Mendidik Akhlak Remaja di Era Disrupsi

  • Bagikan

Oleh Mia Sari Novianti, MPd
(Alumnus Magister STAI Sukabumi)

Disrupsi dapat diartikan sebagai sebuah hal yang tercabut dari akarnya. Disrupsi adalah sebuah masa terjadi perubahan yang cepat dan besar penuh inovasi yang mengubah sistem dan cara-cara yang terbaru (update).

Kecanggihan teknologi membawa perubahan besar pada sektor Pendidikan. Era disrupsi merupakan sebuah istilah yang mengacu pada dampak dari dunia digital. Era ini menganut prinsip simpler, faster, cheaper, dan accessible yang sangat menguntungkan.

Salah satu contoh remaja zaman dahulu, masih dikenal dengan adanya sahabat pena, filateli, belajar dengan menggunakan teknik menulis di file binder, buku LKS, peminjaman dan pengembalian buku perpustakaan secara manual. Akan tetapi remaja sekarang telah mengalami perubahan itu semua dengan teknologi, salah satunya pembelajaran dengan sistem online, perpustakaan menggunakan e-journal, grup whatsapp, classroom, sekolahan.id, pembelajaran jarak jauh, homeschool, webinar, dan sebagainya.

Oleh karena itu, pendidikan sekraang harus dipahami dengan benar oleh seluruh komponen pendidikan terutama guru. Seorang guru dituntut untuk pandai dan melek teknologi, supaya dapat mengimbangi dengan anak di zaman modern ini.

Terlepas dari itu, guru bukanlah mesin, pasti ada lelahnya. Untuk itu, guru tidak hanya transfer of knowledge saja tetapi disertai transfer of value. Nilai-nilai akhlaklah yang paling penting ditanamkan pada masa disrupsi ini. Tentu agar anak remaja dapat menguasai pengetahuan dan teknologi, juga berakhlak mulia.

Di era disrupsi ini, remaja dituntut untuk lebih mandiri dalam kegiatan belajarnya. Menurut Nasrudin dalam bukunya yang berjudul “Psikologi Pendidikan Anak” (2017:48), kemandirian mengandung pengertian: (1) memiliki suatu penghayatan/semangat untuk menjadi lebih baik dan percaya diri; (2) mengelola pikiran untuk menelaah masalah danmengambil keputusan untuk bertindak; (3) disiplin dan tanggung jawab; (4) tidak bergantung pada orang lain.

Remaja merupakan fase transformasi antara fase anak-anak dan fase dewasa. Periode remaja merupakan tahap perkembangan yang memperantarai dunia anak-anak dengan dunia orang dewasa. Periode remaja bisa dipersepsikan melalui tiga pengelompokkan utama, yakni:

1. Berdasarkan hitungan kronologis; terhitung sejak rata-rata usia 12/13 tahun sampai sekitar 20/21 tahun
2. Berdasarkan aspek psikologis; periode ttansformasi dari kanak-kanak menuju kedewasaan
3. Berdasarkan aspek sosiologis; periode peralihan dari satu kebiasaan dalam lingkungan sosial tertentu ke kebiasaan baru di lingkungan baru.

Remaja lebih dekat kepada fitrah dan selalu bersemangat untuk mengikuti kebenaran. Mereka adalah calon pemimpin di masa yang akan dating. Untuk itu, para guru mengarahkan perhatian kepada remaja, mengingat musuh-musuh Islam selalu menyebarkan penyakit pemikiran-pemikiran dan berbagai penyimpangan peradaban dengan sangat cepat di era disrupsi ini.

Penting adanya kerja sama antara pihak sekolah dengan orang tua, agar Pendidikan anak lebih maksimal. Terdapat cara-cara yang dapat di tempuh agar anak remaja selamat, tumbuh dengan ruhani, akal, jiwa maupun fisik yang sehat lahir dan bathin.

1. Tanamkan anak untuk selalu bangun pagi sebelum Subuh.

2. Membiasakan anak untuk selalu sholat ke masjid, khusus untuk anak laki-laki. Biasakan untuk shalat tepat waktu.

3. Menghafal Al Quran, selalu mengisi lembar mutabaah sebagai ibadah harian anak, dan target hafalan meskipun satu hari satu ayat. Bentuk kelompok-kelompok masjid atau kelompok menghafal quran sehingga anak tetap berada di lingkungan yang baik.

4. Cermat dalam memilih media digital, yang dapat mendukung dan mendekatkan diri pada Pendidikan Islam

5. Membaca sejarah pemuda Islam guna mencari sosok pemuda Islam yang tangguh, agamis, dan kuat.

 

 

 

 

 

 

  • Bagikan