Komunikasi Positif untuk Tumbuh-Kembang Mental Anak di Masa Depan

  • Bagikan

Muhjah Shofwatun Nisa, Alumnus PIAUD IAIN Syekh Nurjati Cirebon

KABARINDAH.COM – Setiap orang tua pasti mencintai anaknya. Namun tidak semua orang tua mampu mengekspresikan perasaan cinta dan kasih sayangnya melalui kata-kata.

Mereka menganggap bahwa komunikasi verbal untuk mengekspresikan cinta dan kasih sayang dengan kata-kata dianggap tidak penting, yang penting adalah bukti dari kata-kata tersebut.

Padahal komunikasi verbal juga sama pentingnya dengan komunikasi non verbal. Sebab anak-anak tidak hanya membutuhkan cinta dan kasih sayang yang diekspresikan ke dalam tindakan saja.

Anak- anak tetap membutuhkan perhatian dengan sentuhan-sentuhan yang sifatnya lisan melalui perkataan oleh kedua orang tuanya.

Ucapan tersebut dapat memenuhi kebutuhan psikologisnya. Dengannya, seorang anak akan memiliki pandangan positif atas dirinya sendiri dan kedua orang tuanya.

Baca Juga:  Hadirkan Perumahan Dosen, UIN Bandung Lakukan MoU dengan BTN

Karena itu, orang tua perlu memahami perasaan anak dengan tidak melakukan upaya intimidatif, yang berarti tindakan menakut-nakuti, mengancam atau menggertak.

Tindakan tersebut sama saja dengan melecehkan emosi anak. Salah satu contohnya adalah ketika orang tua melihat anaknya sedang menangis, lalu orang tua langsung berkata “sudah jangan nangis, kalo masi gak mau diem, bunda tinggal nih”.

Ucapan tersebut merupakan salah satu bentuk pelecehan emosi terhadap anak. Orang tua menggertak anak supaya berhenti menangis, menakut-nakuti dan mengancam akan meninggalkan anaknya.

Padahal di dalam hati orang tua tidak mungkin meninggalkan anak kesayangannya apalagi dalam keadaan menangis. Dampak dari perbuatan demikian membuat anak mengalami kesulitan dalam mengenal perasaannya, akibatnya mereka sulit menghargai orang lain.

Baca Juga:  Ciptakan Kualitas SDM Panti Asuhan, Pemkot Makassar Gelar Pelatihan Panti Cerdas

Karena itu, alangkah baiknya bila orang tua menghargai perasaan anak terlebih dahulu dengan cara bertanya tentang apa yang sedang dirasakannya; kenapa anak tersebut menangis.

“Adek kenapa? Kok menangis, lagi sedih? coba cerita sama bunda.”

Lalu dengarkan dengan baik jawaban anak sambil memeluk dan menatap matanya. Tindakan dan ucapan tersebut membuat anak merasa lebih dihargai oleh orang tuanya. Dia pun mampu mengenal dan menerima perasaannya. Dengan begitu, dia akan belajar menghargai perasaan orang lain.

Maka perlulah orang tua dapat berkomunikasi verbal dengan cara yang baik terhadap anak. Membiasakan untuk berkomunikasi secara positif kepada anak-anak dapat membentuk mental yang positif pula dalam dri mereka. Berikut ini, 6 contoh komunikasi positif tersebut:

Baca Juga:  Hadirkan Perumahan Dosen, UIN Bandung Lakukan MoU dengan BTN

1. Ayah dan Bunda menyayangimu nak…
2. Ayah dan Bunda bangga padamu nak…
3. Terimakasih ya hari ini sudah mau membantu Bunda..
4. Maaf ya nak, Bunda sudah membuatmu kesal ya..
5. Bagaimana perasaanmu hari ini nak? Sini cerita sama Bunda…
6. Ayah dan Bunda kangen banget sama kamu nak…
7. Dan kalimat-kalimat positif lainnya.

  • Bagikan