta berpikir yang lebih dewasa.

Ilmu dan pengetahuan yang diterima serta dapat dikuasai harus mampu diamalkan sesuai dengan pemahaman yang dipahami oleh kita.

Kebermanfaatan ilmu bukan terletak pada sejauh mana kita sukses dalam profesi dan keahlian tertentu, melainkan nilai kebermanfaatan yang mampu mengubah dan menjaga diri kita tetap konsisten menyadari bahwa kita memiliki tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh.

Baca Juga:  Kalau Kita Berharap, Bersiaplah Kecewa

Selain itu, kita juga harus mampu memberikan nilai tambah, bernilai guna, dan bermanfaat secara sustainable atau terus-menerus kepada orang lain. Jangan berhenti pada diri kita.

Salah besar mengukur keberhasilan belajar seorang murid atau siswa dengan harta kekayaan yang dimiliki. Sesungguhnya itu bukan indikator utama kesuksesan, bahkan bisa jadi ketika harta itu didapat dengan cara tidak benar, bisa menjadi indikator malapetaka.

Siapa pun mereka yang belajar bersama, entah itu dia siswa nakal (baong), belum tentu selamanya nakal. Kemudian tidak selamanya juga kecerdasan diukur dengan nilai raport dan kelulusan yang memuaskan serta membanggakan.

Justru indikator hasil akhir sebuah pendidikan yang baik masa hidupnya, itu bergantung pada sejauh mana nilai dasar kebaikan terus di-upgrade setiap saat dan dikembangkan sesuai dengan tuntutan zaman.

Baca Juga:  Wujudkan Kampus Sehat Covid-19, UM Bandung Miliki Unit Pelayanan Kesehatan

Selama kita masih hidup, maka kesempatan terbuka lebar. Guru kita di mana pun pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk murid atau siswanya di mana pun mereka berada.

Guruku, dari sekian waktu yang terlewati, jiwa ikhlasmu tetap bersemayam dalam ingatanku. Kebaikan yang engkau berikan menjadi pengingat perbuatan dosaku.

Jauh engkau di mana pun berada, sekalipun tidak pernah terungkap kata maaf dari muridmu. Kita yakin bahwa kebaikan tetap kebaikan, marahmu adalah pepatah dan petuah, kecewamu dan kekesalanmu adalah motivasi dan inspirasi.

Tidak sukamu menjadi spirit dan semangat juangku untuk meraih kesuksesan hakiki. Terima kasih guruku. Semoga jasamu tidak ditelan masa. Maafkan kami murid-muridmu karena sering membuatmu marah, kesal, dan kecewa. Itulah kami muridmu sekaligus anakmu.