Pojok  

Islam dan Seni

 

Oleh Aditya Bahrun Nur Pratama, SIkom, MPd
(Magister Pendidikan STAI Sukabumi)

Seni merupakan pengejewantahan dari filsafat estetika yang menekankan pada dimensi keindahah untuk mencapai pada tahapan estetika harus dimulai dengan kajian filosofis, metafisika, epistemologi kemudian etika. Seni biasanya dimaksudkan untuk menunjuk pada semua perbuatan yang dilakukan atas dasar dan mengacu pada keindahan.

Secara umum, ada dua pemikiran atau aliran yang berkaitan dengan seni tersebut yakni fungsional dan ekspresional. Aliran fungsional yaitu bahwa seni harus mempunyai fungsi dan tujuan-tujuan tertentu terutama dalam moral. Aliran ini dipelopori antara lain, Plato, Aristoteles, Bernard Shaw, Saint Augustine dan Sigmund Freud. Tujuan seni adalah untuk membebaskan pikiran seorang seniman atau penikmat seni dari ketegangan dengan keinginan-keinginan yang tertahan baik dari jiwa maupun ruh.

Aliran Ekspresional yaitu suatu pemikiran yang menyatakan bahwa seni adalah luapan perasaan sehingga ia tidak mempunyai tujuan dan tidak mengejar tujuan diluar dirinya, kecuali tujuan dalam dirinya sendiri. Slogan yang terkenal adalah “seni untuk seni” (I’art pour I’art). Keindahan adalah kualitas seni yang khusus, ia adalah nilai dasar yang absolut, menyeluruh dan tertinggi.

Baca Juga:  Sarat Nilai Kepahlawanan, Begini Arti Lagu Yamko Rambe Yamko Asal Papua

Seni adalah sebuah ekspresi antara jiwa dan ruh yang mengandung dan mengungkap pesan melalui keindahan. Syair, nyanyian, musik, tarian, lukisan atau pahatan sampai peragaan dalam sebuah pentas, semuanya adalah seni selama terpenuhi terutama dasar-dasar seni salah satunya adalah keindahan. Seni juga merupakan sebuah keindahan, ia dapat tampil dalam beragam bentuk dan cara.

Tidak mudah dalam mendefinisikan sebuah keindahan. Kendati nalar meletakkan syarat dan ukuran tetapi bukan nalar tersebut yang menetapkannya. Sumber syarat dan ukuran terdapat dalam diri manusia atau masyarakat. Allah subhanahu wata’ala menganugerahkan manusia “rasa” bagaikan sebuah receiver yang peka sehingga dengan mudah untuk seseorang dalam menangkap, merasakan dan menyambut sebuah pesan.

Seni adalah keindahan, apapun bentuk dan caranya selama arah yang ditujunya mampu mengantar manusia ke nilai-nilai luhur maka ia disebut seni Islami. Oleh sebab itu, Islam dapat menerima aneka ekspresi keindahan selama keindahan tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai al-Khair dan al-Ma’ruf yaitu nilai-nilai universal yang diajarkan Islam serta nilai lokal dan temporal yang sejalan dengan budaya suatu masyarakat yang selama tidak bertentangan dengan al-Khair.

Baca Juga:  Stereotype dan Xenophobia

Rasulullah Shallallahu’Alaihi wa Sallam bersabda “Allah Maha-Indah menyukai keindahan”. Dia menganugerahkan manusia melalui fitrah menyukai keindahan. Karena itu, mustahil seni dilarang-Nya kecuali jika ada unsur luar yang menyertai seni tersebut. “Siapa yang tidak tergerak hatinya di musim bunga dengan kembang-kembangnya atau oleh alat musik dengan getaran nadanya, maka fitrahnya telah mengidap penyakit parah yang sulit diobati” Al-Ghazali.

Karya, karsa dan rasa yang mengantar kepada peningkatan bukan saja diizinkan-Nya, tetapi direstui oleh-Nya sebaliknya semua yang mengantar ke selera rendah dibenci bahkan dikutuk-Nya. Siapapun yang mempertemukan secara indah wujud ini dengan Tuhan, maka upaya tersebut termasuk seni Islami sebaliknya yang tidak mempertemukan secara indah wujud ini dengan Tuhan bukanlah seni Islami.

Baca Juga:  Islam Jalan Tengah

Seni merupakan sarana ekspresi pada keindahan yang diciptakan Allah. QS. Saba [34]: 13 “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari Gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada diatas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih”.

Oleh sebab itu, sebuah seni mampu mengantarkan manusia kepada Tuhan melalui peningkatan baik dari jasmani maupun rohani. Sebaliknya seni juga mampu membawa manusia sampai ke titik rendahnya karena selera yang dimiliki oleh manusia tersebut minim dan tidak mempunyai kualitas yang tinggi khususnya dalam hal keindahan yang menjadi dasar seni itu sendiri. Wallahu a’lam.