Ethereum, Mata Uang Kripto yang Dipakai Beli Foto NFT Ghozali Everyday

KABARINDAH.COM – Sebelumnya, masyarakat sempat dihebohkan dengan kabar Ghozali Everyday yang mendapatkan keuntungan miliaran rupiah dari aset NFT atau Non Fungible Token miliknya. Mahasiswa bernama lengkap Sultan Gustaf Al Ghozali menjual foto selfienya sebagai aset NFT di marketplace OpenSea.

Aset NFT-nya laris manis dengan pembayaran Ether atau Ethereum. Bagi kalian yang baru mengenal dunia cryptocurrency mungkin akan bingung dengan kata Ethereum. Maka dari itu, mari kita bahas bersama-sama dan mengenal lebih dalam tentang Ether atau Ethereum.

Apa itu Ethereum?

Ether adalah mata uang kripto yang berasal dari open-source berbasis blockchain, Ethereum. Ethereum ini menjadi platform perangkat lunak terdesentralisasi yang juga menciptakan mata uang kripto Ether (ETH).

Ethereum yang resmi diluncurkan pada tahun 2015 ini, memungkinkan Smart Contracts and Distributed Applications (DApps) bisa berjalan tanpa batas waktu (downtime), kontrol, penipuan dan gangguan pihak ketiga.

Ethereum membangun jaringan blockchain yang berfokus kepada koin Ethereum. Sehingga, para developer koin dapat membuat koinnya masing-masing di atas jaringan Ethereum ini. Lebih luasnya, Ethereum adalah bahasa pemrograman (turing complete) yang bantu jaringan blockchain agar tetap berjalan.

Jenis mata uang kripto Ethereum memiliki fitur smart contract yang berguna untuk memastikan integritas di semua node. Setiap kode di satu node, dieksekusi dengan cara yang sama pada semua node. Sehingga memungkinkan Ethereum untuk menyebar berbagai aplikasi.

Baca Juga:  Selain Ghozali Everyday, Ini 5 NFT Termahal di Dunia

Dalam dunia jaringan blockchain, node merupakan perangkat elektronik yang terhubung ke jaringan dan terdapat IP address. Teknologi ini yang merupakan titik akhir dari transaksi di dalam blockchain.

Awal Mula Kemunculan Ethereum

Di tahun 2013, salah satu pendiri Bitcoin Magazine, Vitalik Buterin, merilis laporan resmi tentang pengusulan implementasi blockchain baru yang lebih fungsional. Proposal tersebut menjadikan cikal bakal munculnya Ethereum blockchain.

Pada akhirnya, Ethereum Foundation diciptakan setelah berhasil menarik minat banyak orang dan mendapatkan banyak dukungan teknis serta keuangan. Ethereum Foundation adalah organisasi nirlaba dari Swiss yang mulai menjadi pengembang Ethereum.

Pada tahun 2014, penjualan Ether mulai mendapatkan respons yang sangat luar biasa. Ether digunakan untuk berbagai tujuan seperti diperdagangkan sebagai mata uang digital di cryptocurrency dan digunakan untuk menjalankan aplikasi serta memonetisasi pekerjaan.

Pada tahun 2015, mata uang kripto bernama Ether atau disingkat ETH mulai diperdagangkan, tepatnya pada 7 Agustus 2015. Saat itu, harga ETH adalah US$2,83 atau sekitar Rp 41 ribu lebih per kepingnya.

Tahun 2016, Ethereum terpecah menjadi dua blockchain, Ethereum dan Ethereum Classic. Hal tersebut disebabkan karena terjadi pencurian dana yang sudah dikumpulkan sebanyak US$50 juta. Oleh karena itu, dibentuklah Ethereum baru dengan keamanan yang lebih kuat.

Baca Juga:  Tahun 2022 Ini Bursa Kripto Indonesia Dibentuk, Kemendag RI: Sarana dan Prasarana Siap!

Ethereum pun mulai banyak diminati pada tahun 2017. Karena saat itu, initial coin offering atau penerbitan koin perdana (ICO) menjadi lebih populer. Harga ETH ketika ICO sedang di puncak popularitasnya, bisa mencapai US$1.200 per keping.

Di September 2019, ETH menjadi mata uang virtual terbesar kedua di pasar digital setelah Bitcoin. Pada dunia cryptocurrency, mendapatkan Ether jauh lebih cepat dibandingkan mendapat Bitcoin. Selain itu, unit Ether lebih banyak beredar di pasar dibandingkan dengan Bitcoin.

Di 2020, popularitas Ethereum semakin melonjak ketika proyek decentralized finance (DeFi) berkembang. Banyak startup yang mulai tertarik dengan mata uang digital Ethereum karena perannya sebagai pilar finansial, pinjaman, pengelolaan dan agunan tanpa melibatkan bank.

Pasalnya, saat ini Ethereum menjadi saingan dari Bitcoin, yang sama-sama merupakan mata uang kripto berteknologi blockchain. Memang, kemunculan Bitcoin pada tahun 2019 ini juga menjadi pendorong bagi inventor lainnya untuk menciptakan lebih banyak mata uang kripto.

Begini Cara Kerja Ethereum

Mata uang digital Ethereum menggunakan konsep transaksi terdesentralisasi atau decentralized application (DApps). Ethereum ini bekerja sebagai platform di mana nantinya semua orang bisa mengunggah kode yang disebut smart contract.

Baca Juga:  Kabar Baik untuk Pecinta Kripto Harga Bitcoin Naik Dua Kali Lipat!

Siapa pun bisa menerbitkan smart contact dan mengirim transaksi. Singkatnya, Ethereum dan smart contract ini seperti program komputer yang berjalan secara otomatis sesuai dengan perintah yang ada di dalam kontrak. Penggunaan fitur smart contract ini cenderung lebih murah untuk dieksekusi dan lebih aman, karena di program tidak ada pengawasnya.

Ethereum ini sama dengan mata uang kripto lainnya, di mana sama-sama menggunakan teknologi blockchain. Di blockchain, segala transaksi Ethereum akan diverifikasi dan dicatat pada public ledger atau buku besar yang transparan dan tentunya aman.

Untuk bisa diperjualbelikan, mata uang Ether atau ETH ini harus melalui proses mining, proses menambahkan transaksi ke blockchain agar semua orang bisa menyetujui rangkaian transaksinya. ETH ini sebagai mata uang digital dapat digunakan untuk bertransaksi atau untuk berinvestasi.

Itu dia pembahasan untuk mengenal lebih dalam apa itu Ethereum. Pada intinya, Ethereum ini merupakan mata uang digital yang masuk ke dalam keluarga cryptocurrency dengan sistem peer-to-peer dan teknologi blockchain.

Untuk bisa menjalankan aset digital NFT, Anda memerlukan dompet kripto atau crypto wallet karena transaksi NFT akan menggunakan mata uang kripto. Bukan hanya ETH saja, mata uang yang bisa digunakan untuk jual beli NFT juga beragam, tergantung dari marketplace yang Anda gunakan.