Pojok  

Kegagalan, Skenario Tuhan, dan Hikmah di Baliknya

Oleh Orchita Maulira | Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI).

Gagal? Pasti sedih ya! Kalau kita sudah berusaha keras, tapi bukan keberhasilan yang diraih, melainkan kegagalan. Kesal. Kecewa dengan diri sendiri, rasanya semua pikiran negatif menyelimuti pikiran saya saat itu.

Kegagalan yang paling saya ingat adalah ketika tak lolos ujian masuk perguruan tinggi negeri. Waktu itu, saya masih bekerja di sebuah restoran fast food di bilangan Raden Saleh, Jakarta Pusat. Meski telah kerja, namun semangat saya untuk kuliah begitu membuncah di dalam dada.

Saya selalu teringat dan terngiang nasihat ibu, “Orang berilmu yang punya gelar itu lebih mudah mendapat pekerjaan dengan upah yang lumayan, dibanding lulusan SMK. Kamu juga bisa dapat ilmu yang mungkin nggak kamu temuin pas sekolah.”

Kata-kata ibu itulah yang memompa semangat saya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi. Saya begitu semangat belajar, membeli buku–buku soal SBM, mengikuti pelatihan yang tersedia online dan membawa beberapa buku latihan soal.

Baca Juga:  Zaman Susah, Nasib UKM, dan Solusi dari Kampus

Di sela-sela jam istirahat kerja, saya semangat belajar dengan mencoba berbagai latihan soal. Semangat saya untuk kuliah makin menyala, apalagi kakak senior di tempat kerja sering menceritakan keseruan dan keasyikan saat kuliah. Itu kian menambah semangat saya.

Hari demi hari berlalu. Dengan kepercayaan diri, saya akhirnya mengikuti tes SBMPTN. Tak hanya itu, saya bahkan juga mengikuti tes mandiri seperti PENMABA UNJ dan, UTUL UGM yang mengharuskan saya untuk berangkat ke Jogja karena kuota di Jakarta telah habis.

Namun, hal yang saya dapat adalah kata GAGAL dalam semua tes yang diikuti.

Sedih? Iya. Kecewa? Banget.

Saat itu, saya sangat kecewa. Saya juga iri dengan teman–teman saya yang memajang foto saat berada di kampus impiannya di Instagram. Sedangkan saya, pada saat itu tidak bisa. Dan hanya berstatus sebagai pegawai restoran yang bahkan gajinya saja di bawah UMR.

Baca Juga:  Pandemi, Lost Civilization, dan Nasib Generasi Penerus Kita

Jujur. Saya bahkan dulu sempat kesal dengan Tuhan. Mengapa saya sudah berjuang tapi tidak mendapat hal yang saya inginkan? Kenapa teman–teman yang saat Sekolah Menengah nilai raportnya lebih rendah dari saya malah bisa mendapat PTN?

Semangat saya untuk studi di perguruan tinggi tak pernah mati. Dan akhirnya, pilihan saya jatuh pada Universitas BSI. Saya mendengar bahwa kampus tersebut baru membuka program S-1 dan biayanya juga lebih murah dibanding kampus yang lain. Salah satu faktor kenapa saya ingin kuliah di PTN juga karena faktor biaya.

Butuh waktu dua tahun untuk saya menyadari bahwa Tuhan memang tidak memberi yang saya mau. Tapi Dia memberikan hal lain yang lebih saya butuhkan daripada kata LOLOS PTN.

Tuhan Mahatahu yang terbaik bagi hambanya. Selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Apa yang kita sangka baik, belum tentu menurut Tuhan. Namun, skenario Tuhan pastilah selalu yang terbaik bagi hambanya.

Baca Juga:  Media Perang Vs Media Damai

Kalau saya diterima PTN, mungkin saja saya akan keluar dari tempat kerja. Lalu merantau dan pastinya harus hidup berjauhan dengan keluarga.

Tapi karena gagal masuk PTN, saya masih bekerja di resto Fast food tersebut. Bahkan pangkat saya juga naik. Dari Crew biasa, kini saya menjadi seorang Guest Experience Leader.

Saya juga bisa membiayai kuliah dengan hasil keringat sendiri. Tak memberatkan orang tua dan bahkan bisa sedikit membantu keuangan keluarga. Di Kampus BSI, saya bertemu dengan teman–teman yang sangat baik.

Bahkan, berkesempatan menulis artikel ini dan membagikan pengalaman.

Maaf. Saya menyesal pernah kesal pada Tuhan karena nyatanya Dia memberikan hal yang lebih baik.

Percayalah, selalu ada rencana Tuhan yang indah di balik semua kegagalan. Yakinlah, Anda hanya perlu melangkah untuk mewujudkan semua impian.