KABARINDAH.COM, Sukabumi–Dampak kebakaran yang melanda Kampung Adat Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, tidak hanya menghanguskan puluhan rumah warga. Tetapi juga merusak sejumlah bangunan adat yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat kasepuhan.
Berdasarkan laporan sementara Pos Satuan Komando Penanganan Darurat Bencana (SKPDB) BPBD Kabupaten Sukabumi hingga Selasa (28/7/2026) pukul 17.00 WIB, sebanyak 51 rumah mengalami rusak berat. Selain itu, berbagai fasilitas umum dan bangunan adat turut terdampak, di antaranya 49 leuit (lumbung padi), Ajeng Kasepuhan, Balai Pertemuan Kasepuhan, dua lisung, Pangkemintan, Saung Angklung Buhun, galeri kasepuhan, pos panitia, dua unit MCK, enam warung, satu pos ronda, serta sebuah masjid, PAUD, dan Posyandu.
Kerusakan tersebut menjadi pukulan berat bagi masyarakat adat karena sejumlah bangunan yang terdampak memiliki nilai budaya dan berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial, adat, hingga penyimpanan hasil panen.
Data BPBD mencatat sebanyak 52 kepala keluarga atau 160 jiwa terdampak bencana. Rinciannya, 25 kepala keluarga dengan 78 jiwa berasal dari RT 05 dan 27 kepala keluarga dengan 82 jiwa dari RT 07. Di antara penyintas terdapat dua ibu hamil dan enam ibu menyusui yang menjadi kelompok rentan.
Seluruh warga terdampak masih mengungsi. Sebanyak 12 kepala keluarga atau 35 jiwa menempati tenda pengungsian terpusat, sedangkan 40 kepala keluarga atau 125 jiwa tinggal sementara di rumah kerabat. BPBD Kabupaten Sukabumi bersama BPBD Provinsi Jawa Barat, aparat desa, relawan, dan instansi terkait terus melakukan penanganan darurat.
Upaya yang dilakukan meliputi asesmen kerusakan, pendataan korban, pembukaan posko tanggap darurat, serta rapat koordinasi lintas sektor. Hasil rapat menetapkan kawasan terdampak di Kampung Ciptamulya RT 05 dan RT 07 RW 02, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, sebagai wilayah tanggap darurat.
Penanganan difokuskan pada penyelamatan korban, pemenuhan kebutuhan dasar, pelayanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan, serta pemulihan sarana dan prasarana yang rusak.
BPBD juga mengidentifikasi sejumlah kebutuhan mendesak bagi para penyintas, antara lain makanan siap saji, dukungan dapur umum, perlengkapan bayi, susu, obat-obatan dan P3K, popok bayi maupun dewasa, selimut, kasur matras, perlengkapan mandi, kebutuhan ibu hamil dan menyusui, layanan pemeriksaan kesehatan, perlengkapan sekolah, peralatan memasak, serta alas kaki.











