KABARINDAH.COM, Bandung — Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kelompok KKN Dukuh 1 mengenalkan teknik octaco (octagonal composter) sebagai metode sederhana untuk mengolah sampah organik rumah tangga.
Pengenalan tersebut dilakukan melalui seminar dan pelatihan pengelolaan sampah di Kantor Desa Dukuh, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Senin (31/08/2026).
Kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja Tim KKN Dukuh 1 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dr Irianti Usman MA. Seminar dan pelatihan diikuti oleh ibu-ibu PKK dari RW 1 hingga RW 13 Desa Dukuh.
Pengelolaan sampah organik menjadi fokus kegiatan karena sampah rumah tangga merupakan salah satu jenis sampah yang paling dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat.
Apabila tidak dikelola dengan baik, penumpukan sampah dapat menimbulkan persoalan bagi kebersihan dan kondisi lingkungan.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan teknik octaco atau octagonal composter. Teknik ini merupakan pengembangan dari metode pengelolaan sampah asal Jepang yakni Takakura.
Dengan bentuk dan penerapan yang lebih sederhana, octaco diharapkan dapat memudahkan masyarakat dalam mengolah sampah organik secara mandiri di rumah.
Sebelum menentukan metode yang digunakan dalam kegiatan, Tim KKN Dukuh 1 terlebih dahulu berkonsultasi dengan Lutfia, salah satu dosen Prodi Bioteknologi UM Bandung, yang turut berperan dalam pengembangan teknik Takakura menjadi Octaco.
Pemilihan metode tersebut mempertimbangkan kemudahan penggunaan serta kemungkinan penerapannya dalam skala rumah tangga.
Tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, kegiatan ini menghadirkan Wawan Hendrawan sebagai pemateri sekaligus fasilitator.
Ia merupakan Fasilitator Ecovillage Terbaik Provinsi Jawa Barat Tahun 2015. Dia memberikan materi mengenai pentingnya pengelolaan sampah dan penerapannya di lingkungan masyarakat.
“Jika masyarakat melihan dari untung rugi, maka untuk pengelolaan sampah akan berdampak sangat sia-sia. Jika masyarakat melihat dengan dari sosial dan bentuk ibadah, maka pelaksanaannya bukan masalah besar,” ujar Wawan.
Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan materi mengenai permasalahan sampah.
Sekaligus materi pengenalan dan praktik penerapan teknik octaco untuk mengolah sampah organik.
Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan pengetahuan praktis yang dapat diterapkan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Tim KKN Dukuh 1, pengelolaan sampah tidak hanya dilakukan ketika sampah telah menumpuk.
Upaya tersebut perlu dimulai dari sumbernya, yakni rumah tangga, melalui kebiasaan memilah dan mengolah sampah.
Melalui kegiatan ini, Tim KKN Dukuh 1 berharap teknik octaco dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah organik yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat Desa Dukuh.
Selain membantu mengurangi sampah rumah tangga, penerapan metode tersebut diharapkan dapat mendorong perubahan kebiasaan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Program ini juga menjadi bentuk kolaborasi antara mahasiswa KKN, pemerintah desa, kader PKK, dan masyarakat dalam mencari solusi terhadap persoalan lingkungan.
Dengan pengetahuan dan praktik yang telah diberikan, pengelolaan sampah diharapkan dapat terus dilakukan masyarakat meskipun program KKN telah berakhir.
“Dari pengelolaan sampah rumah tangga, perubahan lingkungan dapat dimulai”.***(Alpin/Aziz/Bewara Pers)











