Ibrah  

Ketentuan Al-Quran tentang Ibu Menyusui Bayi

Happy muslim mother holding adorable little baby daughter wearing hijab in her arms on white bed in bedroom. Arab young mom wearing a head scarf, and she's sitting on the bed while holding her baby.

KABARINDAH.COM — Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 233 merupakan bagian dari rangkaian pembicaraan tentang hukum keluarga.

Setelah menjelaskan hal yang terkait dengan persoalan suami-istri, berupa perkawinan perceraian, idah, rujuk, dan wali nikah, pada ayat ini pembicaraan dilanjutkan tentang anak yang dilahirkan dari hubungan suami-istri itu.

Demikian penjelasan Divisi Tafsir Al-Quran Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Nur Kholis dalam kajian yang diselenggarakan Masjid Islamic Center pada Selasa (24/01/2023).

Dilihat dari sisi ini, ujar Nur Kholis, ayat ini berbicara tentang wanita yang ditalak dan memiliki bayi yang harus disusuinya yang mungkin saja terabaikan hak menyusunya sebagai akibat dari perceraian orang tuanya.

Oleh karena itu, pada ayat ini Allah mewasiatkan kepada para ibu agar menyusukan anak-anaknya. Lama masa menyusui itu 2 tahun jika kedua orang tua sepakat untuk menyempurnakan penyusuan.

Allah memerintahkan kepada para ayah untuk memenuhi kebutuhan ibu selama masa menyusui itu, seperti makanan dan pakaiannya, sesuai dengan kemampuannya agar proses penyusuan berjalan dengan baik. Allah juga mengingatkan kepada kedua orang tua agar menjalankan tugas masing-masing dengan sebaik-baiknya.

Baca Juga:  Muslimah, Gaya Hidup, dan Ketaatan Pada Aturan Allah

“Misalnya, seorang suami melarang istrinya untuk menyusui anaknya atau tidak memberikan biaya yang cukup. Begitu pula sebaliknya, istri tidak mau menyusui anaknya, atau meminta biaya lebih dari kemampuan seorang suami,” terang Nur Kholis.

QS Al-Baqarah ayat 233 ini dan ayat yang sebelumnya memberikan bimbingan kepada suami-istri bagaimana cara membangun relasi yang baik, mu’asyarah bil ma’ruf di antara mereka dalam kehidupan rumah tangga. Andaikata terjadi perceraian, hal itu harus dilakukan dengan baik.

Kemudian hendaknya keduanya mendidik anak-anak dan memenuhi kebutuhan mereka dengan bekerja sama, tolong menolong, dan musyawarah demi kemaslahatan anak walaupun perkawinan telah putus.

Pada ayat 233 ini, Allah memberikan perintah dengan menggunakan redaksi berita untuk memberikan penekanan yang kuat kepada para ibu agar menyusukan anak mereka.

Baca Juga:  Ingatlah 7 Adab Buang Air Kecil dan Besar dalam Islam Ini

Perintah ini kalau dikaitkan dengan pentingnya air susu ibu bagi kelangsungan hidup seorang bayi seperti dikemukakan oleh para ahli, merupakan sesuatu yang sangat penting dan perlu diperhatikan oleh para orang tua.

“Diwajibkan kepada para ibu, baik masih berstatus sebagai istri maupun sudah ditalak untuk menyusukan anak-anak mereka selama 2 tahun penuh, apabila ingin menyempurnakan penyusuan. Durasi 2 tahun itu bukan harga mati, boleh saja kurang dari itu, apabila kedua orang tua memandang adanya kemaslahatan. Hal itu diserahkan kepada hasil musyawarah dan kesepakatan mereka berdua,” terang Nur Kholis.

Penyusuan selama 2 tahun, walaupun tidak diwajibkan, tetapi karena dikaitkan oleh Allah dengan firman-Nya, “Bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan”, itu mengindikasikan bahwa menyempurnakan penyusuan sampai 2 tahun itu sangat ditekankan.

Masa 2 tahun ini juga menjadi patokan untuk menyelesaikan perselisihan jika terjadi perbedaan pendapat antara ayah dan ibu. Di samping itu, untuk menegaskan bahwa penyusuan sesudah 2 tahun tidak mempunyai dampak hukum, seperti kewajiban belanja dari ayah karena penyusuan dan terjadinya hubungan kekerabatan karena penyusuan.

Baca Juga:  Menghafal Al-Qur'an Itu Mudah

Kalau ayat ini dihubungkan dengan QS Al-Ahqaf (46) ayat 15 yang menyatakan bahwa masa kehamilan dan menyusui itu adalah 30 bulan, masa menyusui 2 tahun (24 bulan) itu hanya bagi janin yang berada dalam kandungan ibunya selama 6 bulan.

Kalau bayi dikandung 8 bulan, masa menyusuinya adalah 22 bulan. Kalau kelahiran janin setelah kehamilan 9 bulan, masa menyusuinya hanya selama 21 bulan.

“Inilah pendapat yang diterima dari riwayat Ibnu Abbas. Sementara itu jumhur mufasir berpendapat bahwa menyusui selama 2 tahun itu adalah hak setiap anak (bayi), tanpa mempertimbangkan lamanya di dalam kandungan,” pungkas Nur Kholis.***

Sumber: muhammadiyah.or.id