Oleh : Wawan Juanda, SH
(Ketua DPRD Kota Sukabumi)
Hari ini, 1 Mei 2026, kita kembali memperingati Hari Buruh Internasional. Sebagai Ketua DPRD Kota Sukabumi, saya memandang momentum ini bukan sekadar rutinitas seremoni atau perayaan di jalanan. May Day adalah saat yang tepat bagi kita semua—pemerintah, pengusaha, dan legislatif—untuk melakukan refleksi mendalam: Sudahkah kita memberikan perlindungan yang layak bagi pahlawan ekonomi kita?
Kota Sukabumi tumbuh dan bergerak karena denyut nadi para buruh. Namun, bicara soal kesejahteraan buruh tidak hanya terbatas pada angka Upah Minimum Kota (UMK). Kesejahteraan sejati adalah ketika seorang pekerja berangkat dari rumah dengan doa, dan mendapatkan kepastian bahwa ia akan pulang ke rumah dengan selamat. Kita harus menyadari bahwa buruh adalah fondasi utama yang menjaga stabilitas ekonomi daerah. Di balik setiap produk yang keluar dari pabrik-pabrik di Sukabumi, di balik setiap layanan jasa yang kita nikmati, ada keringat dan dedikasi yang luar biasa.
Oleh karena itu, memuliakan buruh berarti memberikan rasa aman yang menyeluruh—aman secara finansial melalui upah yang layak, aman secara sosial melalui jaminan kesehatan, dan yang paling krusial: aman secara fisik dalam setiap aktivitasnya, termasuk saat bermobilisasi menuju tempat kerja.
Bagi kami di legislatif, perjuangan buruh adalah perjuangan memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak mengabaikan aspek kemanusiaan. Tidak boleh ada satu pun kebijakan yang menempatkan efisiensi di atas nyawa manusia. Kesejahteraan buruh adalah investasi, bukan beban biaya produksi. Ketika hak-hak dasar mereka terpenuhi, maka produktivitas dan harmoni sosial di kota kita akan terjaga.
Lebih dari itu, kita juga harus bicara tentang peningkatan kualitas hidup secara utuh. Buruh yang sejahtera bukan hanya mereka yang mampu mencukupi kebutuhan pokok, tetapi mereka yang memiliki waktu berkualitas bersama keluarga, akses pendidikan yang baik bagi anak-anaknya, serta lingkungan kerja yang sehat bagi fisik maupun mentalnya.
Inilah yang kami sebut sebagai ekosistem kerja yang bermartabat. Di Kota Sukabumi, kita ingin memastikan bahwa hubungan industrial yang terbangun adalah hubungan yang saling memanusiakan, bukan sekadar hubungan transaksional antara pemberi kerja dan penerima upah.
Dalam hal ini, pemerintah daerah tidak boleh absen. Kebijakan publik harus hadir sebagai payung pelindung, bukan sekadar stempel administratif. Tugas kita adalah memastikan bahwa setiap regulasi yang lahir memiliki ruh keberpihakan pada keselamatan jiwa. Sebab, tidak ada kemajuan ekonomi yang sebanding jika harus dibayar dengan air mata keluarga yang menunggu di rumah.
Oleh karena itu, di hari yang bersejarah ini, saya mengajak seluruh elemen di Kota Sukabumi untuk memperbarui komitmen kita. Mari kita jadikan momentum 1 Mei ini sebagai titik tolak untuk memperkuat dialog yang jujur dan konstruktif. Kota yang maju bukanlah kota yang hanya memamerkan kemegahan fisik, melainkan kota yang mampu memuliakan mereka yang bekerja di balik layar—mereka yang menjaga roda ekonomi tetap berputar di setiap sudut pabrik dan unit usaha kita.
Sebagai penutup, selamat Hari Buruh Internasional 2026 untuk seluruh pekerja di Kota Sukabumi. Teruslah berkarya dengan bangga, namun tetaplah menuntut hak dan keselamatan dengan kepala tegak. Terima kasih atas dedikasi yang tak terhingga bagi kota ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan perlindungan, kesehatan, dan keberkahan dalam setiap tetes keringat yang kalian curahkan untuk keluarga dan bangsa.
Buruh Sejahtera, Sukabumi Berjaya!











