Kabar  

Dosen UM Bandung: Pendidikan Inklusi Dimulai dari Penerimaan Orang Tua

KABARINDAH.COM, Bandung – Penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan tumbuh kembang anak sekaligus keberhasilan pendidikan inklusi.

Hal tersebut disampaikan dosen prodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) UM Bandung Dr Esty Faatinisa SPSI SPd MPd dalam program GSM Aisyiyah Jabar pada Selasa (02/06/2026) yang membahas penerimaan orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus.

Menurut Esty, pendidikan inklusi tidak dapat hanya mengandalkan kesiapan sekolah. Peran keluarga, terutama sikap dan keterlibatan orang tua, menjadi fondasi utama dalam mendukung perkembangan anak.

“Penerimaan orang tua merupakan langkah awal yang sangat menentukan. Ketika orang tua mampu menerima kondisi anak, maka proses pendampingan, pendidikan, dan pengembangan potensi anak akan berjalan lebih optimal,” ujarnya.

Esty menjelaskan bahwa orang tua anak berkebutuhan khusus, terutama anak dengan Autism Spectrum Disorder (ASD), umumnya menghadapi tekanan psikologis yang lebih besar dibandingkan orang tua lainnya. Tidak sedikit yang harus melalui proses panjang sebelum akhirnya mampu menerima kondisi anak secara utuh.

Ia menuturkan bahwa proses menuju penerimaan sering kali diawali dengan fase penolakan, kebingungan, hingga tawar-menawar. Pada tahap ini, banyak orang tua berusaha mencari berbagai pengobatan dengan harapan anak dapat sembuh sepenuhnya.

“Menuju kata menerima bukanlah perjalanan yang instan. Ini merupakan proses psikologis yang panjang dan berliku hingga akhirnya orang tua mampu melihat anak sebagai individu yang unik dengan potensi yang bisa terus dikembangkan,” katanya.

Lebih lanjut, Esty mengungkapkan bahwa terdapat sejumlah faktor yang menghambat penerimaan orang tua. Di antaranya tekanan dari keluarga besar yang masih memiliki ekspektasi perkembangan anak secara normal, konflik dalam rumah tangga, hingga stigma masyarakat terhadap disabilitas.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada keterlambatan deteksi dini dan intervensi yang seharusnya diberikan kepada anak. Padahal, keberhasilan terapi dan pendidikan sangat dipengaruhi oleh keterlibatan aktif orang tua dalam mendampingi anak di rumah.

Sebaliknya, dukungan pasangan, lingkungan sekolah yang inklusif, dan komunitas yang ramah terhadap anak berkebutuhan khusus menjadi faktor penting yang mempercepat proses penerimaan.

Esty menegaskan bahwa penerimaan orang tua memberikan dampak positif yang besar bagi anak. Lingkungan keluarga yang menerima mampu menciptakan suasana yang aman dan nyaman sehingga membantu mengurangi kecemasan, tantrum, maupun perilaku maladaptif pada anak.

Selain itu, orang tua yang telah menerima kondisi anak juga cenderung lebih fokus mengembangkan potensi dan kemandirian anak dibandingkan sekadar mencari cara untuk menyembuhkan kondisi yang dimiliki.

Dalam kesempatan tersebut, Esty juga mengajak warga Muhammadiyah dan Aisyiyah untuk menjadi bagian dari gerakan inklusi dengan menghentikan stigma terhadap anak berkebutuhan khusus dan keluarganya.

Menurutnya, masyarakat perlu menjadi sistem pendukung yang memberikan ruang yang aman bagi keluarga ABK, bukan justru menghadirkan penilaian dan penghakiman yang memperberat beban mereka.

“Menerima dan memperjuangkan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus bukan sekadar bentuk pengasuhan. Ini merupakan wujud syukur atas ketetapan Allah sekaligus ikhtiar untuk memuliakan martabat sesama manusia,” pungkasnya.***(FA)