Pojok  

Erick Thohir, Visi Futuristik dan Generasi Muda Indonesia

Oleh: MUHAMMAD IRSYAD KHALID — Sekretaris Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Jawa Barat

KABARINDAH.COM — Anak muda adalah aset masa depan yang harus senantiasa dijaga dan dibina. Selain itu, mereka juga akan menggantikan peran para pemangku kebijakan di masa depan.

Terlebih sekarang Indonesia telah, sedang, dan akan mengalami bonus demografi (demographic dividend). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam piramida kependudukan Indonesia itu didominasi oleh kaum produktif yaitu anak muda.

Selain bonus demografi, ada cita-cita Indonesia Emas 2045 yang masih menjadi PR bagi negara Indonesia untuk bisa mewujudkannya. Kedua momentum tersebut diibaratkan seperti dua belah mata pisau, di satu sisi bisa menjadi hadiah dan di sisi lain bisa menjadi musibah.

Akan menjadi hadiah jika anak muda sekarang memiliki kemampuan-kemampuan abad 21 (21st century skills) dan akan menjadi bencana yang mengerikan bagi generasi produktif apabila negara Indonesia salah treatment dalam memberdayakan generasi mudanya.

Salah satu segmen yang menjadi penyokong pemberdayaan Bonus Demografi dan Indonesia Emas 2045 itu adalah dunia entrepreneurship. Dalam konteks ini, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merupakan mitra berdaya potensial yang mampu menjadi penggerak anak muda agar senantiasa bisa menumbukan serta berdaya dalam persaingan sengit pasar bonus demografi.

Isu ini sudah harus menjadi perhatian bersama bahwa ke depannya identitas anak muda harus terus diperkuat dengan adanya wadah-wadah inklusif yang mengakomodir semua potensi dan bakat yang dimiliki oleh anak muda. Khususnya lagi dalam bidang entreupreneurship dan kreatifship.

Baca Juga:  Inspirasi Lesti Kejora, Sempat Alami Gagal Total Bangun Usaha Clothing

Dengan adanya urgensi itu, Menteri BUMN, Erick Thohir, telah menginisiasi pembentukan wadah yang diperuntukkan bagi para generasi muda mengembangkan potensi dan bakat dirinya dalam berwirausaha yaitu dengan membentuk BUMN Muda.

Wadah tersebut resmi dibentuk pada 14 Juni 2021 dengan tujuan untuk mencetak para generasi muda penggerak transformasi di BUMN. Selain itu, wadah tersebut pun adalah bentuk realisasi dari agenda dan target transformasi human capital yang telah ditetapkan oleh Menteri BUMN Erick Thohir bahwa harus ada peningkatan persentase generasi muda di bawah 42 tahun di jajaran BOD dan BOD-1 BUMN minimal berjumlah 5 persen pada 2021 dan 10 perseb pada 2023.

Dengan adanya BUMN muda akan memudahkan BUMN menginternalisasikan core values BUMN yaitu AKHLAK (Amanah, Kompeten, Harmonis, Kolaboratif, Adaptif, dan Loyal) sedini mungkin kepada para pemuda, pemegang harapan bangsa.

Dalam rangka empowering youth ada beberapa pembuktian konkret yang telah BUMN lakukan.

Pertama, BUMN telah mengakomodir akses bagi generasi muda yang inovatif dalam menghadapi tantangan era disrupsi. Melalui Digico (ekosistem platform digital), Merah-Putih Fund (pendaanaan startup lokal), Data Center, dan Cloud.

Baca Juga:  Ganda Putri Indonesia Yulfira/Febby Melaju ke Semifinal Spain Masters

Kedua, ada platform Kuncie yang menyediakan berbagai courses untuk menambah wawasan diri, memperkaya jaringan, juga saling berdiskusi.

Ketiga, BUMN telah menyelanggarakan Program Magang Bersertifikat dalam rangka mengedukasi para generasi muda tentang dunia professional.

Bagi Erick Thohir, anak muda bukanlah penghalang atas kemajuan, tetapi mereka itu adalah penggerak perubahan. Jika peradaban Indonesia terus disetir oleh para pemangku kebijakan yang berpikir secara konvensional, Indonesia tak akan pernah bisa menjadi negara maju apalagi menjadi negara adidaya.

Hadirnya BUMN Muda merupakan angin segar bagi para generasi muda yang selama ini dicap sebagai manusia lugu yang tak bisa apa-apa juga minim pengalaman. Jika dahulu anak muda tabu untuk bisa memimpin, sekarang Indonesia bisa lebih maju dengan bersumbu pada anak muda.

Bagi generasi muda, hal yang terpenting dalam memperjuangkan idealisme itu adanya pengakuan identitas bagi mereka. BUMN Muda telah mengangkat identitas anak muda untuk terus bisa berkembang bersama-sama.

Selain itu, wadah tersebut telah menjadikan generasi muda sebagai digital natives yang mengendarai dunia digital sesuai kebutuhan bukan sesuai paksaan.

Walaupun begitu generasi muda sebagai digital natives pun harus tetap memperhitungkan juga menghargai para generasi tua sebagai digital immigrants. Mereka harus bersama-sama memperjuangkan kemajuan dan perubahan negara Indonsia ke arah yang lebih baik lagi.

Menyadur kalimat dari buku berjudul Born Digital karya John Palfrey dan Urs Gasser, From the perspective of a Digital Native, identity is not broken up into online and offline identities, or personal and social identities. Because these forms of identity exist simultaneously and are so closely linked to one another. Digital Natives almost never distinguish between the online and offline versions of themselves.

Baca Juga:  Untung Vs Aji Mumpung, Etika dan Moralitas dalam Berdagang

(Dari perspektif Digital Native, identitas tidak dipecah menjadi identitas online dan offline, atau identitas pribadi dan sosial. Karena bentuk identitas ini ada secara bersamaan dan terkait erat satu sama lain. Digital Natives hampir tidak pernah membedakan antara versi online dan offline dari diri mereka sendiri).

Sadar atau tidak sadar, BUMN Muda pun telah memberikan ruang yang compatible dan comfortable bagi generasi muda mengeskpresikan dirinya dalam hybrid world.

Tak melulu untuk terus bertegur sapa dalam program tatap muka juga tak harus selalu mengembangkan diri dalam tatapan layar, semua bisa dilakukan secara bersamaan.

Masa depan bangsa bergantung pada generasi muda, Masa depan generasi muda bergantung pada baiknya kualitas kebijakan, dan kualitas kebijakan bergantung pada siapa yang mengendalikan. ***