Kelurahan Warudoyong Kota Sukabumi Bangun Kesadaran Warga, Sampah Dipilah hingga Bernilai Ekonomi

KABARINDAH.COM, Sukabumi– Persoalan sampah menjadi perhatian Pemkot Sukabumi di tengah kondisi tempat pembuangan akhir (TPA) yang mulai mengalami kelebihan kapasitas. Masyarakat pun didorong untuk mengubah kebiasaan dalam mengelola sampah, terutama dengan melakukan pemilahan sejak dari rumah.

Hal tersebut mengemuka dalam Pelatihan Kader Kesehatan Masyarakat PKK dan Posyandu bertema “Smart Waste Community: Pemberdayaan Masyarakat melalui Teknologi Pengelolaan Sampah untuk Mewujudkan Green Economy dan Lingkungan Berkelanjutan” yang digelar di Kelurahan Warudoyong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Senin (31/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Ketua TP PKK Kota Sukabumi Ranty Rachmatillah, Camat Warudoyong Abdul Muiz, dan Lurah Warudoyong Nuke Nurulaini.

Ketua TP PKK Kota Sukabumi Ranty Rachmatillah mengatakan, persoalan sampah tidak cukup hanya diselesaikan dengan mengangkut sampah dari permukiman ke TPA. Menurut dia, masyarakat perlu terlebih dahulu memilah sampah berdasarkan jenisnya sebelum dibuang.

“Bagaimana kita semua menyadarkan masyarakat dulu tentang sampah. Karena sekarang di TPA akhir sudah overload,” ujar Ranty. Ia menjelaskan, sampah dari rumah tangga perlu dipisahkan menjadi sampah organik, anorganik, dan residu.

Dengan pemilahan tersebut, sampah yang akhirnya dibawa ke TPA diharapkan benar-benar hanya berupa sampah residu yang sudah tidak dapat dimanfaatkan kembali. “Mana yang anorganik, mana yang organik, mana yang residu. Sehingga nanti yang datang ke sana betul-betul sampah yang merupakan sisa dari memilih dan memilah,” katanya.

Ranty juga menilai pengelolaan sampah dari tingkat rumah tangga hingga lingkungan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
<span;>Keberadaan bank sampah di tingkat kelurahan, RT, maupun RW dinilai dapat menjadi salah satu solusi.

Sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual dapat dikumpulkan dan disetorkan ke bank sampah. Sementara sampah organik dapat diolah menjadi pupuk atau dimanfaatkan untuk kebutuhan lingkungan.“Ketika kita sudah memiliki bank sampah di setiap kelurahan atau setiap RT/RW, pada akhirnya itu bisa juga memiliki nilai jual ekonomis,” kata Ranty.

Namun, menurut dia, perubahan kebiasaan masyarakat bukan perkara mudah. Karena itu, kader PKK, Posyandu, pemerintah kelurahan, hingga kecamatan harus terlebih dahulu memberikan contoh. “Dari kita dulu yang mencontohkan,” ujarnya.

Ranty mengatakan, pengelolaan sampah juga berkaitan erat dengan persoalan lingkungan dan risiko bencana. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyumbat saluran air dan berpotensi memperparah banjir ketika hujan turun.

“Dampak kalau kita tidak mengelola sampah, tentunya yang paling besar dan paling fatal yang saya takutkan adalah banjir,” kata dia. Karena itu, pemilahan sampah dari rumah dinilai menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi dampak lingkungan.

Lurah Warudoyong Nuke Nurulaini mengatakan, edukasi pengelolaan sampah juga berkaitan dengan upaya menciptakan lingkungan yang sehat. Menurut dia, lingkungan yang bersih menjadi salah satu faktor pendukung kesehatan masyarakat, termasuk dalam upaya pencegahan stunting.

“Bagaimana mencegah lingkungan supaya tidak kotor, bagaimana warga bisa membuat lingkungannya tetap bersih dengan cara memilah sampah,” ujar Nuke. Ia mengatakan, kader PKK dan Posyandu memiliki peran penting karena mereka berinteraksi langsung dengan masyarakat.

Melalui kader tersebut, edukasi mengenai pemilahan dan pengolahan sampah diharapkan dapat diteruskan hingga tingkat keluarga dan lingkungan tempat tinggal. Nuke menambahkan, Kelurahan Warudoyong saat ini sudah memiliki bank sampah unit di RW 1 yang telah aktif.

“Alhamdulillah untuk Kelurahan Warudoyong, di RW 1 sudah mulai punya bank sampah unit. Sudah aktif,” katanya. Ke depan, pihaknya menargetkan keberadaan bank sampah unit dapat diperluas ke seluruh RW di Kelurahan Warudoyong.

Selain mengurangi sampah yang dibuang ke TPA, program tersebut diharapkan dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat. “Bisa nabung walaupun sedikit, tetapi kita punya uang tabungan, ada penghasilan tambahan dari pengelolaan sampah ini,” ujar Nuke.

Pelatihan tersebut menggandeng akademisi sebagai narasumber untuk memberikan pemahaman mengenai teknik pengolahan sampah. Nuke berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada pelatihan, tetapi mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.

<span;>“Mindset-nya berubah. Bagaimana pengelolaan sampah ini menunjang kehidupan kita sehari-hari, untuk kesehatan dan perekonomian,” kata dia. Dengan melibatkan kader PKK dan Posyandu, edukasi diharapkan dapat menjangkau lebih banyak keluarga sehingga kebiasaan memilah sampah dapat dimulai dari rumah.