Kabar  

Dari Sampah Organik Menjadi Solusi, UM Bandung Cetak Agen Lingkungan Baru

KABARINDAH.COM, Bandung – Permasalahan sampah organik dan pencemaran Sungai Citarum tidak cukup diselesaikan melalui aksi bersih-bersih semata.

Perubahan yang berkelanjutan membutuhkan masyarakat yang memahami persoalan lingkungan sekaligus memiliki keterampilan untuk mengelolanya.

Berangkat dari gagasan tersebut, Prodi Bioteknologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersama Rumah Zakat mengembangkan program peningkatan literasi lingkungan bagi warga Desa Berdaya Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat.

Melalui pelatihan Training for Trainer (TfT) Ecoliteracy dan Pembuatan Ecoenzyme yang digelar di Saung Edukasi Desa Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu (25/07/2026), tim dosen dan mahasiswa Prodi Bioteknologi UM Bandung membekali masyarakat dengan pengetahuan serta keterampilan mengelola sampah organik secara ramah lingkungan.

Program ini diikuti oleh ibu rumah tangga, pemuda, kader lingkungan, dan tokoh masyarakat sebagai upaya memperkuat kapasitas warga dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Ketua tim pengabdian, Luthfia Hastiani Muharram, menjelaskan bahwa program tersebut dilatarbelakangi oleh meningkatnya persoalan sampah organik dan pencemaran lingkungan, terutama di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum.

Menurutnya, penyelesaian masalah lingkungan harus dimulai dari meningkatnya literasi masyarakat agar mampu mengelola sampah secara lebih bijaksana dan berkelanjutan.

Ketua Relawan Desa Berdaya Cihampelas sekaligus penggerak Barokah Rancage Cihampelas Foundation Aam Aminudin menyambut baik program tersebut.

Ia mengajak masyarakat untuk tetap menjadi bagian dari solusi meskipun persoalan pencemaran lingkungan masih terus terjadi.

“Meskipun banyak yang tidak peduli dan pencemaran terus terjadi, kita tidak boleh berhenti belajar dan terus beraksi menjaga lingkungan,” ujarnya.

Dalam sesi edukasi, dosen Prodi Bioteknologi UM Bandung Haryanto mengajak peserta memahami penyebab pencemaran sungai melalui konsep ecoliteracy.

Ia menjelaskan fenomena eutrofikasi, yakni kondisi ketika sungai menerima kelebihan unsur hara dari limbah organik ataupun residu pertanian dan peternakan sehingga memicu pertumbuhan eceng gondok secara berlebihan.

“Nutrisi memang dibutuhkan, tetapi ketika jumlahnya berlebihan justru merusak keseimbangan ekosistem,” jelasnya melalui diskusi interaktif yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.

Materi tersebut terasa dekat dengan pengalaman warga. Sejumlah peserta, Yayu dan Pipit, mengisahkan perubahan Sungai Citarum yang dahulu menjadi jalur transportasi sekaligus sumber mata pencaharian masyarakat.

“Dulu Sungai Citarum menjadi jalur transportasi lokal. Barang lebih mudah dikirim menggunakan perahu. Setelah sungai tercemar, ikan-ikan mati, sungai dipenuhi eceng gondok, dan transportasi air pun berhenti,” ungkap keduanya.

Luthfia menambahkan, masyarakat memang telah memanfaatkan eceng gondok sebagai pupuk maupun pakan ternak.

Namun, ia mengingatkan bahwa tanaman tersebut berpotensi menyerap logam berat dan zat pencemar sehingga perlu diuji terlebih dahulu sebelum dimanfaatkan sebagai pakan.

Selain pembekalan teori, peserta juga mengikuti praktik pembuatan ecoenzyme, yakni cairan hasil fermentasi limbah organik rumah tangga yang dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk organik cair, hingga aktivator kompos.

Peserta mempraktikkan seluruh tahapan, mulai dari pemilihan bahan, pencampuran sesuai komposisi, hingga teknik fermentasi dan penyimpanan yang benar.

Melalui pendekatan Training for Trainer (TfT), UM Bandung dan Rumah Zakat berharap peserta tidak hanya mampu menerapkan pengetahuan tersebut di rumah masing-masing.

Namun, menjadi agen edukasi yang menyebarluaskan praktik pengelolaan sampah organik kepada masyarakat lainnya.

Program ini turut didukung dengan bantuan kit ecoenzyme, papan tulis, dan media edukasi untuk memperkuat aktivitas pembelajaran di Saung Edukasi Desa Cihampelas.

Kolaborasi ini menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan lingkungan tidak hanya bergantung pada teknologi atau kebijakan. Namun, pada meningkatnya kesadaran dan kapasitas masyarakat.

Melalui edukasi berbasis partisipasi, perguruan tinggi dan mitra sosial berupaya mendorong lahirnya perubahan yang dimulai dari lingkungan terkecil dan berkelanjutan.