Kabar  

Nelayan Sukabumi tak Melaut, Ini Penyebabnya

Sujumlah perahu nelayan bersandar di dermaga, Kamis (17/6)

KABARINDAH.COMDalam beberapa hari terakhir sebagian besar nelayan di selatan Kabupaten Sukabumi memilih tidak melaut. Kondisi tersebut membuat tangkapan ikan menurun antara 70-80 persen.

Penyebabnya dikarenakan gelombang tinggi di perairan selatan Sukabumi. Bahkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini akan gelombang tinggi hingga 6 meter di sejumlah perairan Indonesia mulai 15-16 Juni 2021. Gelombang yang sangat tinggi kisaran 4,0-6,0 meter berpeluang terjadi di Samudra Hindia barat Lampung, Samudra Hindia selatan Banten-Jawa Timur.

“ Gelombang masih tinggi, nelayan kebanyakan tidak melaut,” ujar Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Sukabumi Abdul Kodir, Kamis (17/6). Misalnya dari pantauan pada Sabtu (12/6) dan Minggu (13/6) kemarin di Surade dan Ujunggenteng hasil tangkapan ikan sangat sedikit.

Baca Juga:  Peringatan HANI, Kabupaten Sukabumi Siap Perangi Narkoba

Hal ini disebabkan karena para nelayan lebih banyak menyandarkan perahunya di dermaga. Potensi gelombang tinggi ini terjadi di beberapa wilayah dapat berisiko terhadap keselamatan pelayaran.

Sehingga BMKG selalu mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, terutama bagi nelayan yang beraktivitas dengan moda transportasi seperti perahu nelayan. Kodir menjelaskan, sebagian besar nelayan memilih tidak melaut karena bila dipaksakan maka hasil yang diperoleh tidak akan maksimal.

Selain itu ungkap Kodir, kondisi gelombang tinggi dan angin kencang dikhawatirkan mengancam keselamatan nelayan untuk melaut. Apalagi, alat tangkap nelayan di wilayah ini kebanyakan masih relatif tradisional.

Sehingga akibatnya nelayan harus berhati-hati ketika melaut atau mencari ikan di tengah lautan dalam kondisi cuaca buruk. Alternatif lain biasanya nelayan Sukabumi terpaksa andon atau mencari ikan di perairan daerah lain.

Baca Juga:  Majukan Ekonomi Kreatif, Kalangan Kampus dan Praktisi di Sukabumi Berkolaborasi

Misalnya di wilayah Jawa Timur seperti Kecamatan Pacitan dan Trenggalek. Selain itu ada sebagian nelayan lainnya yang mencari ikan di perairan Cilacap, Jawa Tengah. “Para nelayan itu mayoritas adalah nelayan tradisional yang rata-rata menggunakan perahu di bawah 5 gross tonnage (GT),” tambah Kodir.

Mereka datang ke daerah lain ada yang melalui jalur laut maupun melalui jalan darat. Banyaknya nelayan tidak berdampak pada pasokan ikan.

Pada kondisi normal kata Kodir, hasil tangkapan ikan mencapai 9 ribu ton per bulan. Jenis ikan yang menjadi andalan nelayan Sukabumi kata Kodir seperti cakalang, layur, tongkol dan ikan kakap

Lebih lanjut Kodir menerangkan, ketersediaan ikan ditempat pelelangan ikan (TPI) masih mencukupi kebutuhan warga maupun pelaku usaha baik hotel maupun restoran di selatan Sukabumi. Keadaan ini disebabkan pasokan ikan juga didatangkan dari daerah lainnya.

Baca Juga:  Jalur Kereta Api Bogor-Sukabumi, Target Rampung 2022. Semoga Warga Semakin Produktif!

“ Ketersediaan ikan belum terpengaruh dengan turunnya hasil tangkapan ikan,” kata Kodir. Harapannya hasil tangkapan ikan kembali normal dalam beberapa pekan ke depan.