KABARINDAH.COM, Sukabumi — Sejarah tidak selalu harus dikenang melalui buku, museum, atau monumen. Di Kota Sukabumi, sejarah justru mengalun lewat petikan gitar, dentuman drum, dan suara para aparatur sipil negara (ASN).
<span;>Suasana berbeda terasa di Gedung Juang 45 Kota Sukabumi pada 12-13 September 2026.
Para ASN dari berbagai perangkat daerah seolah meninggalkan sejenak rutinitas pelayanan pemerintahan untuk tampil di atas panggung dalam Senandung Sejarah Sukabumi Festival.
Festival band ASN Pemerintah Kota Sukabumi itu digagas Forum Komunikasi Pegawai0⁰ Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Kota Sukabumi dan mendapat dukungan dari berbagai pihak.
Sebanyak 23 band ambil bagian dalam festival tersebut. Mereka tidak hanya datang untuk berkompetisi, tetapi juga membawa semangat kebersamaan sekaligus menunjukkan sisi lain kehidupan para aparatur pemerintahan.
Di balik seragam dan rutinitas pekerjaan, para ASN ternyata memiliki ruang kreativitas yang tak kalah menarik. Panggung festival menjadi tempat mereka menyalurkan kegemaran bermusik.

Ada yang memainkan gitar, menggebuk drum, memainkan bas, hingga berdiri sebagai vokalis dengan penuh percaya diri di hadapan penonton. Gedung Juang 45 pun berubah menjadi ruang perjumpaan. Musik menjadi bahasa yang mempertemukan para ASN dari berbagai latar belakang dan perangkat daerah.
Kehadiran 23 band membuat festival berlangsung semarak. Masing-masing kelompok membawa karakter dan warna musiknya sendiri. Tak hanya penampilan dari band ASN, penyelenggara juga menghadirkan sejumlah musisi tamu untuk menambah kemeriahan acara. Di antaranya Strike dan Classic Vibes.
Kehadiran guest star tersebut membuat panggung festival semakin hidup sekaligus memberi kesempatan bagi para peserta dan penonton menikmati pertunjukan musik dalam suasana yang lebih santai.
Namun, Senandung Sejarah Sukabumi Festival tidak sekadar berbicara tentang musik. Pemilihan Gedung Juang 45 sebagai lokasi kegiatan menghadirkan makna tersendiri. Gedung yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah perjuangan itu menjadi saksi bagaimana generasi masa kini merawat ingatan tentang masa lalu dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Musik menjadi jembatan antara sejarah, kreativitas, dan kebersamaan. Bagi ASN yang sehari-hari berkutat dengan pelayanan publik, administrasi, program pembangunan, hingga berbagai urusan pemerintahan, panggung festival memberikan ruang untuk tampil sebagai pribadi dengan minat dan bakat yang beragam.
Dari panggung itulah pesan sederhana muncul menjadi ASN bukan berarti kehilangan ruang untuk berkarya. Senandung Sejarah Sukabumi Festival akhirnya bukan hanya tentang siapa yang tampil paling baik. Lebih dari itu, festival tersebut menjadi perayaan kebersamaan ASN sekaligus cara kreatif untuk menghadirkan suasana berbeda di tengah kehidupan pemerintahan.
Selama dua hari, Gedung Juang 45 tidak hanya menyimpan cerita masa lalu. Di tempat itu, 23 band ASN menambahkan cerita baru cerita tentang musik, persahabatan, kreativitas, dan semangat kebersamaan yang tumbuh di lingkungan Pemerintah Kota Sukabumi.











